Be Mine

Be Mine
Sharing



Gio yang mendengar cerita Arthur bukannya prihatin, malah tertawa dengan senangnya, dan hal itu justru membuat Gio mendapat lemparan bolpoin.


"Keluar sana! Kenapa juga aku bercerita sama kamu?"


"Ya ampun! Kamu begitu saja sudah ngambek. Dengar ya, Arthur! Kamu itu memiliki segalanya, dan Kiara itu bukan wanita bodoh yang akan meninggalkan kamu demi seorang mahasiswa yang kadang kuliah saja meminta uang kedua orang tuanya, lagi pula aku yakin jika istrimu itu wanita yang setia. Dia bukan Selena, jadi kamu tenang saja."


Arthur tampak terdiam sejenak. Dia kembali memikirkan apa yang baru saja istrinya ceritakan tadi karena sikap posesifnya yang berlebihan membuat Kiara dalam masalah, hal yang tidak seharusnya Kiara dapatkan apa lagi Kiara sedang hamil.


"Aku memang harus percaya pada istriku. Ya sudah kalau begitu kamu ikut denganku sebentar karena aku ingin menunjukkan sesuatu sama kamu dan aku ingin mengetahui pendapat kamu."


"Memangnya apa yang mau kamu tunjukkan padaku?" Wajah Gio tampak bingung.


"Sudah! Kamu ikut saja."


Dua pria yang sudah bersahabat sejak lama itu meninggalkan perusahaan Arthur dan pergi ke suatu tempat.


Kembali ke kampus Kiara, wanita itu sedang memasukkan daun-daun kering yang baru saja dia sapu dan dia masukkan ke dalam tong sampah.


"Kiara, mau aku bantu?" suara Momo seketika ada di sana.


"Momo? Kenapa kamu ada di sini?"


"Kita di suruh minta tanda tangan para kakak panitia minimal sepuluh orang yang harus tanda tangan dan aku sedang berkeliling mencari mereka, dan aku ke sini dulu untuk menemui kamu."


"Pekerjaanku sudah selesai. Jadi, sekarang aku juga harus berkeliling mencari mereka juga?" Wajah Kiara sepertI terlihat malas. Baru saja dia selesai mengerjakan hukumannya dan sekarang dia harus berkeliling.


"Kamu istirahat dulu kalau capek, dan soal tanda tangan itu biar aku yang meminta tolong sama Kiano agar menyuruh anggotanya mau tanda tangan agar kita tidak susah mencarinya."


"Memang boleh seperti itu?"


"Di buat boleh saja. Kamu tenang saja." Tangan Momo menepuk-tepuk pundak Kiara.


"Kamu jangan membuat kita nanti mendapat hukuman. Hukuman ini saja sudah capek."


Momo malah tertawa dengan senangnya. "Kamu jangan khawatir karena ada Kiano yang pasti akan menjadi dewa penolong kamu." Momo menaik turunkan kedua alisnya bergantian.


"Dia bukan dewa penolongku. Tadi itu hanya kebetulan saja, dan kalaupun bukan aku yang berada di posisi tadi, pasti dia juga akan menolongnya."


Kiara duduk di bangku panjang yang ada di taman itu dan dia mengambil botol air minumnya untuk menghilangkan dahagnya karena capek.


"Bagaimana kalau Kiano melakukan hal itu karena suka sama kamu, Kiara?"


Brurr...


Kiara yang kaget mendengar pertanyaan Momo sampai menyemburkan air minumnya. "Kiara hati-hati kalau minum, apa ucapanku mengangetkan kamu?"


"Tentu saja, kenapa kamu malah berpikiran seperti itu? Jangan bicara hal yang hanya kamu duga sendiri dan tidak ada kebenarannya, apa lagi Kak Kiano itu mahasiswa yang populer di sini, aku tidak mau terkena masalah."


"Aku bicara seperti itu karena melihat sikap Kiano sama kamu, lagi pula apa salahnya kalau hal itu benar? Apa kamu sudah punya kekasih?"


"Aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai dan sayang dalam hidupku."


"Benarkah?" Momo tampak kaget. Kiara mengangguk dengan cepat. "Aku ini memang bodoh! Sudah pasti kamu memiliki kekasih karena kamu gadis yang cantik dan sangat lembut, dan tidak mungkin kamu masih jomlo. Kalau aku jomlo itu wajar karena memang tidak ada yang mau sama gadis yang tidak suka diatur atau harus bersikap manis dan perhatian seperti aku karena memang bagiku, kalau punya pacar itu ribet dan pasti tidak bebas."


"Jadi, kamu belum punya pacar?"


"Jangan menghinaku, Kiara," ucap Momo malas.


"Aku tidak menghina kamu, tapi aku serius bertanya. Bukannya tidak ada yang mau sama kamu, hanya saja memang kamu belum menemukan yang cocok sama kamu dan aku yakin suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan pasangan yang sefrekuensi sama kamu, pasangan yang bisa tau apa yang kamu inginkan."


"Ya nanti dilihat saja, tapi untuk saat ini aku memang masih bahagia menikmati kehidupanku, tanpa harus memimirkan apa kekasihku orang setia? Apa dia tidak sedang berbohong padaku saat kita tidak bersama?" Ribet pokoknya Kiara.


Kiara malah tersenyum kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Momo. Kiara melihat jika Momo ini sebenarnya sosok yang baik dan menyenangkan, apa lagi Momo ini suka bicara apa adanya.


"Kamu di sekolahmu dulu juga tidak pernah berpacaran?"


"Tidak pernah karena aku melihat teman-temanku yang memiliki pacar banyak sedihnya dari pada bahagianya, mereka sering ada masalah, kalau tidak selingkuh, atau cemburu buta, atau kalau tidak lupa bertanya kamu sudah makan belum? Itu saja bisa jadi masalah." Momo menepuk jidatnya.


Kiara sekali tertawa mendengar apa yang Momo ceritakan. "Teman kamu dulu pasti sangat menyenangkan."


"Iya, menyenangkan dan sangat ribet. Oh ya, Kiara! Ceritakan tentang kekasih kamu. Bagaimana orangnya? Dan dia kuliah di mana?"


"Dia sangat baik dan terlalu mencintaiku."


"Sweet sekali." "


"Tapi dia bukan seorang mahasiswa, dia sudah bekerja."


"Bekerja? Dia tidak kuliah karena tidak ada biaya atau apa?"


"Di sudah lulus sejak lama. Usiaku dan dia agak sedikit jauh jaraknya."


"Oh... Jadi, pacar kamu sudah om-om?" Momo sampai mendelik kedua matanya saat mengatakan hal itu.


"Dia memang bisa dibilang sudah Om-Om, tapi bagiku dia pria yang dewasa dan dia sangat baik memperlakukan aku."


Momo mencoba duduk dengan benar pada bangkunya karena tadi saat dia mendengar tentang kekasih Kiara, Momo sangat terkejut.


"Kamu masih muda dan cantik, Kiara, tapi kenapa mencari pria yang usianya di atas kamu?"


Kiara memberikan senyum manis pada Momo. "Takdir seseorang itu tidak ada yang tau, Momo. Aku sangat mencintai kekasihmu walaupun jarak usia kami jauh karena aku tidak melihat hal itu, yang aku lihat hanya kebaikan hati yang dia miliki."


"Apa dia seorang duda keren?"


Kiara seketika langsung tertawa ngakak. "Dia masih perjaka saat aku kenal dengannya. Pokoknya dia tidak seperti apa yang ada dipikiran kamu saat ini. Pasti kamu berpikir jika aku pacaran dengan seorang duda punya anak dan aku pasti mau bukan karena melihat hatinya saja, tapi karena dia sudah matang dan mapan."


Momo gantian langsung terkekeh. "Kenapa kamu bisa tau, Kiara?"