
Mega pergi dari apartemen Kiara dengan memegang pipinya yang terkena tampar oleh Kiara. Kiara terduduk di lantai sambil menangis sejadi-jadinya.
Bibi Yaya yang mendengar tangisan Kiara seketika berlari menuju di mana Kiara berada. Wanita paruh baya itu tidak tau apa yang sedang terjadi dengan Kiara karena dia tadi selesai membersihkan kamar Arthur dan Kiara yang ada di lantai atas.
"Kiara, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Bibi Yaya memeluk Kiara yang sedang menangis.
"Aku bukan orang jahat yang ingin membuat sahabatku sendiri menderita, Bi."
"Sahabat kamu? Maksud kamu apa, Kiara?" Bibi Yaya tampak bingung.
Kiara tidak berkata lagi, dia hanya ingin menangis saja saat ini. Apa yang tadi Kiara lakukan pada Mega benar-benar membuat Kiara merasa sangat jahat pada Mega yang selama ini baik padanya, walaupun jika hanya itu berpura-pura, tapi tetap saja bagi Kiara, Mega adalah sahabatnya.
Kiara terlihat sudah lebih tenang, tangisannya pun mulai tidak terdengar lagi. Bibi Yaya membantu Kiara duduk di sofa dan mengambilkan segelas air minum agar Kiara lebih tenang sekarang.
"Kiara, kamu sudah lebih baik?" Tangan wanita itu mengusap lembut kepala Kiara. Bibi Yaya benar-benar bisa membuat Kiara lebih tenang saat ini.
"Tadi Mega ke sini, Bi."
"Mega? Adiknya Arthur?"
"Iya, dia tadi datang ke sini dan aku kira dia ingin memperbaiki hubungan pertemanan kita, tapi semua yang keluar dari mulutnya hanya menyalahkan aku atas semua yang terjadi, bahkan yang paling menyakitkan dia ingin aku pergi dari kehidupan Mas Arthur dan keluarganya."
"Apa? Jahat sekali dia. Kiara, kamu jangan mendengarkan apa yang dia katakan. Arthur sangat mencintaimu dan calon bayinya, kalau kamu sampai meninggalkan Arthur hanya karena ucapan Mega yang seolah menyalahkanmu, kamu akan membuat Arthur mati pelan-pelan."
"Jangan bicara seperti itu, Bi. Aku tidak akan pernah meninggalkan Mas Arthur. Aku juga bisa saja mati kalau jauh darinya." Kiara kembali memeluk Bibi Yaya.
Bibi Yaya sengaja mengatakan hal seperti itu agar Kiara tidak sampai pergi meninggalkan Arthur hanya karena dia merasa bersalah pada keluarga Mega.
Arthur sebelum pulang dari kantornya, dia menempatkan diri pergi restoran miliknya. Arthur sudah janjian dengan Gio dan ada Manda di sana. Mereka bertiga sedang membahas konsep baru untuk membuat cafe mereka yang ada di luar kota lebih berkembang dan beda dari cafe yang sudah ada. Iya! Arthur akan membuka sebuah cafe di luar kota bersama dengan Gio dan Manda yang ternyata pandai dalam mendesain suatu tempat di percaya untuk mendesain cafe itu.
"Bagaimana kalau temanya lebih ke nuansa ceria, di mana kita bisa memberikan beberapa Playground juga jika ada keluarga yang mengajak anaknya ke sana. Anak-anak itu bisa bermain dengan senang dan orang tuanya bisa berbicara dengan santai," usul Arthur.
"Ternyata naluri calon ayah ini sudah mulai terlihat."
"Calon ayah? Maksud Pak Gio?"
"Oh ya! Kamu belum tau ya, Manda, kalau Arthur akan segera menjadi ayah. Kiara sedang hamil saat ini."
"Kiara, hamil?" Manda tampak terkejut.
"Iya, Kiara sedang hamil. Oleh karena itu sahabatku itu setiap hari wajahnya terlihat sangat senang."
"Selamat kalau begitu untuk Pak Arthur dan Kiara. Aku sangat senang mendengar berita ini." Manda menjulurkan tangannya memberi ucapan selamat pada Arthur.
"Terima kasih, Manda."
"Manda, calon istriku juga hamil dan aku juga akan menjadi seorang ayah, apa kamu tidak mau memberiku selamat juga?"
"Selamat juga untuk Pak Gio."
"Terima kasih, Manda. Arthur, nanti kalau anak kita lahir dengan jenis kelamin yang berbeda, bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka saat sudah dewasa?"
"Iya juga, sih! Tapi aku sebenarnya ada niat lain juga dibalik mengajak kamu untuk menjodohkan anak-anak kita."
"Maksud kamu?"
"Kalau anakku menikah dengan anak kamu, otomatis dia menjadi keluarga Lukas, dan aku suruh anakku merebut salah satu perusahaan kamu." Terdengar suara Gio yang tertawa dengan kerasnya.
Manda yang mendengar hal itu hanya bisa menahan tawa dan tidak percaya dengan ucapan Gio.
"Kenapa harus merebutnya? Kalau kamu mau, aku akan dengan senang hati memberikan padamu karena bagiku persahabatan kita jauh lebih penting dari salah satu perusahan milikku."
"****! Kenapa ucapan kamu malah membuatku terharu seperti ini?"
"Setelah aku berikan perusahaanku sama kamu, aku racun kamu," lanjut Arthur kemudian.
Gio sekali lagi tertawa dengan senangnya mendengar ucapan Arthur. Pun Arthur dan Manda juga tertawa.
"Pak Arthur ini selain seorang pebisnis yang hebat, juga orang yang sangat menyenangkan. Anda bisa menciptakan sebuah ikatan persahabatan yang indah. Kiara pasti sangat bersyukur memiliki suami seperti Pak Arthur."
"Terima kasih, Manda."
"Oh ya! Pak Arthur dan Pak Gio, saya sudah membuat jadwal keberangkatan bulan depan ke luar kota. Cafe yang dalam proses penyelesaian itu di jadwalkan akan benar-benar selesai bulan depan dan kiat bisa ke sana untuk melihat apa saja yang mesti diperbaiki."
"Aku percaya dengan pekerjaan kamu, Manda. Aku yakin kamu akan bisa membuat sesuatu yang indah untuk cafe itu."
"Terima kasih sekali lagi, Pak, tapi walaupun begitu Anda dan Pak Gio harus ke sana untuk pembukaannya."
"Kamu atur saja semuanya."
Arthur berbicara sembari membaca pesan di ponselnya, dan kedua matanya menajam saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Bibi Yaya.
Di dalam.pesan itu Bibi Yaya bercerita tentang apa yang sudah terjadi di apartemen. Arthur membalas dan mengatakan akan segera pulang.
"Manda, kamu atur saja semuanya dengan baik karena semua sudah selesai, aku mau izin pulang dulu karena istriku sudah menunggu aku pulang." Arthur beranjak dari tempatnya.
"Kamu benar-benar tidak ingin berjauhan terlalu lama dari istrimu, Ya?"
"Tentu saja, dan sepertinya aku yang mengidam ingin terus dekat dengannya." Arthur tersenyum kecil.
"Pak, tolong sampaikan salamku pada Kiara."
"Nanti pasti akan aku sampaikan padanya."
Arthur segera menuju apartemennya dan mengetahui keadaan Kiara. Arthur benar-benar tidak menyangka jika adiknya akan berbuat seperti itu.
Arthur ingin bertemu dengan adiknya, tapi tadi bibi Yaya mengatakan agar Arthur lebih baik pulang dulu karena dari tadi siang Kiara tidak mau makan.
"Bi, mana Istriku?"
"Dia sedang beristirahat di kamarnya. Dia sebenarnya dari tadi tampak bingung sembari melihat pada layar ponselnya. Mungkin dia mau menghubungimu, tapi dia ingat kamu hari ini sangat sibuk. Kamu temui dia dan ajak makan."