
Arthur sudah merapikan semuanya. Dia juga memasukkan beberapa alat tulis ke dalam tas Kiara.
Senyum aneh tiba-tiba terlukis dari bibir pria tampan itu tatkala dia melihat sesuatu yang dari tadi mengganggunya. "Botol termos ini sangat mengganggu pikiranku." Arthur mengambil botol itu dan memperhatikannya dengan wajah kesal.
"Kenapa aku kembali merasakan hal ini? Tenang Arthur, istrimu itu wanita yang sangat setia dan mencintaimu. Percaya padanya. Jangan sampai saja ada yang berani menggoda istriku, aku bisa melenyapkannya kalau dia berani merusak kebahagiaanku," Arthur berdialog sendiri dan dia sekarang naik ke lantai atas untuk tidur menyusul istrinya.
Pagi itu Kiara sudah bangun, dia bangun pagi-pagi sekali karena dia teringat akan tugasnya. Dia yang kemarin ketiduran takut jika suaminya belum selesai menggambar.
Kiara melihat wajah suaminya yang tidur dengan pulas tidak jadi membangunkannya. Kiara turun ke bawah dan memeriksa tas kuliahnya.
"Sudah selesai ternyata. Suamiku itu memang pria terbaik yang aku miliki. Sayang, kamu pasti bangga memiliki ayah seperti ayah kamu itu. Dia selain baik juga pandai sekali." Kiara mengusap perutnya lembut.
Tidak lama bibi Yaya datang, dia melihat Kiara yang ada di ruang tengah tampak keheranan.
"Kiara, kamu kenapa? Pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri?"
"Bibi lihat." Kiara menunjukan gambar yang dibuat oleh suaminya.
"Bagus sekali, kamu yang menggambar?"
"Kalau aku yang menggambar, gambarnya pasti hanya ada warna hitam dan putih. Ini hasil karya Mas Arthur. Bagus sekali ya, Bi. Suamiku memang hebat."
"Arthur memang dari kecil suka menggambar, dia pernah menggambar wajah keluarganya dan dipajang dengan indah oleh mendiang ibunya di rumah peninggalan."
"Aku ini bodoh sekali ya, Bi."
"Bodoh apanya?"
"Ya bodoh! Masak aku tidak tau apa saja keahlian yang dimilik suamiku."
"Bukan bodoh, Kiara! Hal itu wajar kalau kalian belum paham dan tau akan diri masing-masing. Bagaimanapun juga pernikahan kalian baru seumur jagung yang terpenting rumah tangga kalian harmonis. Ada yang pasangan suami istri tau segala hal tentang pasangannya, tapi kenapa tiba-tiba berpisah? Karena mereka hanya tau tentang hal yang disukai atau tidak disukai pasangannya, tapi tidak tau untuk menjaga rumah tangganya, padahal itu yang terpenting."
"Benar sekali ucapan Bibi. Bi, kalau begitu aku akan bersiap-siap dan membangunkan Mas Arthur."
Kiara berjalan kembali ke kamarnya. Dia melihat jika suaminya ternyata sudah bangun.
"Mas, kamu sudah bangun? Padahal aku baru saja mau membangunkan kamu."
"Tentu saja sudah bangun karena aku ingin meminta bayaranku pagi-pagi, nanti kalau jamnya mepet kamu bisa mencari alasan kalau jam kuliahmu sudah mepet."
"Ya ampun! Ternyata karena itu. Baiklah! Karena pekerjaan Mas yang sangat bagus, maka aku akan memberikan bayaran yang setimpal." Kiara mengunci pintunya karena ingat ucapan Bi Yaya. Setelah mengunci pintu, Kiara berjalan berlenggak lenggok menggoda dengan tangan melepaskan satu persatu baju yang dia gunakan.
"Wow! Ternyata istriku sangat pandai dalam memberikan balasan atas kerja kerasku. Aku menyukainya?"
Arthur yang duduk bersandar pada tepi tempat tidur tidak melepaskan pandangannya dari sosok wanita yang berjalan mendekatinya dan hanya memakai pakaian dalam saja.
Kiara merangkak perlahan naik ke atas tempat tidurnya dan mendekat ke arah Arthur. "Aku akan memberimu bayaran yang sangat mahal karena pekerjaan kamu benar-benar menakjubkan."
"Aku milikmu, Sayang."
Kiara duduk di atas tempat pangkuan Arthur, dan seketika membuat pria itu tampak terkejut tidak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Sayang, apa benar ini kamu?" tanya Arthur memastikan.
"Aku bukan Kiara, tapi aku wanita penggoda yang khusus untuk menggoda seorang Arthur Maxian Lucas."
Arthur sampai tertawa sembari menutupi sebagian wajahnya. "Okey! rayulah aku sekarang, sayang. Aku ingin melihat bagaimana caramu melakukannya."
Kiara mulai mengecupi leher suaminya perlahan-lahan dan hal itu membuat Arthur merasakan geli, tapi dia menyukainya.
"Lanjutkan, Sayang," ucapnya lirih.
Kiara kembali menghujani ciuman tepat pada leher Arthur. "Sayang, kenapa aku merasa tubuh kamu semakin bertambah berat?"
Kiara seketika menghentikan gerakannya. "Ih! Mas Arthur menyebalkan!" Kiara yang tiba-tiba menjadi kesal turun dari pangkuan suaminya.
"Sayang, kamu mau ke mana?"
"Aku mau mandi kemudian berangkat kuliah." Kiara tampak kesal pada Arthur yang tiba-tiba mengatakan jika dirinya semakin berat.
Kiara masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. "Sayang, kamu kenapa malah marah?" Arthur mengetuk pintu kamar mandi, tapi Kiara tidak mau membukakan pintunya.
"Aku tau, tadi itu aku hanya ingin mengatakan apa yang aku rasakan saja, Sayang."
Pintu kamar mandi tiba-tiba dibuka oleh Kiara. Kiara melihat dengan tatapan kesal pada pria yang ada dihadapannya.
"Mas tidak suka ya kalau aku gendut? Kenapa? Mas takut aku jelek?"
"Sayang, aku tidak bermaksud menghina tubuhmu, lagi pula aku suka melihat kamu gendut dengan perut buncit. Kamu pasti terlihat lebih cantik dan menggoda," ucap Arthur lirih dengan tangan yang mengusap lembut pada bibir Kiara.
"Jujur ya, Mas, aku tidak takut gendut, malahan aku senang, tubuhku berubah karena ada bayi kecil yang tumbuh dengan sehat di rahimku, hanya saja tadi ucapan Mas bikin orang kehilangan mood saja."
Arthur ini harusnya mengerti perasaan yang ibu hamil rasakan. Perasaan yang bisa berubah seketika, tapi memang tadi Arthur tidak bermaksud menghina tubuh istrinya.
"Ya sudah kalau begitu aku minta maaf dan kita lanjutkan tadi yang belum selesai." Arthur menarik pinggang Kiara mendekat ke arahnya.
"Sudah tidak mood," jawab Kiara kesal dengan mulut manyun.
"Ikut denganku dan aku akan membuat mood kamu kembali muncul." Arthur menaik turunkan kedua alisnya.
Kiara sebenarnya ingin tertawa melihat hal itu, tapi dia coba tahan karena tidak mau begitu gampang dirayu oleh suaminya. "Tidak lucu," ucapnya masih terlihat kesal.
Arthur menunduk dan langsung menghujani kecupan pada perut Kiara yang polos. Kiara tiba-tiba tertawa kegelian karena ulah suaminya itu.
"Mas, hentikan!" terdengar suara tawa Kiara di sana. Arthur akhirnya membawa tubuh istrinya yang hanya masih dibalut pakaian dalam ke atas tempat tidur dan dia pun berhasil mengembalikan mood baik istrinya.
***
Arthur mengantar Kiara ke kampusnya. Kiara tampak bingung melihat suaminya yang masih berdiri di sana padahal dia sudah meminta izin bahkan mengecup punggung tangan suaminya.
"Mas, aku mau masuk ke dalam dulu. Mas tidak berangkat ke kantor?"
"Mana yang bernama Kiano? Biar aku yang memberikan botol termosnya itu dan mengucapkan terima kasih karena sudah menolong kamu."
"Ya ampun, Mas! Biar aku saja yang memberikan. Mas jangan begitu, dia itu hanya menolong aku, tidak ada maksud lainnya."
"Makannya, aku mau mengucapkan terima kasih sama dia, apa tidak boleh?"
"Tapi kenapa aku menangkap hal lain selain terima kasih. Aku melihat ada kecemburuan di mata, Mas."
"Tidak ada. Oh ya, Kiara, apa kamu tidak tau dia sudah datang apa belum?"
"Tentu saja aku tidak tau, aku, kan bukan kekasihnya, aku istrinya Mas Arthur. Mas, aku sudah terlambat masuk."
"Ya sudah, tapi nanti setelah memberikan termosnya langsung pergi, tidak perlu bicara panjang lebar."
"Memangnya aku mau bicara apa sama dia. Mas Arthur mengesalkan!"
"Ya sudah, aku pergi, nanti aku jemput kamu." Arthur mengecup kening Kiara. Arthur masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
"Ya ampun! Sudah terlambat!" seru Kiara yang melihat angka yang ditunjukan oleh jarum jam tangannya.
Kiara segera berjalan dengan cepat menuju dalam gedung. Dia tidak mau berlari karena ingat ucapan suaminya.
Kiara melihat semua anak-anak sudah berbaris di lapangan.
"Kamu! Sini!" panggil suara yang Kiara sudah kenali dari kemarin.
Momo melihat kaget pada Kiara. "Aduh! Kiara kenapa baru datang? Kiano juga mana lagi?" Momo celingukan mencari Kiano yang belum terlihat di sana.
"Iya, Kak." Kiara berjalan mendekat dengan perasaan takut.
"Hem! Kenapa baru datang?" tanya Delia dengan nada suara yang tinggi.
"Maaf, Kak, sebenarnya aku sudah datang dari tadi, tapi di depan aku mencari dompetku yang tertinggal di mobil." Kiara terpaksa berbohong, dia tidak mungkin cerita sedang berdebat dengan suaminya perkara botol termos milik Kiano.
"Jangan banyak alasan! Sudah datang terlambat, tidak memakai atribut yang diperintahkan lagi! Sok berani sekali kamu."
"A-aku bawa kok, Kak." Kiara yang mengeluarkan atributnya dengan tergesah-gesah membuat semua isi tasnya jatuh.
"Pelan-pelan saja, Kiara," ucap pria yang tadi dicari oleh Momo.