
Arthur sudah mengerahkan orang-orangnya untuk mencari di mana Kiara berada. Arthur sendiri pergi mencari di temani oleh Gio. Dia akan mulai menyusuri jalanan yang mungkin Kiara lewati. Arthur tau Kiara pasti akan jalan kaki karena dia meninggalkan rumah tanpa membawa uang sama sekali, ponsel pun tidak dibawa.
"****!" Arthur yang marah sampai memukul setir kemudinya. Mobilnya berhenti tepat di depan toko kue milik mendiang ibu Kiara karena mengira Kiara pasti ke sana, tapi ternyata dia tidak ada di sana.
"Aku akan pergi menemui mamaku dan mengatakan jika Kiara itu adalah istriku dan dia tidak bisa menyakiti istriku.".
"Nanti saja, sebaiknya kita temukan saja dulu di mana istrimu berada. Jujur saja aku khawatir dan takut kalau sampai dia benaran hamil, aku takut terjadi sesuatu dengan istrimu dan calon bayimu."
Arthur melihat kaget mendengar apa yang Gio katakan. "Aku tidak akan memaafkan mamaku kalau sampai terjadi apa-apa pada Kiara dan calon bayiku. Oh Tuhan! Semoga Kiara memang hamil dan keadaan mereka berdua baik-baik saja."
Tangan Gio menepuk pundak Arthur dan mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Kamu harus terus berpikir positif kalau istri dan calon bayimu baik-baik saja."
"Aku akan mencarinya lagi. Gio, apa kamu mau aku antar ke tempat Elena dulu?"
"Tidak perlu, aku akan membantumu sampai menemukan Kiara dan tadi aku juga sudah menghubungi Elena kenapa aku tidak bisa datang. Dia berharap Kiara segera ditemukan.
Arthur mencoba menghubungi Mba Tami lagi dan mengatakan jika Kiara datang ke sana untuk segera membawanya ke rumah sakit agar dapat diperiksa keadaannya.
Mba Tami juga ikut panik saat mengetahui cerita dari Arthur.
***
Malam itu di sebuah klinik, tampak Kiara sedang berbaring dengan selang infus menancap pada tangannya.
"Mom, bagaimana keadaan temanku?"
"Dia baik, hanya saja keadaanya masih lemah. Aku juga sudah memberikan obat untuk penguat kandungannya. Kasihan sekali dia, seharusnya di masa kehamilan seperti ini dia harus banyak beristirahat dan jangan terlalu banyak pikiran," terang seorang wanita cantik dengan kacamata putihnya.
"Dia ada masalah apa dengan kakaknya Mega, ya? Apa benar yang dikatakan oleh Elang jika Arthur hanya mempermainkannya saja?"
"Mo, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa, Mom."
"Mo, apa benar dia teman sekolah kamu? Dia baru lulus sekolah, kan?"
"Iya, Mom. Memangnya kenapa? Apa Mommy berpikir jika Kiara gadis yang hamil karena pergaulan bebas? Dia gadis yang baik dan aku mengenalnya."
"Tapi dia baru saja lulus sekolah dan sudah hamil."
"Aku tidak tau cerita sebenarnya, tapi aku tau suaminya. Dia pria yang mapan dan seorang pengusaha ternama, mereka itu sudah menikah saat Kiara masih sekolah dan sepertinya dia menyembunyikan pernikahannya, tapi Mommy jangan meragukannya karena dia memang gadis baik-baik."
"Okay! Mo, do you like him?"
"Siapa gadis cantik yang tidak aku sukai, Mom?" Morgan malah terkekeh.
"Kamu itu. Mo, belajarlah mencintai seseorang dengan serius karena suatu hari nanti kamu juga harus memiliki keluarga kecilmu sendiri."
"Masih lama, Mom. Bukannya Mommy menyuruhku untuk kuliah dulu sampai gelar dokter bisa aku dapatkan."
"Iya, tapi kalau bisa kamu juga berubah. Jangan suka bersenang-senang dengan banyak gadis."
"Ayolah, Mom! Yang terpenting aku tidak tidur dengan mereka."
Kedua mata wanita cantik itu melihat seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh putranya.
"Apa benar kamu masih perjaka?"
Mommy Morgan ini seorang wanita keturunan Jepang dan Belanda. Sedangkan ayah Morgan asli orang Jawa. Kedua orang tua Morgan sudah berpisah dan Morgan ikut dengan mommynya dan tinggal di sini. Mommy Morgan seorang dokter kandungan dan dia memiliki tempat praktek sendiri yang dibangun tepat di samping rumah mewah mereka.
"Mom, jangan membahas masalah itu lagi. Oh ya! Kira-kira kapan temanku ini sadar dan aku bisa berbicara dengannya?"
"Biarkan dia beristirahat dulu karena hal itu yang saat ini sangat dia butuhkan. Mommy juga tidak tau kapan dia terbangun dari tidurnya. Sebaiknya kamu menghubungi keluarganya dan memberitahu jika Kiara baik-baik saja."
"Iya, Mom."
Morgan tampak bingung karena dia tidak mengetahui nomor Arthur. "Apa aku menghubungi nomor Mega saja dan bertanya berapa nomor telepon kakaknya?"
Morgan mencoba menghubungi nomor Mega, tapi beberapa kali dia melakukan panggilan, tapi sama sekali tidak dijawab oleh Mega.
"Dia ke mana, sih? Apa dia sedang bersama dengan Elang?"
Morgan tampak bingung. Di saat dia sedang berpikir, tiba-tiba ponselnya berdering dan ada nama Elang di sana.
"Elang? Ada apa dia menghubungiku?"
"Halo, Mo, kamu di mana? Aku sudah menunggu kamu di tempat biasanya, katanya mau balapan."
"Oh God! Kenapa aku sampai lupa seperti ini?"
"Kebiasaan. Cepat kamu ke sini! Aku malas menunggumu terus."
"Eh, aku hari ini tidak bisa datang ke sana, Lang. Aku minta maaf, ya?"
"Apa kamu bilang? Kenapa kamu tidak bisa datang ke sini?"
"Em ... Lang, apa kamu sedang bersama dengan Mega?"
"Untuk apa kamu tanyakan hal itu? Aku tidak sedang bersama dengan Mega. Kalau aku ajak dia ke sini, nanti yang ada pasti acara di sini tidak seru sama sekali."
"Oh ... jadi, kamu tidak bersama dengan Mega. Aku bagaimana bisa menghubungi Mega, ya?" celoteh Morgan sendirian.
"Mo, kenapa memangnya dengan Mega? Kamu ada urusan penting dengannya?" tanya Elang penasaran.
Morgan ini bingung, apa dia harus mengatakan pada Elang tentang Kiara yang ada di klinik mommynya hari ini?
"Mo! Aku senang bertanya padamu? Kamu ini kenapa sih?" sergah Elang marah.
"Aku ingin bertanya pada Mega tentang nomor teleponnya Arthur."
"Apa? Untuk apa kamu ingin mengetahui nomor telepon dari si brengsek itu? Kamu ingin berteman dengannya dan mengkhianatiku?"
"Aku harus menghubungi Arthur karena istrinya sedang dirawat di klinik Mommynya dan dia sedang hamil."
"Apa? Apa maksud kamu Kiara ada bersamamu saat ini? Ta-tapi bagaimana bisa, Mo?" Elang benar-benar dibuat terkejut dengan perkataan Morgan.
"Iya, Kiara ada di klinik mommy aku dan mommyku yang merawatnya. Aku tidak bisa ikut karena harus menjaga Kiara sampai nanti suaminya datang ke sini untuk menjemputnya."
Elang tampak terdiam sejenak. "Apa keadaan Kiara baik-baik saja dan bagaimana bisa kamu bertemu Kiara?"
"Tadi aku menemani Mommyku pergi ke sebuah toko untuk membeli kue, dan saat keluar dari toko itu, aku melihat Kiara duduk tepat di seberang toko kue yang aku datangi, dan saat aku mau memastikan apa itu Kiara, Kiara malah pingsan. Aku langsung membawa Kiara ke klinik mommyku untuk diperiksa keadaanya dan memang keadaan Kiara sedang tidak baik karena dia sedang hamil."