
Kiara dan suaminya sudah tiba di apartemen mereka. Kiara tampak senang bisa bermain dan berkenalan lebih dekat dengan Dean.
"Dean itu menyenangkan sekali anaknya ya, Mas, dia juga sangat bersemangat?"
"Iya, dia juga termasuk anak yang pandai dan humble." Arthur mengambil minum dan memberikan juga pada Kiara yang sedang duduk di kursi meja makan. Arthur pun duduk di samping istrinya.
"Saat melihat dia tadi, aku tidak membayangkan bagaimana ekspresinya saat dia tau jika kedua orang tuanya sudah tiada dan mba Manda bukan mami kandungnya, pasti dia akan sangat sedih. Aku berharap jika suatu saat dia mengetahui akan kebenarannya itu, dia sudah benar-benar siap untuk menerimanya, Mas."
"Aku juga berharap begitu, Ara. Jadi, sekarang kamu sudah tidak merasa cemburu lagi dengan Manda?"
"Kalau itu aku masih cemburu, Mas."
"Kenapa begitu?"
"Karena tadi aku melihat dari pandangannya, mba Manda itu memandang kamu seolah dia melihat pria yang sangat dia sukai."
"Oh Ya? Mungkin saja dia hanya mengangumi aku, Ara. Bukan suka seperti ingin menjadi kekasih."
"Mas, aku dan Mba Manda itu sama-sama perempuan, jadi aku paham dan mengerti dengan apa yang Mba Manda ekspresikan."
"Terus? Apa aku harus keluarkan dia dari pekerjaannya?"
"Jangan, Mas. Dia harus memiliki pekerjaan untuk mencukupi biaya hidupnya dan Dean. Mas tenang saja karena aku tidak takut kalaupun dia menyukai Mas Arthur sebab aku melihat di mata Mas Arthur itu yang ada hanya namaku."
Arthur langsung terkekeh. "Tau dari mana kalau yang ada di dalam mataku itu nama kamu? Memangnya ada tulisan nama Kiara Tizania di dalam mataku?"
"Ada, Mas, dan aku melihatnya setiap hari."
"Mana? Coba kamu lihat lagi, apa benar ada nama kamu?"
Arthur mendekatkan kedua matanya melihat dengan membulat pada wajah istrinya. Kiara pun akhirnya mendekat dan pura-pura mencari nama dia.
Kecupan cepat, tapi kena pas pada bibir Kiara membuat Kiara tersipu malu. "Mas Arthur! Kenapa sekarang sukanya menjahili aku?"
Kiara beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamar tidurnya.
"Mau sekarang? Tapi ini masih jam tujuh malam, Sayang," ucap Arthur sedikit berteriak.
"Siapa yang mau bercinta? Aku mau menyiapkan barang-barangku karena besok aku harus berangkat bertamasya dengan teman-temanku, Mas, dan kamu selamat menikmati tidur sendirian." Kiara malah memberikan senyum elegannya.
"Oh God! Kenapa aku bisa lupa kalau istriku harus pergi besok bertamasya dengan teman-temannya?" Arthur mengelap wajahnya kasar.
Arthur masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang menata semua bajunya di dalam tas ransel miliknya. Kiara tampak sangat senang karena hari yang dia tunggu akan tiba.
Ini moment terakhir dia bertemu dan berkumpul dengan teman-temanya. Acara sekolah yang terakhir.
"Ara, apa tidak boleh kamu ikut sehari saja acara ini dan izin pulang?"
"Apa? Mas, kamu itu jangan bercanda. Mana ada acara tour kelulusan sekolah berangkat bersama-sama dan pulang sendiri, kecuali ada urusan yang sangat penting?"
"Tiga hari itu lama Kiara."
"Sebentar, Mas. Kamu bisa mengajak Mas Gio menginap di sini, asal jangan membawa wanita lain ataupun pesta minum-minum, aku sama sekali tidak suka suamiku seperti itu."
"Aku sudah lama tidak menyentuh minuman beralkohol lagi, Ara. Pergi ke club malam juga tidak, apa lagi sampai bermain wanita, itu tidak ada dalam kamusku."
"Kamu ikut sehari saja, dan nanti kamu izin ada urusan penting agar kamu bisa pulang dan aku akan menjemput kamu di tempat yang kita sepakati." Arthur duduk di atas ranjang tepat di depan Kiara.
Wajah Kiara seketika mengkerut mendengar apa yang suaminya inginkan, dia juga tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya lepada suaminya yang awal dia bicara setuju jika Kiara ikut, tapi saat besok mau pergi, tiba-tiba seolah dia melarangnya.
"Mas, ayolah! Ini moment terakhir aku bersama teman-temanku. Aku dan Mega serta beberapa teman di sana sepakat naik ke atas bukit untuk melihat matahari terbit sembari membawa spanduk sekolah kami."
Arthur kembali mengingatkan dirinya jika istrinya ini seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah, pasti pemikirannya masih kadang belum matang, tapi dibalik itu semua, Arthur tau jika istrinya itu seseorang yang patut dia pertahankan.
"Iya, kamu boleh pergi," ucap Arthur malas.
"Terima kasih, Mas sayang." Kiara memeluk leher suaminya dan memberikan kecupan terima kasih di bibir Arthur.
***
Hari ini Kiara bersiap-siap akan pergi bertamasya dengan teman-temannya, dia dari pagi sudah menyiapkan makan pagi untuk suaminya dan bekal yang akan dia bawa untuk dimakan di dalam bus.
"Mas Arthur, aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kamu dan ada makanan yang bisa tinggal kamu hangatkan atau masak sebentar yang aku letakkan di dalam lemari es bagian atas."
"Hm!" Arthur hanya menjawab dengan.
deheman seolah dia sedang malas diajak bicara.
"Mas, kamu jangan tidur larut malam kalau aku tidak ada di sini. Nanti aku akan menghubungi kamu."
"Hm!" Sekali lagi Arthur hanya menjawab dengan deheman.
"Mas ini kenapa sih? Marah sama aku?"
"Tidak, aku tidak marah sama kamu, hanya saja membayangkan nanti malam aku harus tidur sendiri dan besok pagi bangun tanpa melihat wajah kamu baru bangun tidur itu rasanya ada yang kurang, Ara."
"Kamu bisa melihat wajahku di ponsel kamu saat bangun tidur. Kalau aku juga tidak mungkin menghubungimu pagi sekali karena aku satu kamar hotel dengan Mega."
Walaupun berat, akhirnya Arthur mengantar Kiara ke sekolahnya karena di sana sudah ada beberapa bus pariwisata yang akan membawa teman-teman Kiara dan Kiara sendiri untuk bertamasya.
"Apa tidak boleh aku antara sampai ke depan sekolah kamu saja, sekalian aku ingin melihat kamu sampai bus kamu berangkat."
"Nanti yang ada malah kita membuat heboh. Mas, aku mau pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik." Kiara memberikan ciuman pada bibir Arthur.
"Kiara." Arthur kembali menarik tangan Kiara dan dia sekarang yang malah memberi ciuman pada bibir Kiara. Dalam dan sangat dalam.
"Mas, aku mencintaimu." Kiara mengatakan itu sembari jemarinya menghapus bekas pelembab bibir dan lip glos pada bibir Arthur.
Kiara juga tidak lupa merapikan dirinya yang sedikit berantakan tadi.
"Kiara, kamu hati-hati dan ingat pesanku ini. Kamu langsung menghindar saja jika Elang mencoba mendekatimu."
"Kalau itu aku sudah tau, Mas, Mas tidak perlu khawatir."
Setelah mengecup punggung tangan suaminya, Kiara keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke gedung sekolahnya.
Di dalam hati Kiara seolah ada rasa yang sangat tidak enak. Dia rasanya kehilangan seseorang yang sangat penting baginya yang membuatnya ingin menangis.
.