
Arthur mengatakan dia akan mengundang teman-teman Mega untuk datang ke kamarnya mereka bertiga tampak senang tapi Arthur mengingatkan agar Mega dan teman-temannya meminta izin kepada wali kelas mereka.
"Senang sekali bisa mendapat undangan dari pria setampan kak Arthur," puji salah satu teman Mega yang berambut pendek.
"Terima kasih atas pujiannya, kalian berlima juga sangat cantik pasti kalian juga gadis-gadis yang sangat pintar."
"Kalau soal kepintaran itu milik Kiara, Kak Arthur, dia selain pintar juga sangat cantik. Kapten tim baseball saja sampai jatuh cinta sama dia, tapi sayang mereka sudah putus."
"Aduh, Tia, tidak perlu dibahas masalah itu, Elang akan bertunangan dengan Mega dan mereka berdua pasangan yang cocok."
"Kamu benar Kiara, Elang dan Mega memang pasangan yang cocok, hanya saja aku merasa sedikit aneh saja."
"Aneh? Aneh Bagaimana maksudmu?" tanya Mega penasaran.
"Kisah cinta seperti ini ternyata real ada di dunia nyata, ya. Berpacaran dengan sahabatnya, tapi menikah dengan sahabat satunya. Itu yang aku maksud, Mega, aku minta maaf bukan bermaksud menyinggung kamu karena memang jodoh itu tidak ada yang tahu."
"Memang jodoh itu tidak ada yang tahu dan dengan siapa kita berjodoh juga tidak ada yang tahu, tapi aku yakin Elang memang dijodohkan dengan Mega, kalian pasangan yang serasi." Kiara memeluk Mega.
"Aku tidak sabar menantikan Mega dan Elang menikah, pernikahan kalian pasti sangat spektakuler dan jangan lupa undang aku ya Mega. Siapa tahu nanti aku bertemu jodohku di sana atau siapa tahu aku berjodoh dengan kakakmu." Pandangan mata Tia melihat ke arah Arthur, dan wajah Tiara seketika berubah tidak seceria tadi dan Arthur dapat melihat hal itu.
"Maaf ya Tia sepertinya aku harus mematahkan harapan kamu itu."
"Loh, maksud Kak Arthur?"
"Aku sudah punya kekasih dan aku akan menikah dengannya sebentar lagi, kamu tenang saja nanti aku undang kok di acara pesta pernikahanku."
"Ya ampun! Kak Arthur serius?" Wajah Tia tampak sedih.
"Tentu saja Kakakku serius, Tia. Dia saja bahkan mau dijodohkan Mamaku dengan gadis yang sangat cantik, apa lagi dia seorang CEO, tapi kakakku menolaknya karena dia lebih memilih kekasihnya."
"Kalau begitu aku patah hati ini jadinya. Kak Arthur, jangan undang aku ke acara pernikahanmu ya karena aku tidak akan sanggup melihat Kak Arthur dengan istri Kak Arthur itu." Tia memeluk teman yang ada di sampingnya.
"Sabar, Tia." Teman yang dipeluk oleh Tia itu menepuk lengan tangan Tia untuk menenangkannya.
Seketika di sana semua tertawa bahkan Kiara pun yang tadinya cemberut juga tertawa. Arthur senang melihat istrinya itu bisa tertawa.
Arthur dan Kiara juga sebenarnya merencanakan, nantinya jika pernikahan mereka sudah terpublish, Arthur akan membuat pesta pernikahan yang meriah dan megah agar orang-orang tahu jika dia sudah memiliki seorang Istri yang sangat cantik dan baik.
"Ya sudah, nanti malam jangan lupa datang, ya."
"Tentu saja, Kak!" Mereka berseru secara serentak.
"Hai, kamu Kiara, kan?"
Tiba-tiba ada seorang pria yang jika dilihat usianya beberapa tahun di atas Kiara. Dia menepuk pundak Kiara.
Kiara melihat pria itu dan mukanya tampak bingung. "Kamu siapa dan kenapa kamu bisa tahu namaku?"
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini dan kenapa kamu bertanya seperti itu apa kamu lupa denganku?"
"Maaf, Tapi aku benar-benar tidak tahu siapa kamu ingatanku sangat kuat, dan aku benar-benar tidak pernah merasa mengenalmu."
"Ayolah, Kiara! Apa karena di sini banyak teman-teman kamu jadinya kamu malu jika kamu mengenalku?"
Wajah Kiara benar-benar bingung karena dia tidak tau siapa lelaki yang bilang mengenalnya.
"Aku benaran tidak ingat siapa kamu. Tolong, mungkin saja kamu salah orang."
"Aku tidak salah orang, kamu malah pernah bercerita tentang masalah keluargamu dulu, di mana ayahmu dituduh mencuri uang perusahaan dan kamu menangis di dalam pelukanku, Kiara."
"Apa? Tolong, ya, kamu jangan berkata hal yang bohong. Aku sama sekali tidak pernah bercerita apapun padamu, mengenalmu saja aku tidak, bagaimana aku bercerita padamu apalagi sampai menangis dalam pelukanmu." Kiara sekarang tampak gusar dan tidak percaya dengan apa yang lelaki di depannya ini sedang katakan.
"Kiara, jangan seperti itu. Aku ingin menjadi teman baikmu bahkan aku senang saat kamu mengatakan nyaman didalam pelukanku. Aku mau jadi tempat ternyaman untukmu." Tangan lelaki itu seketika memegang tangan Kiara dan sontak saja hal itu membuat darah Arthur langsung mendidih.
"Kamu siapa? Jangan ikut campur urusanku dengan Kiara, aku sangat mengenal Kiara, kami bahkan sudah dekat. Jadi, kamu jangan ikut campur urusanku dengannya."
"Dekat? Dekat yang bagaimana maksud kamu? Jangan bicara hal yang tidak benar, Kiara itu gadis baik-baik, dia tidak akan asal mengenal seorang pria, apa lagi yang penampilannya seperti kamu." Arthur memindai lelaki itu dari atas ke bawah.
"Mas Arthur, sebaiknya tidak perlu dipedulikan lelaki ini, aku tidak mengenalnya sama sekali. Jadi tidak perlu dipedulikan." Kiara mencoba menenangkan suaminya itu dia menarik lengan tangan Arthur agar menjauh dari lelaki itu.
"Dasar gadis tidak tahu diri! Beberapa hari yang lalu kamu senang berbaring di pundak, bahkan saat aku memelukmu pun kau sangat menyukainya. Di sini kamu pura-pura tidak mengenalku. Apa uang yang aku berikan kurang ya untuk kamu?"
Rasanya ada pisau tajam yang menikam jantung Kiara mendengar apa yang lelaki itu katakan barusan.
"Hei! Jaga mulut kamu! Kamu jangan bicara sembarang tentang temanku." Mega langsung marah dan membela Kiara.
"Aku minta maaf jika tanpa sengaja pernah bersalah denganmu, tapi aku sama sekali tidak mengenalmu, dan kata-katamu itu benar-benar sangat menyakitkan. Aku tidak pernah meminta uang darimu, aku juga tidak pernah mengatakan menyukai pelukanmu. Kamu itu siapa? Aku tidak mengenalmu!" Kiara yang hatinya sangat kesal dan sakit berteriak bicara dengan lelaki.
"Jangan bicara yang tidak-tidak tentang Kiara, Pergi kamu dari sini!" Elang tiba-tiba membentak pria itu dan mendorong tubuh pria itu agar pergi dari hadapan mereka.
"Jangan menyentuhku! Gadis itu mengenalku, bahkan kami pernah sangat dekat, tapi aku tidak masalah jika dia tidak mengakuinya." Lelaki itu mengeluarkan dompetnya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang yang kemudian dia lempar seenaknya pada Kiara.
Arthur yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi langsung menghajar lelaki itu. "Brengsek! Kamu pikir siapa gadis itu? Dia gadis baik-baik." Arthur sudah berada di atas tubuh pria yang wajahnya sudah babak belur dan ada darah di sekita bibirnya.
Kiara yang melihat hal itu hanya diam saja, dia benar-benar sakit hati mendengar tuduhan dan perilaku yang lelaki itu tujukan padanya.
Semua di sana mencoba melerai Arthur dan lelaki itu sampai akhirnya lelaki itu diusir pergi dari sana.
Kiara yang shock dengan kejadian tadi ditenangkan oleh teman-temannya. "Aku benar-benar tidak mengenal lelaki itu, kenapa dia bicara sangat kasar dan bahkan sampai melakukan perilaku buruk seperti itu?" Tangisan Kiara semakin keras.
"Kamu tenang saja, Kiara, kami ini temanmu dan kami mengenal siapa kamu, kamu bukan gadis seperti apa yang lelaki itu katakan." Tangan Tia menggosok-gosok perlahan punggung Kiara untuk menenangkan Kiara.
"Tapi aku juga merasa aneh, kenapa dia bisa tahu kasus tentang ayahmu dulu?" ucap gadis yang duduk di sebelah Tia
"Dea, kasus Ayah Kiara yang dulu itu bukan sebuah rahasia lagi. Jadi, semua pasti tahu hanya saja aku bingung, pria itu sebenarnya punya maksud apa, ya sampai melakukan dan berbicara hal tadi pada Kiara?"
"Apa jangan-jangan pria itu diam-diam menyukai Kiara? Dan ini salah satu balas dendamnya ingin menyakiti, membuat malu Kiara maksudnya."
"Coba saja tadi lelaki itu tidak disuruh pergi, kita bisa menginterogasinya. Jadi, kita tahu maksud dia sebenarnya berbuat hal seperti itu. Sekarang banyak orang gila memang," ujar Tia sebal.
Kiara menghapus air matanya saat melihat Mega datang ke tempat di mana Kiara dan teman-teman lainnya sedang berkumpul.
"Mega, keadaan Kakak kamu bagaimana? Apa dia ada yang terluka?" Kiara sebenarnya juga mencemaskan suaminya yang tadi bertengkar dengan lelaki tidak jelas.
Mega duduk dan dia mengatakan bahwa keadaan Kakaknya baik-baik saja. Kakaknya mengalami luka di bagian tepi bibirnya karena tadi sempat terkena pukulan pria aneh itu.
"Kiara, apa kamu serius tidak mengenal lelaki tadi?" Mega mencoba mencari tau karena lelaki tadi kenapa sangat memaksa jika dia kenal dengan Kiara.
"Aku sama sekali tidak mengenalnya, Mega. Bertemu saja baru saja di sini, bagaimana bisa aku memiliki hubungan dengannya?"
"Ya sudah kalau begitu kamu tenangkan lagi dirimu dan tidak perlu memikirkan masa ini lagi, anggap saja masalah ini sudah selesai."
"Aku benar-benar tidak tau kenapa sampai kejadian seperti ini menimpaku?" Kiara menelusupkan jemarinya di antara rambutnya dan menundukkan wajahnya kembali menangis.
Teman-teman Kiara yang ada di sana hanya bisa saling melihat satu sama lain.
Mega yang duduk di sebelah Kiara hanya bisa memeluk sahabatnya itu guna ingin menenangkannya.
Rombongan bus sekolah Kiara kembali menuju hotel di mana mereka menginap. Kiara terlihat tampak sudah lebih baik karena teman-temannya selalu memberi dia dukungan dan semangat agar tidak mengingat kembali kejadian buruk itu.
"Elang, tadi apa yang dilakukan oleh Arthur benar-benar tindakan superhero yang membela kekasihnya. Aku benar-benar salut padanya."
Elang sekali lagi kesal dengan pujian yang Morgan selalu tujukan pada Arthur. "Mo, kamu itu sebenarnya temannya siapa, sih? Kenapa dari tadi membela Arthur? Kamu dibayar sama dia?"