
Dua orang itu masih bermain air sampai pada akhirnya Kiara yang tidak seimbang dan hampir jatuh dengan cepat ditarik tubuhnya oleh Arthur.
Kedua mata itu saling menatap dengan lekat. Arthur senang melihat wajah bahagia dan rambut Kiara yang basah oleh air. Arthur merasa tidak dapat menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir yang sekarang menjadi favorite Arthur.
"Arthur, aku mau berganti baju dulu. Kamu sebaiknya juga berganti baju supaya tidak masuk angin." Kiara mencoba menyadarkan dirinya agar sekali lagi tidak terbawa suasana dengan Arthur.
"Iya sebaiknya kamu naik dulu aku akan membereskan kekacauan di sini aku juga mau mandi nanti karena dari tadi aku juga belum memberishkan diriku."
Kiara naik ke atas kamarnya dia bersandar pada daun pintu sembari memegang dadanya yang berdetak sangat keras sekali ini. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih keras kali ini.
Apa karena Arthur tadi menatapnya seperti itu?
Kiara segera berganti baju sebelum Arthur naik ke atas kamar. Setelah itu dia berbaring dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut
Tidak lama Arthur masuk ke dalam kamar. Kiara seketika bangkit dan bersandar pada tepi kamar tidur.
"Kamu kalau mau tidurlah dulu, tapi jangan lupa minum obatmu
"Aku sudah minum obat dan aku sudah menyiapkan air hangat untukmu Arthur, kamu bisa mandi."
"Apa kamu juga menyiapkan baju tidurku Kiara?
"Aku tidak menyiapkan baju tidurmu. Apa kamu mau aku menyiapkan baju tidurmu?"
"Seharusnya kamu juga menyiapkan baju tidurku, istriku. Ya sudah kamu tidur saja biar aku menyiapkannya sendiri."
Kiara terdiam di tempat tidurnya dia memang seharusnya menyiapkan baju tidur untuk Arthur.
Arthur keluar dari dalam kamar mandi dan dia hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Kiara yang melihat hal itu tampak membulat dan dia segera membalikkan kepalanya tidak mau melihat ke arah Arthur.
"Seharusnya kamu memakai baju saat keluar dari kamar mandi, Arthur! Kenapa malah hanya memakai handuk seperti itu?"
"Memangnya kenapa, Kiara. Di sini tidak ada orang lain hanya kita berdua dan Kamu adalah istriku, aku tidak perlu malu denganmu."
Arthur masuk ke dalam walk in closetnya. Dia hendak berganti baju, tapi pintu lemari yang tidak tertutup rapat itu dapat memperlihatkan tubuh Arthur dari pantulan cermin yang ada di sana. Kiara sekali lagi membulat matanya melihat tubuh polos sang suami padahal sebelumnya dia sudah pernah melihat, tapi entah kenapa saat ini dia benar-benar gelisah tapi pandangannya tidak bisa dia tarik dari sosok pemilik tubuh indah itu
Tangan Kiara sampai menggenggam erat selimut yang dia pakai.
Saat Arthur keluar dari ruangannya itu dia melihat kedua mata Kiara terpejam dengan erat sembari duduk.
Arthur tampak bingung dengan sikap istrinya. "Kenapa Kiara tidur dengan duduk?"
"Kiara, apa kamu baik-baik saja? Kenapa tidur tidak berbaring malah duduk?"
Kiara perlahan membuka kedua matanya dengan cara mengintip saat dirasa keadaan sudah aman dia membuka kedua matanya dengan lebar
Kiara merutuki kebodohannya. Kenapa dia malah melihat tubuh Arthur tidak memakai apapun!
Kiara kamu baik-baik saja 'kan? Apa kamu mau aku bawa ke dokter untuk diperiksa sekali lagi!"
"Aku baik-baik saja, Arthur, dan kamu tidak perlu cemas. Kiara dengan cepat -berbaring di atas tempat tidurnya dan menutupi tubuhnya sampai batas pipi dengan selimut.
Arthur berjalan mendekat pada Kiara dan kemudian mengecup lembut pucuk kepala Kiara. "Selamat malam istriku semoga mimpi indah "
Arthur berjalan pergi dari sana dan dia berbaring di atas sofa panjang yang sekarang menjadi tempat tidurnya.
***
"Dia seperti marmut kecil saat sedang tidur seperti ini. Sebaiknya aku mandi saja sekarang sebelum Arthur nanti bangun."
Kiara segera masuk ke dalam kamar mandi. Arthur yang ternyata sudah bangun dan mendengar apa yang Kiara katakan tampak tersenyum tipis.
"Apa benar wajahku seperti marmut kecil? Memang ada marmut setampan aku? Ada-ada saja istriku itu."
Arthur bangun dari tidurnya dan merapikan semuanya. Kiara yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan baju seragam lengkapnya tampak kaget melihat suaminya yang sudah memberishkan tempat tidurnya.
"Aku kira kamu masih tidur, Arthur."
"Aku sudah bangun dari tadi, Kiara, Bahkan aku tadi juga mendengar apa yang kamu katakan saat memandangi wajahku."
"Oh, ya?" Kiara tampak kaget. "Jadi, kamu mendengar jika aku menyebutmu marmut kecil?"
"Aku mendengarnya dengan jelas apa yang kamu katakan tadi. Padahal, aku berharap kamu akan menciumku tadi, tapi ternyata malah mengataiku seperti marmut."
Arthur berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Kiara tampak mengerucutkan bibirnya.
"Enak saja minta aku menciumnya. Aku tidak akan pernah menciumi kamu. Cari saja sana wanita yang mau mencium kamu," Kiara malah mengomel sendiri.
Kiara turun di lantai bawa dan dia akan membuat sandwich karena ada roti dan daging asap di sana.
"Di sini aku makannya malah meniru orang luar negeri. Jadi, kangen lagi sama masakan ibuku?" Kiara tampak sedih mengingat tentang mendiang ibunya.
Membuat sandwich tidak memakan waktu yang lama, dan saat Arthur turun, sandwichnya sudah tersedia di atas meja.
"Kita makan saja ini, Arthur. Sayang sekali jika ada sisa roti yang tidak kemakan."
"Apapun yang kamu buat pasti akan aku makan karena semua buatan istri itu sangat enak sebab ada cinta di dalamnya."
"Kamu lupa jika tidak ada kata cinta di rumah tangga kita dan sepertinya memang tidak akan pernah ada."
Tangan Arthur menarik lengang tangan Kiara sehingga gadis itu masuk dalam pelukan Arthur dan posisi Arthur kala itu memeluknya dari belakang.
"Bukan tidak akan pernah, Kiara, tapi belum ada, dan mungkin nanti bisa menjadi ada."
Kiara terdiam saat wajah Arthur sangat dekat dengan pipinya. "Arthur, kita makan saja dulu dan segera berangkat ke sekolah. Aku mau berangkat lebih awal agar aku bisa belajar lagi di sana."
"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu lalu pergi ke sekolah untuk mengantarkan kamu.".
Kiara mengangguk dan Arthur melepaskan pelukannya pada Kiara. Mereka berdua makan pagi bersama.
Mobil Arthur berjalan menuju sekolah Mega dan sekarang Kiara mengubah tempat di mana Arthur biasa mengantar jemput.
Karena tempat itu Morgan sudah tau dan tidak mau kalau sampai orang lain mengetahuinya.
"Huft! Kenapa jadinya kita seperti kucing-kucing, padahal kita ini suami istri, tapi kenapa malah jadi seperti pasangan selingkuhan."
Kiara malah terkekeh mendengar ocehan suaminya itu. Apa lagi Arthur menyebut tentang selingkuhan.
"Kita ini bukan pasangan selingkuh
Arthur. Kita ini pasangan yang butuh menyembunyikan identitas."