
Arthur yang berada di sana memperlihatkan wajah yang tampak lega. Sekarang tinggal menunggu saja apa yang akan dikatakan mamanya pada dirinya.
"Aku akan bicara dengan Kiara masalah kapan dia mau aku kenalkan pada mamaku. Aku berharap dia mau secepatnya membuka tentang pernikahan ini pada semuanya."
Di apartemennya, Kiara yang baru saja membersihkan ruangan di sana, ruangan yang kemarin belum sempat dia bersihkan. Kiara terlihat lelah dia duduk dan mengambil segelas air yang ada di depannya
"Dengan begini aku bisa sedikit melupakan masalah aku dengan mas Arthur tadi."
Ponselnya tidak lama berbunyi dan ada pesan masuk di sana. "Morgan? Ada apa dia mengirim pesan padaku?"
Kiara membuka pesan yang dikirim oleh Morgan teman sekolahnya. Kedua mata Kiara seketika mendelik melihat gambar yang dikirim oleh Morgan.
Morgan menuliskan jika pria yang memberi Kiara bunga di atas panggung waktu itu ternyata sudah memiliki istri.
"Mas Arthur sama siapa? Kenapa dia berpelukan dengan seorang wanita?" Wajah Kiara seketika tampak kesal.
Kiara mencoba menghubungi ponsel Arthur, tapi ternyata ponsel suaminya sepertinya tidak aktif.
"Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?"
"Terima kasih, ya Morgan. Kiara sekarang pasti akan terbuka kedua matanya melihat siapa sebenarnya Arthur itu."
"Kamu kenapa mengganggu hubungan Kiara dan kakaknya Mega? Bukannya kamu dan Kiara sudah putus, apa lagi kamu juga akan bertunangan dengan Mega."
Elang ternyata meminjam ponsel Morgan karena nomornya diblokir oleh Kiara. Elang dan Morgan sedang pergi bersama dan ternyata Elang sedang mencari kesalahan Arthur yang nanti bisa membuat Kiara dan Arthur hubungannya berakhir.
"Aku tidak menyukai Mega dan sampai kapanpun aku hanya mencintai Kiara. Pertunanganku dengan Mega hanya bagian dari rencanaku sampai nanti aku bisa mendapat segalanya dari kedua orang tuaku, sehingga aku bisa berdiri sendiri dan nanti aku akan bisa mendapatkan lagi Kiara."
"Kamu benar-benar jahat kalau sampai menyakiti gadis sebaik Mega."
'Tidak ada cara lain. Aku harap kamu tidak menceritakan semua ini pada siapapun."
"Aku tidak mau ikut campur dengan urusanmu, Lang. Aku hanya mengingatkan saja. Lagi pula kamu jangan egois, Kiara putus dengan kamu dan menjalin hubungan dengan orang lain itu hak dia, bukannya kamu yang memang mengkhianatinya lebih dulu."
"Apa maksud kamu? Aku yang dikhianati oleh Kiara dan kakaknya Mega. Kiara malah beralasan karena mamaku yang tidak merestui, walaupun itu benar, tapi dia tidak seharusnya memiliki hubungan dengan Arthur karena aku bisa mempertahankan hubunganku dengannya jika dia mau menunggu."
"Kamu yang mengkhianatinya duluan dengan berciuman dengan seorang gadis di dalam mobil saat kamu masih berpacaran dengan Kiara dan aku melihat hal itu."
"Apa? Kamu tau hal itu?"
"Tentu saja aku melihatnya, tapi sayangnya aku tidak tau wajah kekasih kamu itu, dan Kiara juga sudah aku beritahu akan hal itu."
"Apa? Kenapa kamu memberitahunya? Kamu sengaja melakukan hal itu karena kamu sebenarnya diam-diam menyukai Kiara, kan?" Tangan Elang mencengkeram baju Morgan.
"Lepaskan!" Tangan Morgan mencoba melepaskan cengkraman Elang. "Siapa yang tidak suka dengan gadis pintar dan cantik seperti Kiara? Aku menyukai Kiara, tapi aku sadar dia lebih mencintaimu, makannya, aku hanya sebatas mengagumi saja."
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan gadis itu."
"Kalau tidak ada hubungan, kenapa kalian malah berciuman?"
"Itu--." Elang bingung menjelaskan pada Morgan. "Aku hanya terbawa suasana saja waktu itu, dan aku berjanji tidak akan melakukannya lagi."
"Percuma saja sekarang. Kiara dan kamu sudah putus, dan sebaiknya kamu relakan saja Kiara dengan kakaknya Mega, mungkin saja kakaknya Mega itu sangat mencintai Kiara."
"Jangan bodoh kamu. Arthur itu seorang pria mapan yang punya segalanya, dia tidak mungkin mencintai Kiara, Kiara itu hanya mainan untuknya."
"Maksud kamu?"
"Kiara mungkin hanya menjadi sugar babynya saja, setelah dia puas bermain-main, Kiara pasti akan dia buang begitu saja."
Kedua alis Morgan mengkerut. "Kamu jahat sekali berbicara seperti itu tentang Kiara."
"Sikap apa?"
"Selama berpacaran denganku, Kiara selalu menghindar saat aku ajak berciuman, bahkan saat aku marah dia tidak peduli dan dia hanya memperbolehkan aku mencium pipinya saja, tapi dengan Arthur dia berciuman sangat mesra." Wajah Elang tampak marah.
"Siapa tau, memang Kiara sangat mencintai Arthur sampai dia yakin dengan pria itu. Elang, aku yakin Kiara tidak akan menjadi sugar baby seperti yang kamu sebut itu, walaupun aku tidak mengenal dekat Kiara, tapi aku yakin dia tidak serendah itu." Morgan tampak menepuk-tepuk pundak temannya itu. Dia tau jika Elang pasti merasa sakit hati sekali mengetahui Kiara dengan Arthur, apalagi tau mereka sampai berciuman.
***
Malam itu di apartemen Kiara tampak berjalan mondar-mandir di kamar, dia sedang menunggu suaminya menghubunginya. Tidak lama ponsel Kiara berbunyi dan itu dari Arthur.
"Kiara."
"Mas, kamu ke mana saja dan kenapa ponsel kamu tidak bisa aku hubungi dari tadi?" suara Kiara tampak cemas.
"Baterai ponselku habis, dan aku meninggalkannya di kantor. Tadi ada sedikit masalah pada kerjaan sampai aku tidak melihat pada ponselku sama sekali."
"Masalah apa, Mas? Apa masalahnya serius?"
"Salah satu karyawanku menggelapkan uang perusahaan, dan aku sudah melaporkan pada pihak yang berwajib. Mereka sedang mencarinya."
Kiara seketika terdiam mendengar apa yang Arthur katakan. Dia seolah teringat akan kejadian pada ayahnya dulu. "Mas, kamu harus benar-benar menyelidiki masalah ini karena kita tidak tau apa hal itu benar atau itu hanya dugaan."
Arthur tau pasti Kiara teringat akan tuduhan yang dulu diberikan pada ayahnya, padahal ayahnya tidak melakukan itu. Ayah Kiara hanya menjadi kambing hitam oleh oknum yang tidak menyukainya.
"Aku akan mengusut hal ini dengan sejelas-jelasnya, Ara. Aku tidak akan berbuat seenaknya, kamu tenang saja."
"Oh ya, Mas. Apa tadi kamu makan siang dengan seseorang?"
"Tunggu aku pulang dan nanti aku akan menjelaskan semua sama kamu."
Kiara dari tadi mencoba menenangkan diri, dan mencoba tidak percaya dengan foto yang dikirim oleh Morgan karena dia tau siapa suaminya itu.
"Iya, Mas, aku akan menunggumu. Hati-hati di jalan, Mas."
"Iya Kiara. Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga mencintaimu, Mas."
Kiara sekarang dapat bernapas lega mengetahui suaminya baik-baik saja, walaupun dia juga sedikit takut tadinya jika suaminya sedang bersama wanita lain.
"Mas Arthur sangat mencintaiku dan dia tidak akan mengkhianatiku. Aku percaya padanya," Kiara berdialog sendiri meyakinkan dirinya dari tadi.
Arthur yang akan kembali ke rumah setelah dia membuat laporan dengan pihak berwajib mendapat telepon dari Manda.
"Ada apa Manda menghubungiku di jam seperti ini?" Wajah Arthur tampak mengkerut.
"Halo, Pak Arthur."
"Iya, Manda, ada apa? Kenapa suara kamu tampak sedih seperti itu?"
"Pak, saya minta maaf sudah menggangu waktu Anda, tapi apa saya bisa minta tolong Pak Arthur untuk datang ke rumah sakit Mutiara."
"Rumah Sakit Mutiara? Memangnya siapa yang sakit? Apa kamu sedang sakit?"
"Bukan saya, Pak, tapi Dean. Anak saya panas tinggi dan tadi pagi saat dibawa ke rumah sakit oleh pengasuhnya, dia diharuskan opname untuk mengetahui apa yang menyebabkan panasnya tidak turun."
"Dean sakit? Lalu, bagaimana sekarang keadaannya?"