Be Mine

Be Mine
Inikah Rasanya



Mega tampak bahagia dinyatakan sebagai pemenang dalam lomba acara dansa itu. Dia tidak menginginkan hadiahnya, tapi gelar pasangan dansa terbaik, walaupun dengan Elang.


"Kiara, aku mau memberikan hadiah motor itu buat kamu."


"Apa? Ta-tapi itu hadiah kemenangan kamu."


"Tidak apa-apa, lagi pula untuk apa aku mendapat hadiah motor itu, sedangkan nanti aku kampus diantar mobil, aku juga tidak bisa naik motor."


"Tapi itu juga hadiah milik Elang."


"Elang pasti setuju kalau motor itu untuk kamu. Bukannya motor kamu rusak dan kamu bisa menggunakan motor baru ini."


"Iya, Kiara, aku sendiri tidak keberatan akan hal ini. Motor itu buat kamu."


"Tapi aku tidak bisa menerimanya, lagi pula motorku sudah diperbaiki."


Tangan wanita cantik bernama Kella itu menepuk pundak Mega dan tentu saja Mega langsung melihat ke arah mamanya Elang.


"Tante?"


"Sayang, motor itu tidak perlu kamu sumbangkan kepada sahabatmu ini." Kedua mata Kella menatap sinis pada Kiara yang ada di depannya.


"Tapi itu bukan sumbangan, Tante. Aku dan Elang memang sepakat untuk memberikan pada Kiara agar bisa dia gunakan nanti saat kita masuk kuliah sama-sama."


"Kuliah?Apa kamu yakin jika Kiara akan masuk kuliah setelah lulus sekolah?"


Itu sebenarnya bukan pertanyaan, tapi menghina secara halus.


"Mama!" Elang tampak tidak suka dengan ucapannya mamanya.


"Mama cuma bertanya, Lang. Mega, motor itu tidak perlu kamu sumbangkan pada Kiara karena nantinya, motor itu akan diletakkan di dalam rumah kalian sebagai kenangan jika kalian pernah menjadi pasangan dansa terbaik."


"Maksud Tante apa?"


"Mohon perhatiannya sebentar."


Tiba-tiba mamanya Mega mengambil alih mix untuk berbicara di depan semua orang yang ada di sana.a


"Selamat malam semua. Perkenalkan, aku Alexa, mama dari Mega. Di sini aku ingin membagi kebahagiaan dengan kalian semua, selain aku bahagia putriku hari ini berulang tahun, ada satu kebahagiaan yang ingin aku sampaikan pada teman-teman baik Mega dan juga orang-orang di sini yang mengenal baik keluarga Lucas.


"Mama ini mau apa sih?" tanya Mega heran.


"Aku ingin memberitahukan bahwa tiga bulan lagi, aku akan menyelenggarakan pesta yang sangat besar dan Megah karena itu adalah acara yang sangat-sangat spesial untuk putri cantikku-Mega."


"Kiara, kenapa perasaanku tidak enak begini?"


"Tidak enak bagaimana? Memangnya kamu benar-benar tidak tau apa yang mamamu ingin katakan di acara ulang tahunmu ini?" Mega menggeleng pelan.


"Putriku akan segera bertunangan dengan pria yang tampan, sangat baik dan yang pasti dia berasal dari keluarga berada dan terhormat."


"Bertunangan?" Mega melihat tidak percaya pada Kiara. Kiara juga terkejut seperti Mega.


"Aku dan sahabatku memutuskan akan menjodohkan anak kami. Elang akan menjadi bagian dari keluarga Lucas karena dia akan bertunangan dengan Mega."


"Hah? Apa?" Elang dan Mega kaget berjamaah. Mereka kemudian saling melihat satu sama lain.


Kiara yang berdiri di sana tampak mematung. Dia benar-benar tidak menyangka jika Elang akan bertunangan dengan sahabatnya sendiri.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Ma, kenapa kalian mengambil keputusan tidak memberitahuku lebih dulu?" Elang langsung bertanya pada Mamanya.


"Lang, mama tidak perlu berbicara sama kamu karena mama sudah mengetahui apa yang terbaik buat kamu."


"Tapi, Ma--."


***


Gio duduk sembari melihat ke arah sahabatnya yang sedang termenung di kamar hotelnya.


Ya! Gio tadi saat nama Kiara dan Arthur dipanggil, tapi Arthur tidak tampak di sana, membuat Gio langsung menghubungi Arthur dan sahabatnya itu mengatakan di mana dia berada.


Arthur sengaja pergi untuk menenangkan dirinya di kamar hotel yang mamanya memang sudah siapkan khusus untuk keluarganya.


"Kenapa kamu malah memilih di sini? Tadi aku mendengar nama kamu dipanggil sebagai pemenang lomba dansa terburuk bersama Kiara."


"Aku tidak peduli, dan bahkan Kiara mungkin juga tidak peduli." Arthur meneguk dengan cepat red wine di dalam gelasnya.


"Tau dari mana kalau Kiara tidak peduli?" tanya Gio santai sembari juga meneguk red winenya sampai habis.


"Dia seharusnya berpasangan dengan Elang di acar dansa itu dan mereka memenangkan lombanya."


"Apa yang sebenarnya terjadi, Arthur?"


"Mereka masih saling mencintai Gio. Kiara pun masih belum bisa meluapkan Elang. Mereka berpelukan sangat mesra dan aku dengan bodohnya masih berharap pernikahan aku dan Kiara akan bisa dipertahankan."


"Kadang, apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataan yang ada. Tadi, sebenarnya Kiara tidak mau pergi dengan Elang, tapi mungkin dia tidak mau Elang membuat masalah, jadi Kiara mau ikut dengannya."


"Kiara memang hanya ingin sementara untuk menghindarinya, tapi bukan untuk melupakan cintanya itu."


"Kamu sangat mencintai, Kiara ya?"


Arthur melirik datar pada sahabatnya. "Aku merasakan lagi apa itu sakit karena cinta, tapi entah kenapa kali ini lebih dan sangat menyakitkan?"


"Karena kamu dan Kiara sudah menjadi satu dan apa lagi kalian adalah suami istri."


"Aku tidak tau pasti, tapi apa yang aku rasakan pada Kiara sangat berbeda dengan yang aku rasakan saat bersama Selena."


"Aku tidak menyalahkan kamu dan Kiara karena semua itu berjalan tanpa ada yang mengatur. Arthur kita sebaiknya kembali ke pesta, kasihan istrimu sendirian di sana."


"Dia tidak membutuhkan aku karena ada Elang di sana."


Gio menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sahabatnya ini sedang cemburu dengan mantan kekasih istrinya.


Kiara yang di acara pesta berjalan mengelilingi tempat itu untuk mencari Arthur. Dia ingin mengajak Arthur untuk pulang karena saat ini perasaan Kiara terasa aneh.


"Dia ke mana? Ponselku juga baterainya habis." Kiara kembali berjalan celingukan sampai dia tidak sebagai menabrak seseorang.


"Maaf, Om, saya tidak sengaja."


Pria yang ditabrak oleh Kiara melihat Kiara dari atas sampai bawah. "Kamu teman sekolahnya putrinya Alan?"


"Iya, saya teman sekolahnya. Sekali lagi saya minta maaf."


Kiara yang hendak pergi malah dihadang oleh pria paruh baya seusia mendiang ayah Kiara. Pria dengan postur tinggi dan memiliki perut buncit itu melihat Kiara dengan mata berbinar. "Kamu cantik sekali dan masih sangat mudah. Perkenalkan namaku Jhon dan aku salah satu rekan bisnis dari keluarga Lucas."


Kiara melihati pria dengan tangan yang menjulur ke arahnya untuk mengajak berkenalan.


"Kenapa tidak menerima jabatan tanganku? Tidak sopan bersikap seperti itu."


"I-iya." Kiara perlahan mengulurkan tangannya menerima jabatan tangan pria tersebut.


"Kamu memang benar-benar cantik dan kulit kamu juga lembut."


Kiara dengan cepat menarik tangannya. "Saya permisi dulu, Om."


"Kamu mau ke mana? Kita belum berbicara banyak hal. Apa kamu suka dengan uang? Aku bisa memberimu banyak uang jika kamu mau," ucap pria itu.