
Kiara yang sedang berada di toko baju yang menjual lingerie, tampak memilih beberapa lingerie di sana.
"Bagus mana, ya? Biru ini apa warna fanta ini?" Kiara tampak berpikir sejenak.
"Warna hitam saja, kamu akan lebih terlihat sexy," suara seseorang yang Kiara kenali tepat berada di belakang Kiara.
Kiara segera menyembunyikan lingerie yang dia bawa dan langsung menoleh pada asal suara itu. "Mas, kamu kenapa bisa ada di sini?"
"Jangan membeli warna selain hitam karena aku lebih suka kamu memakai warna hitam." Tangan Arthur memanggil pelayan toko yang sedang melayani Kiara.
"Iya, ada apa, Tuan?"
"Tolong kamu pilihkan lingerie yang terbaik dan berwarna hitam untuk istriku, aku mau membeli semuanya."
Kedua mata Kiara mendelik mendengar hal itu, dia mau melarang pelayan toko itu untuk mengambil semuanya, tapi pelayan toko itu sudah keburu pergi dari sana untuk mengambilkan apa yang Arthur minta.
"Mas, kenapa kamu membuat malu aku di sini?"
"Siapa yang membuat malu? Bukannya hal itu wajar jika seorang suami membelikan lingerie untuk istrinya."
"Tapi tidak semuanya harus kamu beli, Mas."
"Kalau tidak banyak, nanti saat dibutuhkan harus membeli lagi."
Kiara berjalan mendekat pada suaminya. "Makannya, kamu jangan menyobek lingerie yang aku pakai seperti waktu itu."
Arthur memberi sentuhan pada bibir istrinya. "Aku menyukai moment saat menyobek lingerie itu, Kiara."
Kiara memutar bola matanya jengah. "Dasar pria idamanku. Oh ya! Mas, kamu belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kamu bisa tau aku ada di toko ini?"
Arthur menunjukan ponselnya, di mana dia bisa mencari keberadaan istrinya. "Jadi, kamu mengawasiku selama ini?"
"Baru saja aku melakukannya dan aku minta maaf tidak memberitahumu sebelumnya."
"Kenapa sampai seperti itu mengawasiku, Mas? Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Bukan tidak percaya, tapi aku takut kamu hilang, Sayang."
"Hilang? Memangnya aku anak kucing yang bisa hilang begitu saja, lagi pula apa aku bisa lari dari kamu, Mas?"
Arthur menarik tangan Kiara sampai tubuh Kiara masuk dalam dekapan Arthur. "Kamu tidak akan bisa lari dariku, berpikiran lari dariku saja kamu tidak akan bisa."
"Aku tidak akan pernah lari darimu, Mas." Tangan Kiara menggelayut manja pada leher Arthur.
Pelayan toko itu datang dan membawa goodie bag berisi lingerie yang dibeli oleh Arthur. Setelah membayarnya, mereka segera mencari di mana toko mainan.
Kiara melihat ada toko mainan yang sangat besar di sana. Arthur mengajak Kiara masuk, dan Kiara segera mencari mainan yang mungkin saja akan Dean sukai.
Kiara sudah mendapatkan beberapa mainan di tangannya. Saat akan menuju tempat kasir, langkah kaki Kiara terhenti saat melihat ada mainan boneka barbie besar dengan rambut ikal warna coklat. Kiara teringat dengan mainannya dulu saat di hari ulang tahunnya, dia dikado oleh mendiang ayahnya.
"Boneka ini lucu sekali." Kiara mengusap lembut kepala boneka itu.
"Sayang, kenapa kamu malah membawa boneka itu? Dean itu laki-laki."
"Aku hanya senang saja melihat boneka ini, Mas, boneka ini mirip sekali dengan boneka milikku dulu. Mendiang ayahku dulu yang memberikan sebagai kado ulang tahunku, tapi akhirnya boneka itu hilang saat aku diajak jalan-jalan."
Arthur mengambil boneka itu. "Apa mau membelinya?"
"Tidak, Mas. Aku sudah menjadi seorang istri, tidak lucu mainan boneka. Aku mainin kamu saja." Kiara malah tertawa dengan senangnya.
"Bukan untuk kamu, Sayang, tapi untuk calon anak kita kelak."
Kiara seketika terdiam dan melihat pada suaminya. "Kamu ingin anak perempuan, Mas?"
"Iya, aku ingin memiliki anak perempuan, Kiara."
Seketika Kiara memeluk suaminya. "Kenapa kita memiliki keinginan yang sama, Mas?"
"Maksud kamu? Kamu juga ingin anak pertama kita perempuan?"
Kiara mengangguk perlahan. "Sebenarnya dari dulu aku ingin jika suatu hari menikah dan hamil, aku ingin memiliki anak perempuan."
"Iya, Mas."
"Tapi kalau Tuhan memberi kita anak laki-laki juga aku sangat senang. Kalau begitu kita pulang saja dan membuat si kecil."
"Apa sih, Mas?" Kiara mendelik sembari memukul lengan tangan suaminya.
***
Mereka sudah sampai di rumah sakit, di mana Dean sedang di rawat. Arthur menggandeng tangan Kiara menuju lantai kamar ruang Dean berada.
Arthur mengetuk pintu, dan Manda yang membuka pintu terlihat senang melihat wajah pria yang dia kagumi.
"Pak Arthur, kenapa Anda datang lebih cepat?"
"Selamat siang mba Manda," sapa Kiara yang muncul dari belakang Arthur.
"Kiara, kamu juga ikut?"
"Iya, aku juga ingin melihat keadaan anak kamu. Apa Dean sedang tidur?"
"Dia sedang menonton televisi. Silakan masuk."
Bocah laki-laki yang sedang fokus melihat film kartu di sana tampak senang melihat kedatangan Arthur dan Kiara.
"Halo, superhero! Bagaimana keadaan kamu hari ini? Apa sudah minum obat?" Arthur tampak mengacak-acak pelan rambut Dean.
"Aku tidak takut minum obat, Om karena di sini obatnya tidak pahit."
"Anak pintar."
"Mba Manda, aku membawakan Mba Manda makanan, sebaiknya Mba Makan dulu dan biar kami yang menjaga Dean."
"Tapi aku sudah makan Kiara."
"Mami tadi makannya sedikit karena katanya tidak suka makanan di rumah sakit ini."
Kiara memberikan box makanan yang tadi dia beli di mall, dan menyodorkan pada Manda.
"Manda kamu sebaiknya makan yang banyak agar tidak sampai jatuh sakit, kalau kamu sakit nanti Dean tidak ada yang merawat."
Manda mengangguk dan mengambil makanan dari tangan Kiara, dia duduk pada ruang tamu mini yang ada di sana.
"Hai, tampan, tante Ara membelikan kamu mainan dan semoga saja kamu menyukainya."
Kiara memberikan tiga buah kotak mainan berukuran sedang, dan Dean seketika kedua matanya membulat melihat mainan robot yang memang dari dulu dia inginkan.
"Ini robot yang pernah aku minta sama Mami, tapi Mami bilang nanti akan dibelikan jika sudah memiliki uang lebih."
"Pak Arthur, kenapa membelikan mainan yang mahal untuk Dean? Saya jadi tidak enak menerimanya."
"Bukan aku yang membelikannya, tapi itu Kiara yang membelikannya bahkan dia juga yang memilihkannya."
Sekarang pandangan mata Manda tertuju pada Kiara. "Kiara, terima kasih atas perhatiannya pada Dean."
"Tante Kiara, terima kasih atas hadiahnya, Dean suka sekali."
"Sama-sama Dean. Kamu cepat sembuh agar dapat sekolah lagi."
"Iya, aku kangen sama teman-temanku. Menginap di sini tidak enak, Tante, aku juga bosan."
Kiara tersenyum dan mencubit kecil hidung Dean. "Semangat untuk sembuh, tampan."
Kiara dan Arthur menemani Dean bermain di sana sementara Manda makan siang dan Manda pulang sebentar untuk mengambil baju dan kebutuhan Dean.
Kiara benar-benar menikmati kebersamaannya dengan bocah laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan itu.
"Tante Kiara dan Om Arthur, kapan-kapan main ke sini lagi denganku, ya?"
"Iya, Dean, dan semoga kamu cepat pulang jadi kita bisa bermain di rumah saja," ucap Kiara.