
Ponsel Kiara berdering dan ada nama Arthur di sana. Kiara tampak terkejut mendengar bunyi ponselnya karena dia benar-benar shock dengan pengakuan Elang.
"Sebaiknya kamu kembali restoran, aku tidak mau nanti Kak Arthur salah paham melihat kita berbicara di sini."
Kiara segera menjawab panggilan suaminya dan mengatakan jika dia akan segera ke sana karena baru saja selesai. Kiara terpaksa berbohong karena dia masih ingin bicara dengan Elang.
Kiara bukannya ingin ikut campur, tapi ini menyangkut dengan kehidupan yang akan di jalani adik iparnya sekaligus sahabatnya
"Lang, apa Karin tau kamu akan menikah?"
"Aku sudah menceritakan semuanya, dia sebenarnya menginginkan agar aku tetap menikahi Mega dan melupakan apa yang terjadi malam itu, tapi aku bukan pria pengecut dengan meninggalkan Karin setelah apa yang aku lakukan."
"Tapi sekarang bagaimana, Lang. Bagaimana kalau sampai Karin hamil?"
"Tentu saja aku akan bertanggung jawab padanya, tapi tidak dengan meninggalkan Mega karena aku tidak mau menyakiti Mega dan keluargaku."
"Oh Tuhan, Lang, kenapa semua ini sampai terjadi di saat hari pernikahanmu sudah dekat?" Kiara sampai memegang kepalanya.
"Kiara, aku minta maaf jika sampai membuatmu memikirkan apa yang aku ceritakan saat ini."
"Oh ya, Lang, kamu bilang Karin yatim piatu dan tinggal sendiri di sini, apa tidak ada saudaranya di sini? Jujur saja aku memikirkan bagaimana dia kuat melalui hal buruk saat kamu melakukan sesuatu yang buruk padanya."
Elang terdiam sejenak, kemudian dia menatap Kiara datar. "Dia sebenarnya memiliki kekasih yang sudah lama berpacaran dengannya, tapi mereka LDR. Kekasihnya akan menemuinya satu bulan sekali karena kekasihnya bekerja di luar pulau, tapi sejak kejadian denganku, Karin terpaksa memutuskan hubungannya dengan kekasihnya itu."
"Apa?" Seketika bayangan masa lalu tentang Kiara dan Arthur serta Elang melintas dalam pikirkan Kiara.
"Kiara sebaiknya kamu kembali ke restoran karena aku mau pulang. Tadi sebenarnya aku izin pulang, tapi aku ke sini sebentar untuk bertanya kenapa kamu menghubungiku berkali-kali, dan aku sudah mendapat jawabannya.
Kiara pun berpikir jika dia sebaiknya kembali agar suaminya tidak cemas, dan jika Arthur sampai menyusul kemudian melihat dirinya dan Elang, takutnya Arthur akan salah paham.
"Lang, aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat untuk masalahmu ini. Aku permisi dulu."
Kiara berjalan pergi dari hadapan Elang. "Kiara, seharusnya kamu bisa mencarikan solusi dari masalahku karena kamu pun pernah berada di posisi Karin. Kamu meninggalkan aku dan lebih memilih pria yang sudah mengambil kehormatanmu. Adik kakak ini akan mendapat balasan atas apa yang sudah mereka perbuat pada kita."
Elang pun akhirnya berjalan pergi dari sana. Acara makan malam pun selesai, Kiara diajak pulang ke apartemen oleh Arthur.
Arthur tampak sedikit heran dengan istrinya yang dari tadi di dalam mobil hanya diam saja tidak mengajaknya bicara.
"Sayang, apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" Kiara tidak menjawab pertanyaan Arthur karena dia pikirannya memang sudah melayang memikirkan ucapan Elang.
"Sayang, kamu kenapa?" Tangan Arthur menggenggam tangan Kiara, dan sontak saja membuat Kiara sadar dari lamunannya.
"Sudah sampai ya, Mas?" Kiara malah sadar di sudah ada di basement apartemennya.
"Kiara, kamu kenapa? Apa yang terjadi?"
"Ah! A-aku tidak apa-apa, Mas." Kiara tidak mungkin cerita tentang apa yang Elang katakan tadi.
"Sayang, kamu jangan bohong padaku. Katakan! Apa yang membuat kamu sampai melamun dari tadi? Bahkan kamu tidak mengajakku berbicara selama di dalam mobil."
Kiara terdiam sejenak, dia benar-benar bingung saat ini. Dia harus bercerita pada suaminya atau tidak?
"Mas, ada yang ingin aku katakan sama kamu, tapi kamu jangan marah," Kiara berkata dengan ragu-ragu.
"Kita turun saja dulu, dan kita bicara di dalam kamar."
Kiara mengangguk dan Arthur menggendong istrinya sampai mereka berada di dalam kamar tidur mereka.
Kiara meminta untuk berganti baju dulu dengan piyama tidur dan mereka bisa bicara dengan suasana santai sembari berbaring karena Kiara juga merasakan capek dari tadi berdiri bicara dengan Elang.
"Aku dengar dulu kejujuran apa yang akan kamu katakan. Kalau kamu mengatakan tentang pria lain, tentu saja aku akan marah."
"Mas Arthur ini! Ini bukan tentang aku, tapi tentang--."
"Tentang siapa? Kenapa malah tidak meneruskannya?"
"Janji jangan marah dulu."
"Iya, Sayang, kamu katakan saja." Arthur mengecup dahi Kiara dengan lembut.
"Ini tentang Elang, Mas," ucap Kiara lirih.
"Apa?" Arthur yang sedang mengecup dahi Kiara seketika tersentak kaget saat mendengar nama Elang.
"Ada apa dengan Elang? Apa dia mencoba mendekatimu lagi?"
"Mas kenapa langsung marah begitu mukanya? Katanya tadi tidak akan marah."
"Kiara, kamu tau sendiri kalau aku masih belum percaya seratus persen dengan calon adik iparku itu."
"Mas, dengarkan dulu aku bercerita. Elang itu sudah melupakan aku dan dia serius ingin menikah dengan Mega, tapi--."
"Tapi apa, Kiara?"
"Terjadi sebuah insiden dengan Elang, Mas?"
"Maksud kamu? Bukannya tadi kita baru saja bertemu dengan Elang dan dia baik-baik saja."
"bukan insiden itu, Mas." Kiara sekarang tampak bingung mau bercerita bagaimana?
"Lalu apa, Kiara?"
"Mas, Elang tidak sengaja menodai seorang gadis saat dia dalam keadaan mabuk."
"Apa?" Kedua mata Arthur membulat sempurna.
"Mas, mobil Elang waktu itu hampir menabrak seorang gadis, dan gadis itu malah membantu Elang saat tau Elang dalam keadaan mabuk, tapi di dalam mobil Elang malah menodainya."
"Keterlaluan! Aku akan bicara pada Elang."
"Untuk apa, Mas?"
"Elang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya pada gadis itu, Kiara." Arthur beranjak dari tempat tidurnya.
"Mas, besok Mega dan Elang akan menikah!"
Ucapan Kiara seketika menghentikan langkah Arthur. Arthur menoleh pada Kiara yang sekarang berdiri di depannya.
"Mas, bagaimana dengan pernikahan Mega jika Mas menyuruh Elang bertanggung jawab dengan gadis itu?"
Wajah Arthur seketika bingung. Dia duduk di sofa sembari mengusap wajahnya kasar. "Tapi apa yang dilakukan oleh Elang itu sangat buruk Kiara, seperti apa yang aku lakukan dulu sama kamu." Tangan Arthur mengusap lembut pipi istrinya.
Kiara mengangguk perlahan. "Mas, Elang juga sangat menyesal sudah melakukan hal itu. Dia pun sekarang bingung harus berbuat apa? Di satu sisi dia sudah jatuh cinta pada Mega dan serius ingin menikah Mega, tapi di sisi lain dia tidak bisa lepas tangan atas apa yang sudah dia perbuat pada Karin."
"Mega pasti akan sangat hancur dan bahkan dia bisa gila jika tau kejadian ini. Oh God! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Arthur menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menumpu pada kepalanya.
"Kita hanya bisa membiarkan pernikahan ini tetap berlangsung, Mas, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi."