Be Mine

Be Mine
Tidak Ingin Jauh



Kiara menceritakan semua yang sudah pria tua itu tuduhkan padanya. Arthur yang tampak tenang, tapi dia menyimpan rasa marah yang teramat pada Tuan Jhon itu.


"Sekarang kamu tidak perlu memikirkan lagi masalah itu. Tidak akan ada lagi yang menghinamu."


"Aku tidak menyangka jika orang sekaya dia, tetapi memiliki tingkah laku yang sangat buruk. Dia menganggap orang lain lebih rendah karena dia merasa memiliki kekuasaan."


"Itu sudah sifat manusia, Ara. Em ... maksudku Kiara."


"Tidak apa-apa kalau kamu memanggilku Ara. Aku juga mulai sekarang ingin memanggilmu Mas Arthur. Apa boleh aku memanggilmu seperti itu?"


Kedua manik mata Arthur seketika membulat melihat pada gadis yang sedang duduk di sampingnya.


"Tentu saja boleh." Arthur sebenarnya senang saat dirinya dipanggil Kiara dengan kata Mas karena saat Kiara memanggilnya seperti itu, ada sesuatu yang membuat hatinya terasa nyaman, tapi Arthur tidak mau memaksa Kiara melakukan hal itu.


"Tapi mungkin aku masih belum terbiasa, maaf jika nanti aku kadang lupa memanggil nama kamu saja."


"Tidak apa-apa. Kiara, hari ini apa kamu ada kegiatan di sekolah?"


"Aku nanti libur, dan lusa baru masuk untuk mengurusi rencana perpisahan dan wisuda."


"Kata Mega beberapa waktu lalu, kalau sekolah kalian nanti akan ada perpisahan di luar kota juga?"


Kiara mengangguk. "Iya, anak-anak akan liburan di salah satu tempat wisata di luar kota dan akan menginap selama tiga hari."


"Kamu juga ikut?"


"Iya, Ibuku sudah menabung di sekolah agar aku bisa ikut acara tersebut, padahal aku sebenarnya tidak mau ikut, tapi ibuku memaksa dan juga Elang waktu itu membantu aku membayarnya agar aku bisa ikut dalam acara perpisahan itu."


Elang lagi dan Elang, nama itu benar-benar menyakitkan di telinga Arthur.


"Kalau kamu tidak memperbolehkan aku ikut, aku tidak akan ikut."


"Kamu ikut saja, bukannya ibumu sudah berusaha membayar uang acara itu agar kamu bisa ikut pergi berpariwisata dengan teman-temanmu."


"Terima kasih."


Mereka kembali melanjutkan makan paginya. Tidak lama terdengar suara bunyi ponsel Kiara yang diletakkan di dalam sakunya.


"Elang?" Kiara kemudian melihat pada Arthur yang juga melihatnya. "Aku mau menjawab panggilannya dulu."


Kiara beranjak dari tempatnya. Kiara ingin menjawab panggilan Elang agar tidak menghubungi terus karena Elang pasti ingin tau keadaan Kiara setelah kejadian malam itu.


Arthur yang melihat kejadian itu tampak kehilangan selera makannya terlihat dia langsung meletakkan sendok makannya dan berjalan pergi dari sana.


"Lang, ada apa?".


"Kiara, Bagaimana keadaan kamu? Aku datang ke rumahmu, tapi kamu tidak ada di rumah dan kata tetanggamu, kamu sudah tidak tinggal lagi di rumah ini. Kamu di mana sebenarnya?"


"Aku ikut saudara mendiang kedua orang tuaku karena mereka tidak memperbolehkan aku tinggal sendirian di rumah."


"Di mana alamat kamu? Kiara, aku ingin bertemu denganmu?"


"Maaf, Lang, aku tidak bisa memberitahumu di mana sekarang aku tinggal. Lang, aku sudah katakan jangan mencariku terus karena sekarang kamu adalah calon tunangannya Mega. Aku tidak mau menciptakan masalah baru."


"Aku dan Mega sama-sama tidak tau akan perjodohan itu dan aku pasti menolak dengan perjodohan itu, Kiara."


"Lang, walaupun kamu menolak atau menerima, aku sudah tidak bisa bersama kamu lagi karena aku mencintai seseorang sekarang dan dia sangat berarti bagiku."


"Lang, aku minta maaf sudah menyakitimu, tapi aku mohon agar kamu melupakan aku. Lang, sudah dulu karena aku harus segera pergi."


Kiara mematikan panggilan teleponnya. Saat dia menoleh, dirinya tidak menemukan Arthur di ruang makan.


"Dia ke mana? Apa dia berada di dalam kamar?"


Kiara berjalan menuju kamarnya dan saat membuka pintunya dia melihat suaminya itu sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


"Aku akan segera ke sana Manda. Sebentar lagi aku akan berangkat dan kamu tunggu saja dulu."


Wajah Kiara seketika berubah saat mendengar dengan siapa Arthur sedang berbicara.


Kiara masuk dan dia mengambil baju gantinya. "Kiara, kamu mau pergi?" Kiara menggeleng dengan pelan. "Aku mau pergi ke restoranku kemudian ke kantorku. Kiara, apa kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri di Apartemen ini? Atau kamu mau ke rumah Mega?"


"Aku di rumah saja, Arthur. Aku mau membuat kue dan membersihkan apartemenmu. Bolehkan?


Arthur terdiam sebentar. "Kamu jangan terlalu lelah, aku bisa menyuruh bibi Yaya datang ke sini untuk membersihkannya."


"Tidak apa-apa, dari pada tidak ada yang aku lakukan di sini."


"Apa kamu tidak ada janji dengan Elang? Bukannya tadi dia menghubungimu." Sebenarnya Arthur tidak mau bertanya akan hal itu, tapi dia penasaran, dia takut jika Kiara akan bertemu dengan Elang.


"Dia menanyakan tentang kejadian kemarin malam karena dia khawatir padaku."


Arthur malah tersenyum miris. "Memang sangat susah melupakan orang yang sangat dicintai," ucapnya lirih.


Arthur kemudian mengambil suitnya dan menggunakannya, dia bersiap-siap akan pergi ke kantornya.


"Mas Arthur, apa kamu nanti pulang terlambat?"


Arthur yang sudah ada di depan pintu terdiam dan, dia sangat senang mendengar Kiara yang memanggilnya dengan sebutan Mas.


Bagi Arthur setidaknya dia masih bisa mendengar Kiara memanggilnya seperti itu. Arthur menoleh pada istrinya. "Aku tidak tau karena hari ini aku banyak pekerjaan."


"Ya sudah kalau begitu. Aku hanya ingin mengajak kamu makan malam dan nanti aku yang akan memmasakanya sendiri."


"Nanti akan aku usahakan datang. Aku pergi dulu."


"Mas Arthur," panggil Kiara sekali lagi.


"Apa ada yang masih ingin kamu katakan?"


Kiara berjalan mendekat pada suaminya dan mengangkat tangan Arthur kemudian dia mengecup lembut punggung tangan pria itu.


Arthur terdiam sejenak. Dia bingung antara harus mengecup dahi Kiara atau tidak karena dia masih teringat pelukan yang Kiara dan Elang lakukan waktu itu.


Arthur mendekat dan mengecup dahi Kiara perlahan. "Berhati-hatilah di rumah." Arthur segera pergi dari sana.


Kiara tersenyum lebar mendapat kecupan manis di dahinya, padahal biasanya Arthur juga melakukan hal itu, tapi entah kenapa dia kali ini merasa sangat bahagia mendapat kecupan manis itu?


"Aku ini kenapa sih? Apa aku benaran jatuh cinta pada Arthur? Tapi sejak kapan aku merasa seperti ini?" Kiara berbicara sendiri di depan cermin.


Dia akhirnya tidak mau memikirkan apa yang sedang dia rasakan. Dia akan menjalani semua ini sampai tiga bulan ke depan dan benar-benar memastikan apa yang dia rasakan pada Arthur, tapi yang jelas sekarang dia merasa jika dirinya tidak ingin jauh dari pria itu.


"Sekarang saatnya untuk bekerja. Aku akan membuat kue dan membersihkan tempat ini."