Be Mine

Be Mine
Tamu Tak Terduga part 2



Kiara berjalan keluar dari apartemen Arthur dengan berderai air mata. Kiara tampak bingung sekarang harus ke mana? Tubuhnya yang semakin terasa tidak enak membuatnya memilih untuk duduk sejenak, perutnya pun terasa ingin sekali isinya dia keluarkan.


"Kenapa rasanya tidak enak sekali? Mas Arthur, kamu di mana?" Kiara tampak menangis. Kiara bingung sekali sekarang harus berbuat apa karena dia keluar dari apartemen Arthur tanpa membawa ponsel dan uang sepeserpun. Dia ingin pulang ke rumahnya yang dulu dan bertemu mba Tami, tapi jarak ke rumahnya dari dia berada juga lumayan jauh. Kalau jalan Kiara merasa tidak sanggup, apalagi keadaannya sedang sakit.


Kiara yang melihat sekelilingnya tampak bingung. Hingga akhirnya Kiara malah pingsan.


"Ma, apa Kak Arthur tidak akan marah nanti saat dia mengetahui kalau Kiara kita yang usir dari apartemennya?"


"Kamu tenang saja, Mega. Kakak kamu walaupun mengetahui hal ini, dia tidak akan berani marah dengan Mama karena bagi Arthur, mama ini sudah seperti ibu kandungnya sendiri dan Arthur akan mengerti jika maksud mama baik demi masa depannya. Gadis itu benar-benar tidak tau malu!"


"Aku sekarang juga sudah tau siapa Kiara, Ma. Dia bilang tidak mencintai Elang, tapi dia sebenarnya masih suka menggoda Elang. Aku pernah melihat ponsel Elang dan ada foto Kiara di sana." Mega ini benar-benar dibutakan oleh cinta.


"Mama dari awal sudah tidak suka sama dia setelah mengetahui kasus yang menimpa ayahnya."


"Aku juga tidak menyangka jika Kiara akan menjual dirinya pada Kak Arthur. Elang harus tau bagaimana kelakuan gadis yang dia cintai selama ini."


***


Jam makan siang, Arthur mencoba menghubungi Kiara, tapi panggilannya tidak ada jawaban sama sekali. Arthur pun tampak sedikit cemas sekarang.


"Apa dia tidur atau malah terjadi sesuatu dengannya?"


"Kamu kenapa?" tanya Gio yang sedang duduk makan siang di restoran. Arthur baru saja selesai meeting di sana dan Gio datang ke kantor Arthur setelah dari restoran milik mereka.


"Istriku sedang tidak enak badan di apartemen. Tadi mau aku panggilkan Elena untuk memeriksanya, tapi Kiara bilang dia hanya mau istirahat dan nanti pasti baikkan."


"Mungkin dia sedang tidur. Eh, atau jangan-jangan istrimu hamil."


"Apa? Hamil?" Arthur tampak terkejut.


"Iya, seperti Elena. Dia sedang hamil sekarang."


"Kamu serius? Elena hamil? Tapi kalian belum menikah dan kamu akan dijodohkan dengan wanita lain."


"Tentu saja aku tidak memperdulikan tentang perjodohan itu. Aku hanya akan menikahi ibu dari anakku."


"Kamu memang harus secepatnya menikahi Elena."


"Tentu saja, aku akan menikahi Elena di London karena dia ingin menikah di rumah ayahnya."


"Selamat ya, Sahabatku, aku tidak menyangka kamu akan menjadi seorang ayah. Jadilah ayah yang baik untuk anakmu."


Gio melihat wajah Arthur tampak sedih mengucapkan hal itu. "Kamu suatu hari nanti pasti juga akan menjadi seorang ayah. Lebih baik kamu sekarang pulang saja dan periksakan keadaan istrimu, siapa tau dia hamil."


"Kalau tidak, bagaimana?" ucap Arthur lirih.


"Jangan berkecil hati. Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan hadiah terindah untukmu dan Kiara dan itu akan diberikan jika waktunya sudah tiba." Tangan sang sahabat itu menepuk pundak sahabatnya beberapa kali.


"Jujur saja, aku ingin sekali memilik bayi kecil dengan Kiara. Pun dengan Kiara."


"Ayolah! Kalian berdua adalah pasangan yang tidak pernah berbuat buruk pada orang lain, dan aku yakin pasti Tuhan akan memberikan hal yang baik pada kalian berdua. Mau aku temani untuk periksa ke tempat Elena? Kebetulan aku juga mau menemuinya."


Arthur tampak berpikir sejenak, kemudian dia pun pulang ke apartemen ditemani oleh Gio.


Mobil Arthur sudah terparkir di basement. Arthur dan Gio dengan cepat menuju lantai apartemennya.


"Coba kamu cari ke kamar."


Arthur segera melangkah ke lantai atas kamarnya. Gio yang ada di ruang tamu memperhatikan ruang tamu Arthur yang sepertinya agak sedikit berantakan.


"Ini ponsel Kiara."


"Gio, istriku tidak ada di apartemen." Wajah Arthur seketika cemas.


"Ini ponsel Kiara. Aku akan berkeliling mencari di sekitar ruangan bawah, siapa tau dia ternyata pingsan di salah satu ruangan di sini."


Gio segera menyusuri dan membuka pintu setiap ruangan di sana. Arthur melihat pada ponsel Kiara, siapa saja yang menghubunginya.


"Mba Tami, dia pasti tau di mana Kiara." Arthur segera menghubungi Mba Tami.


"Halo, Kiara! Bagaimana? Apa sudah melakukan tes kehamilan?" cerocos mba Tami tanpa tau siapa yang menghubunginya.


"Tami, apa benar Kiara sedang hamil?"


"Mas Arthur? Kenapa Mas Arthur yang menghubungiku? Kiara mana?"


"Justru aku ingin bertanya padamu. Apa kamu tau di mana Kiara? Karena aku cari di apartemen dia tidak ada, padahal dia bilang jika tidak enak badan, dan ini dia meninggalkan ponselnya."


"Apa? Kiara tidak ada di apartemen? Tadi dia bicara denganku dan mengatakan jika dia belum datang bulan dan tadi dia muntah terus. Aku bilang mungkin saja dia hamil dan menyuruhnya membeli alat kehamilan, tapi karena dia merasakan tubuhnya yang benar-benar tidak enak, dia bilang mau langsung ke dokter saja bersama kamu."


"Oh God! Di mana Kiara?" Arthur sekarang benar-benar diliputi rasa cemas dan khawatir.


"Apa mungkin Kiara ke rumah sakit sendiri untuk memeriksakan apa dia hamil atau tidak? Mungkin dia ingin memberimu kejutan."


"Tapi kenapa ponselnya dia tinggalkan? Atau memang dia sengaja meninggalkannya?"


"Bisa jadi dia lupa membawanya Mas Arthur."


"Kiara ini ceroboh sekali, dia ingin memberiku kejutan, tapi keadaannya sedang tidak baik jika dia sendirian."


"Iya juga. Tadi saja dia bilang mau membeli tes kehamilan, tapi badannya tidak kuat untuk berdiri. Apa Kiara benaran ke rumah sakit? Mas Arthur, tadi sebelum aku dan Kiara mengakhiri panggilan, dia bilang jika ada tamu yang datang."


"Apa? Tamu? Tapi selama ini tidak ada yang tau aku dan Kiara tinggal di sini." Arthur bingung.


"Arthur, di sini ada CCTV, kan? Kenapa kamu tidak lihat saja siapa yang datang ke sini?"


"Benar juga apa yang kamu katakan. Kenapa aku tidak berpikiran sampai ke sana?"


"Kamu terlalu cemas pada Kiara."


Arthur mencari di mana tabletnya dan dia mengambilnya di dalam kamar. Arthur melihat pada tabletnya siapa yang datang ke apartemennya hari ini dan dia sangat terkejut mengetahui mamanya dan adik tirinya datang ke sana.


"Mama kamu?" Gio melihat kaget pada Arthur.


"Dari mana mamaku mengetahui aku dan Kiara tinggal di sini?"


Arthur meneruskan melihat video CCTVnya dan dia sekarang tampak marah melihat apa yang mamanya sudah lakukan pada istrinya.


"Oh God! Mama kamu benar-benar keterlaluan, Arthur." Gio pun ikut geram melihat video itu.