
Pagi itu Kiara sudah bangun dan dia sulit sekali membangunkan Mega yang masih asik memeluk selimutnya.
"Mega, bangun! Aku pokoknya tidak mau telat." Kiara menggoyang-goyangkan tubuh Mega.
"Aku masih ngantuk. Lagi pula ini jam berapa sih?' Mega mengusap kedua matanya dan dia melihat pada jam beker di sampingnya. "Kiara! ini masih jam lima dan kamu sudah membangunkan aku!" serunya kesal.
"Aku biasa bangun jam lima terus membantu ibuku dan yang paling penting mencoba menyalakan motorku. Jadi, kalau motorku tidak menyala, aku masih punya waktu menunggu angkutan umum.
"Huft! Aku tinggal bangun, bersiap, makan, lalu berangkat dan semua itu tidak membutuhkan waktu yang banyak. Kiara, sekarang kamu ada di rumahku dan tidak perlu bingung terlambat ke sekolah. Aku mau tidur lagi. Nanti jam enam lebih kamu bangunkan aku." Mega malah menarik selimutnya lagi dan menutupkan sampai pada kepalanya.
Kiara tampak bingung melihat hal itu. Tentu saja Mega bisa bangun semaunya karena dia bangun semua sudah tersedia dan tidak perlu repot memasak dan bingung naik apa ke sekolah.
"Kalau begitu aku mandi saja dan belajar lagi untuk menyelesaikan yang kemarin belum selesai."
"Kerjakan yang mau kamu kerjakan," ucap Mega dari balik selimut.
Kiara masuk ke dalam kamar mandi, dan selesai mandi dia membuka bukunya mengerjakan soal yang kemarin malam belum selesai dia kerjakan.
"Mega, aku pinjam bolpoin kamu. Ini punyaku habis ternyata, nanti aku beli di koperasi sekolah saja."
Mega tidak menjawab. Kiara yang membutuhkan bolpoin sekali lagi membangunkan Mega.
"Ara, jangan mengganggu aku."
"Aku mau pinjam bolpoin."
"Minta Arthur saja di kamarnya ada banyak," seloroh Mega dengan masih mata terpejam.
"Tidak mau, kamu mengesalkan sekali."
"Huft! Di laciku ada satu, ambil saja."
"Laci mana?" Kiara mengedarkan kedua matanya.
"Dekat lampu tidur, Kiara."
Kiara melihat laci yang dimaksud oleh Mega. Kiara membuka laci itu, dan benar saja ada satu bolpoin di situ. "Mega, ini foto siapa yang ada di laci?" Kiara ternyata juga tertarik melihat bingkai foto yang terbalik di sana.
Mega seketika membuka kedua matanya dan dengan cepat menyibak selimutnya. "Jangan melihatnya, Kiara!' Mega langsung menyambar bingkai foto yang hampir saja di ambil oleh Kiara.
"Kamu kenapa? Memangnya itu foto siapa? Kenapa kamu takut sekali aku melihatnya."
"Bukan takut, tapi aku malu, Kiara." Mega mendekap bingkai foto itu dengan erat.
"Malu kenapa? Memangnya itu foto apa?"
"Foto masa laluku dulu dan waktu itu aku jelek sekali sampai dihina oleh teman-temanku dulu."
"Bohong. Mana ada kamu jelek? Kamu itu cantik sekali. Kamu pasti bohong dan itu pasti foto pacar kamu yang kamu sembunyikan dariku. Kamu tidak menganggap aku sahabat lagi?"
"Tidak akan aku anggap kalau kamu memaksa ingin melihatnya. Aku tidak mau foto masa laluku dilihat oleh lainnya." Mega mendekap foto itu dan membawanya berbaring kembali.
"Mega, jangan begitu. Lagi pula aku tidak akan menghina fotomu itu. Sini aku lihat." Sekali lagi Kiara menggoyang-goyangkan tubuh Mega.
"Tidak mau pokoknya. Aku sudah trauma dihina oleh teman-temanku dulu."
"Aku tidak akan menghina kamu. Mana ada aku jahat sama kamu?"
"Jangan mengganggu aku Kiara!"
"Ya sudah kalau tidak mau memperlihatkan. Jahat." Kiara kembali pada bukunya dan mengerjakan soal latihannya. Setelah selesai Kiara melihat Mega yang masih tidur, kemudian dia pergi turun ke lantai bawah.
"Tidak semua hal bisa aku katakan sama kamu, Kiara. Kita memang sahabat, tapi bukan berarti semua kamu harus tau," kata Mega saat melihat Kiara keluar dari kamarnya.
Di lantai bawah Kiara melihat para pelayan di rumah Mega tampak sibuk dengan pekerjaanyan masing-masing. Kiara bingung mau apa di sana, dia ingin membantu apa juga bingung?
"Arthur!" serunya kaget.
"Hati-hati, Kiara."
"Kamu yang salah, kenapa mengagetkan aku?"
"Aku tidak bermaksud mengagetkanmu."
"Tuan muda Arthur ini teh hijaunya."
Seorang pelayan datang ke sana dan memberikan secangkir teh hijau yang kemudian langsung Arthur minum.
Pelayan yang usianya terlihat masih muda itu memandangi Arthur tanpa berkedip. Apa lagi saat ini Arthur hanya memakai celana olah raga tanpa atasan. Arthur baru saja selesai berolah raga di dalam rumahnya.
"Terima kasih."
"Iya Tuan Muda, kalau begitu saya permisi dulu."
Pelayan itu pergi dari sana, Kiara yang melihatnya juga ingin pergi dari sana, tapi sekali lagi Arthur menahan tangannya.
"Mau ke mana?"
"Aku mau ke dapur, siapa tau aku bisa membantu di sana, dari pada aku di sini melihat kamu mempamerkan tubuhmu pada para pelayan di sini. Tidak sopan."
"Memangnya ada yang salah? Aku setiap pagi kalau di sini memang selalu melakukan hal ini."
Kiara menatap wajah Arthur dengan tajam. "Kalau dulu sebelum kamu menikah hal itu mungkin wajar, tapi kamu sekarang seorang suami dari seseorang. Apa itu pantas?" Kiara berjalan pergi dari sana.
Arthur yang berkacak pinggang malah tersenyum mendengar apa yang istrinya baru saja katakan.
Kiara mengatakan pada pelayan di sana jika dia mau membantu memasak, tapi pelayan di sana tidak memperbolehkan karena Kiara adalah tamu Mega dan mereka tidak boleh malah membuat tamu Nona Mudanya bekerja.
"Tidak apa-apa, Bi. Aku mau membantu karena aku bingung mau berbuat apa sambil menunggu Mega bangun dan bersiap-siap."
Arthur yang sudah berada di sana dan sekarang dia sudah memakai kaos polosnya menyuruh pelayan di sana membiarkan Kiara membantu.
Pelayan itu akhirnya memperbolehkan Kiara membantu karena tuan mudanya yang menyuruh.
"Kamu mau membuat apa?"
"Aku hanya meneruskan saja apa yang dibuat."
"Sudah selesai semua, hanya tinggal membuat salad sayur kesukaan Nona Muda Mega, Tuan," jelas pelayan itu.
"Biar aku yang membuatnya. Kamu bawa saja beberapa hidangan ini ke meja makan."
"Baik, Tuan Muda." Pelayan itu pergi dari sana membiarkan Kiara dan Arthur masih di sana.
"Kalau sudah selesai aku ke kamar saja."
"Katanya mau membantu. Kita buat salad sayur saja."
"Aku tidak bisa membuatnya."
"Aku akan mengajarimu." Arthur melihat sekelilingnya kemudian dia mengecup pucuk kepala Kiara dengan cepat.
"Arthur! Kenapa menciumku?" Kiara mengedarkan pandangannya melihat sekitarannya karena dia takut jika ada yang melihat apa yang Arthur baru saja lakukan.
"Di perjanjian tidak ada kata-kata kalau aku tidak boleh menciummu 'Kan? Hanya tidak boleh memaksa kamu bercinta denganku." Arthur tersenyum miring dan kembali fokus pada sayuran yang ada di depannya.
Kiara terdiam menatap dengan bibir mengerucut. "Nanti kalau kamu buat surat perjanjiannya, ingatkan aku untuk menuliskan tidak boleh mencium seenaknya walaupun aku istrimu."