
Arthur tampak menggenggam erat tepi sofa yang dia duduki saat Kiara perlahan memakai pakaian dalamnya. Salah sendiri dia uji nyali tidak mau keluar dari ruang ganti.
Kiara sudah selesai memakai bajunya dan dia menoleh ke arah suaminya yang sekarang duduk dengan menatap dirinya. Kiara tidak tau jika tadi Arthur sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Mas tidak mau mandi, nanti terlambat ke kantor loh." Kiara mengikat rambutnya sembarangan.
Arthur bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat pada Kiara. Dia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Kiara.
"Kamu benar-benar sangat sadis menyiksaku," bisiknya lirih. Kemudian Arthur membuka pintu ruangan gantinya dan keluar dari sana. Kiara yang melihat sikapnya itu malah tampak bingung.
"Sadis dari mana? Kamu itu yang sudah sangat menyakitiku."
Kiara turun ke lantai bawah dan dia melihat sudah ada bibi Yaya di sana. Kiara melihat wajah Bibi Yaya yang tampak sedikit pucat.
"Bibi sakit?"
"Bibi hanya sedikit tidak enak badan."
"Bibi kalau sakit kenapa datang ke sini? Tapi kemarin Bibi baik-baik saja."
"Iya, tapi malam harinya Bibi tiba-tiba merasa tidak enak badan dan sudah minum obat."
"Bibi pasti kecapekan, nanti biar Mas Arthur panggilkan dokter untuk memeriksa Bibi Yaya."
Wanita paruh baya itu tersenyum manis pada Kiara. "Tidak apa-apa, aku mungkin hanya kecapekan dan nanti pulang dari sini pijit saja."
Kiara mengambil spatula dari tangan Bibi Yaya dan menyuruh wanita paruh baya itu duduk di kursi yang ada di pantry.
"Kiara, masakannya belum selesai."
"Nanti aku yang meneruskan, Bibi istirahat saja dan makan dulu, pasti Bibi belum makan pagi. Bibi itu sering sekali tidak mau kalau diajak makan pagi." Kiara menggantikan meneruskan masakan bibi Yaya.
"Kiara, biar Bibi saja."
"Bibi duduk saja dan tunggu Mas Arthur agar nanti dipanggilkan dokter."
"Kamu dan suamimu sudah baikkan?"
Kiara mengangguk sembari tangannya menggoreng ikan yang tadi digoreng bibi Yaya. "Aku sudah memaafkan dia, tapi aku memberinya hukuman agar tidak melakukan hal itu lagi."
"Hukuman?" Lihat Bibi Heran.
"Iya, aku memberinya hukuman yang tidak sulit untuk dijalani kok, Bi." Kiara tersenyum kecil.
"Memang tidak berat, tapi sangat menyiksa," sahut Arthur yang baru saja turun dari kamarnya.
"Menyiksa? Memang apa hukumannya?" Sekali lagi Bibi Yaya melihat penasaran.
Arthur dan Kiara saling melihat. Mereka merasa hukuman itu tidak perlu diberitahukan pada Bibi Yaya karena merasa tidak sopan saja.
"Mas Arthur terlalu berlebihan, Bi. Hukumanku biasa saja karena hanya melarang Mas Arthur tidak terlalu dekat denganku, itu saja," jelas Kiara mencari kata-kata yang tepat.
"Oh ... begitu, tapi lucu juga kalau tidak boleh terlalu dekat, padahal kalian suami istri."
"Ya tidak apa-apa, Bi, supaya Mas Arthur bisa sadar saja tidak lagi dekat dengan wanita lain."
"Kamu itu aneh, biasanya wanita kalau lagi hamil ingin disayang terus sama suaminya, tapi kamu malah memberi hukuman suamimu tidak boleh dekat."
Arthur duduk di sebelah Bibi Yaya. "Itu dia, Bi. Dia memang aneh, padahal aku ingin menyayangi dia terus, tapi dia malah begitu."
Kiara paham sayang yang dimaksud oleh suaminya. "Biar saja, Bi. Biar Mas Arthur tidak melakukan kesalahan yang sama."
"Huft!" Arthur hanya bisa menghela napasnya.
"Mas, aku sampai lupa. Mas, kamu panggilkan dokter untuk Bibi Yaya. Bibi Yaya sedang tidak enak badan."
Arthur yang akan memanggilkan dokter, tangannya ditahan oleh Bibi Yaya. "Tidak perlu, Bibi baik-baik saja dan hanya butuh istirahat saja."
"Bibi ini keras kepala sekali." Kiara terlihat kesal.
"Seperti istriku saja, Bi," celetuk Arthur dan dia langsung mendapat lirikan tajam dari Kiara.
"Kalian ini tidak perlu terlalu khawatir dengan Bibi. Ini bibi hanya butuh pijit dan minum obat setelah itu istirahat dan nanti pasti akan baikkan."
"Kalau begitu Bibi pulang saja dan beristirahat di rumah, dan besok tidak perlu ke sini sampai nanti keadaan Bibi Yaya kembali pulih."
"Bibi di sini saja, kalau bibi pulang nanti kamu sama siapa?"
"Kalau bibi di sini yang ada bibi tidak akan mau beristirahat karena nanti ada saja yang Bibi lakukan. Aku tidak apa-apa sendirian di sini."
Arthur tampak bingung juga karena dia hari ini tidak mungkin izin tidak masuk karena dia ada rapat penting nanti di kantor.
"Jangan, Kiara, Bibi nanti tidak bisa tenang di rumah kalau kamu sendirian di sini."
"Aku ikut saja ke kantor Mas Arthur kalau begitu. Bolehkan, Mas?"
"Tentu saja boleh, tapi nanti aku tinggal rapat dan meeting dengan Stevi, tidak apa-apa, kan?"
"Stevi? Bule yang kamu peluk dan cium itu?" Wajah Kiara sudah terlihat ditekuk kesal saja.
"Iya. Aku sudah katakan kalau aku ada kerja sama dengannya dan dia akan di sini sampai lusa."
"Ya sudah, aku tidak apa-apa di kantor kamu saja."
"Mukanya jangan begitu, bukannya kita sudah baikkan dan nanti aku kenalkan sekalian kamu sama Stevi."
"Hem!" Kiara hanya menjawab dengan deheman sembari wajahnya masih tidak enak dilihat.
***
Arthur berangkat ke kantor dengan istrinya setelah Bibi Yaya pulang dijemput oleh keponakannya.
Sampai di kantornya, Arthur turun dan masuk ke dalam gedung perusahaannya dengan menggandeng tangan Kiara. Semua yang ada di sana sekali lagi melihat mereka berdua, tapi kali ini Kiara tampak biasa saja dan tidak canggung ataupun takut seperti saat pertama kali Arthur mengajaknya ke sana, bahkan Kiara melemparkan senyuman ramahnya pada karyawan di sana dan beberapa dari mereka membalas senyuman Kiara.
Mereka bahkan ada yang berbisik merasa iri pada Kiara yang bisa menjadi istri dari pria seperti Arthur.
"Selamat pagi, Pak. Selamat pagi Ibu Kiara."
"Pagi, Mba. Panggil aku Kiara saja karena aku merasa aneh kalau dipanggil Ibu."
"Oh iya kalau begitu." Sekretaris itu tersenyum manis.
"Selamat pagi. Oh ya! Apa berkas yang aku butuhkan untuk rapat nanti sudah kamu siapkan?"
"Sudah, Pak. Pak, di dalam sudah ada Ibu Stevi yang menunggu Anda dari lima belas menit yang lalu."
"Oh! Jadi Stevi sudah datang. Ya sudah, aku akan menemuinya."
"Hem ... mukanya langsung senang begitu," sindir Kiara.
Arthur malah tersenyum tidak percaya dengan ucapan istrinya. "Aku biasa saja, Sayang, atau mau aku buktikan jika aku sangat mencintaimu dengan menciummu di sini."
"Kamu masih dihukum, Mas."
"Aku kira kamu sudah lupa akan hal itu."
Arthur menggandeng istrinya masuk dan saat pintu dibuka. Stevi yang melihat Arthur berjalan ke arahnya dia pun bangkit dari tempat duduknya dan hendak memeluk Arthur, tapi dengan gerakan cepat Kiara menarik tangan Arthur sampai pria itu mundur ke belakang.