Be Mine

Be Mine
Benaran Damai, Kah?



Kiara sudah bangun dan dia membuat masakan untuk nanti dia bawa ke rumah sakit. Kiara akan ikut suaminya ke rumah sakit untuk menjenguk lagi mama Alexa dan juga membawakan makanan untuk Mega.


"Mas, tadi Bibi Yaya menghubungiku. Bibi bilang kalau nanti agak siangan Bibi akan datang ke sini untuk kembali bekerja karena keadaannya sudah baik."


"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengar keadaan Bibi Yaya sudah baikkan."


"Aku tadi sebenarnya menyuruh besok saja bekerja, tapi bibi Yaya memaksa kalau dia akan datang ke sini agak siang karena dia ada urusan sebentar di luar."


"Bibi Yaya itu hampir sama seperti kamu, dia keras kepala juga. Ya sudah biarkan saja mungkin Bibi Yaya khawatir kalau kamu bolak-balik ikut aku ke kantor apalagi kamu sedang hamil."


"Bibi Yaya memang sangat perhatian denganku, Mas, aku seolah tidak kehilangan sosok Ibu sejak ada Bibi Yaya, dia benar-benar wanita yang sangat baik."


"Kalau begitu kamu di tetep di sini apa mau ikut aku sampai nanti bibi Yaya datang?"


"Mas, kalau aku di rumah sakit untuk menemani mama sebentar apa boleh? Mega biar bisa pulang, mungkin dia mau mengambil barang-barang yang dibutuhkan dan aku bisa menemani Mama. Bibi Yaya juga nanti akan ke sana untuk menjenguk Mama. Aku bisa pulang dengan Bibi."


"Apa tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, Kiara?"


"Tentu saja tidak apa-apa, Mas. Mas, mungkin ini kesempatan aku untuk bisa dekat dan diterima oleh mama Alexa."


"Baiklah kalau itu mau kamu, tapi kamu tetap harus jaga diri dan bayi kita."


"Iya, Sayang." Kiara memeluk suaminya.


Arthur dan Kiara sudah selesai bersiap-siap. Mereka kemudian menuju rumah sakit sampai di sana, mereka melihat mama Alexa sedang diperiksa oleh seorang suster, di sana juga ada Elang yang baru bangun dari tidurnya.


"Mega, aku membuatkan kamu masakan, aku harap kamu menyukainya." Kiara meletakkan rantang stainless susun tiga di atas meja


Mega memicing melihat rantang yang ada di atas meja itu, seolah dia meremehkan apa yang dibawa oleh Kiara.


"Kenapa kamu susah payah membawakan makanan untukku? Aku bisa membelinya di sini."


"Lebih enak makan masakan rumah, Mega."


"Bawa saja lagi, lagi pula aku tidak bernafsu makan."


Kiara tampak terdiam sejenak. Dia tau jika Mega masih benci padanya. "Benar apa kata Kiara. Makanan masakan rumah memang lebih enak dan sehat. Kiara, aku nanti yang akan memakannya. Arthur, kamu jangan salah paham, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Kiara. Aku hanya menghargai usaha seseorang."


"Masih peduli kamu sama Kiara?"


"Mega, kamu jangan salah paham. Tadi aku sudah menjelaskan kenapa aku mau menerima makanan Kiara. Dia sudah membuatkan untuk kamu, tapi kamu malah bersikap seperti itu. Ayolah, Mega! Tidak capek apa kamu selalu bersikap seperti ini? Kita akan menikah. Bisa tidak kamu dan Kiara berdamai? Aku benar-benar ingin kita nantinya bisa berdamai dan berkumpul dengan bahagia, tidak harus seperti ini. Aku saja sudah menerima semuanya dan bahkan tidak memiliki rasa benci sama Arthur karena aku sadar jika Kiara memang ditakdirkan dengan Arthur, dan aku dengan kamu." Elang berjalan mendekat dan memegang kedua tangan Mega. Dia bahkan mengecup lembut kening Mega."


Mega melihat ke arah Kiara dan dia berjalan mendekat dan memeluk Kiara. "Maaf, ya Kiara. Aku selama ini memang salah sama kamu."


"Tidak ada yang salah atau benar diantara kita. Kita berdua sama-sama salah."


"Arthur, entah kenapa Mama merasa Tuhan memberikan sakit ini mungkin karena Mama sudah bersikap buruk pada menantu keluarga Lukas yang harusnya mama sayangi dan jaga."


"Mama jangan berpikiran seperti itu."


"Kiara, Tante jujur saja belum bisa menerima kamu sepenuhnya, tapi Tante akan mencoba pelan-pelan. Pernikahan kamu dan Arthur sungguh sangat mengejutkan dan seolah impianku itu kamu hancurkan, tapi ternyata cinta Arthur sama kamu itu sangat kuat dan aku yang sangat menyayangi Arthur benar-benar merindukan sosoknya. Peluk Mama, Arthur." Tangan Alexa membuka dan Arthur pun memeluk mamanya.


"Aku minta maaf karena sudah membuat impian Tante hancur, tapi aku cuma ingin bilang jika aku benar-benar sayang Mas Arthur bukan karena aku menginginkan hartanya, tapi karena rasa cinta yang aku rasakan."


"Kiara, Tante akan mencoba menerima semua ini. Menerima kehadiran kamu."


"Jika Mega dan Mamanya benar-benar sudah menerima Kiara. Maka, jalanku untuk mendapatkan Kiara tidak akan dicurigai, apa lagi aku melihat Mega sangat percaya jika aku mencintainya. Kakak ipar Kiara, aku akan menjadikan kamu milikku lagi," ucap Elang dalam hati.


Arthur pamit ke kantor dan dia menitipkan Kiara di sana sampai nanti Bibi Yaya datang.


"Mega, kamu makan dulu, aku akan membantu menyiapkannya."


"Iya, aku juga sudah lapar apa lagi semalam aku tidur dengan perut kosong. Mega, kita makan sama-sama, nanti aku akan menyuapi kamu."


Kiara terkekeh mendengar ucapan Elang. "Aku nanti saja makannya. Elang, aku minta tolong antarkan aku pulang untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan untuk Mama."


"Iya, tapi kita makan dulu, aku lapar sekali."


"Iya, kalian makan dulu saja setelah itu bisa pergi dan biar aku yang menjaga mama kamu di sini, Mega."


"Kamu tidak apa-apa Kiara? Bukannya kamu sedang hamil."


"Aku tidak apa-apa, kamu tenang saja, Mega."


Elang membuka rantang makanan milik Kiara. Jujur saja, di dalam hatinya Elang sangat senang bisa mencicipi makanan dari gadis yang sangat dia cintai sampai sekarang. Dia berasa sedang dibuatkan masakan oleh calon istrinya. Cinta Elang pada Kiara memang sangat gila.


"Wow! Masakan kamu enak sekali! Sayang, coba ini, aku akan menyuapi kamu."


Sendok yang ada di tangan Elang sudah mengarah pada mulut Mega. Mega yang ragu-ragu pada akhirnya mau makan juga.


"Bagaimana? Enakkan?"


"Iya, ini enak sekali, tapi aku tidak mau makan banyak-banyak, Lang! Aku mau menikah dan kita sudah fitting baju, aku tidak mau nanti mendekati hari pernikahan, baju pengantinku tidak cukup. Aku sedang melakukan diet ketat ini, Elang!"


"Sedikit tidak akan gemuk, Sayang."


"Lang, jangan memaksa. Aku mohon! Aku mau tampil sangat cantik dan sempurna di acara pernikahan kita nanti."


"Sedikit saja, kamu dari kemarin malam juga belum makan."


"Nanti saja, Lang!"


Tiba-tiba tempat makan di meja yang berisi masakan buatan Kiara jatuh semua ke lantai. Mereka bertiga yang melihat hal itu tampak terkejut.


"Kamu sih, Lang! Jadi jatuh semua!" Mega duduk dan memunguti alat makan di sana.


"Mega, biarkan saja, biar petugas kebersihan yang membersihkannya," ucap Kiara.


"Aku minta maaf ya, Kiara. Seharusnya aku tadi tidak menolak dan akhirnya seperti ini."


"Tidak apa-apa, Mega. Lain kali aku bawakan lagi."


"Maaf ya, Kiara. Sebenarnya makanan kamu enak sekali, kalau tidak jatuh pasti aku habiskan. Aku tadi memaksa Mega makan karena Mega memang belum makan dari kemarin malam. Aku tidak mau kamu sakit, apa lagi kita mau menikah."


Mega terdiam sejenak. "Iya, nanti aku akan makan, kita beli makanan di luar saja sekalian nanti kita belikan untuk Kiara." Mega tersenyum senang.


"Tidak perlu repot, Mega. Aku tidak dibolehkan Mas Arthur makan selain buatan sendiri dan bibi Yaya."


"