
Kiara menemani Artur makan di ruang makan. Bibi Yaya pun diajak makan bersama oleh mereka, tapi wanita paruh baya itu seolah tau jika bukan di sana posisinya, walaupun Arthur sudah memberitahu jika dia tidak pernah membatasi tentang statusnya dengan bibi Yaya.
"Mas, besok hari pertunangan Mega, dan aku waktu itu mendapat undangan dari Mega, tapi sekarang aku tau jika Mega marah padaku karena aku sudah tidak jujur telah menikah dengan kamu. Apa aku tetap datang ke sana? Tadi aku mencoba menghubunginya, tapi tidak dia jawab."
"Kita akan datang ke sana, tapi bukan sebagai tamu undangan. Kita datang ke sana sebagai bagian dari keluarganya karena kamu adalah kakak iparnya sekarang."
"Tapi keluarga kamu, kan belum menerima aku sebagai bagian dari keluarganya, Mas."
"Menerima ataupun tidak mau menerima, kamu adalah istriku, Kiara dan kamu menantu di rumah itu serta sudah menjadi bagian dari keluarga Lucas, apa lagi sekarang di perut kamu ada bayiku."
Kiara hanya terdiam mendengar apa yang suaminya katakan.
Arthur sebenarnya tadi waktu di kantor mendapat telepon dari mamanya. Alexa mengatakan agar Arthur menghadiri pertunangan adiknya tanpa harus membawa Kiara karena mereka tidak mau diberi pertanyaan tentang siapa yang Arthur bawa ke sana.
Arthur mengatakan jika Kiara tidak datang, maka dia juga mungkin tidak akan datang ke sana.
Namun, Alexa memohon agar Arthur bisa datang sendirian karena kalau sampai Arthur tidak datang, maka orang-orang di sana, terutama rekan bisnis Alan akan bertanya-tanya juga kenapa anak pertama mereka tidak menghadiri acara pertunangan adiknya.
Arthur tidak membalas pesan dari mamanya karena dia malah untuk berdebat.
Malam itu Bibi Yaya pulang lebih awal karena Arthur ingin mengajak Kiara pergi ke suatu tempat.
Mobil Arthur berhenti di suatu butik baju yang sangat besar. "Mas, kita mau apa ke sini?"
"Aku akan membelikan kamu gaun untuk dipakai di acara pertunangan Mega. Ayo kita masuk." Arthur melepaskan sabuk pengaman Kiara dan mengajak istrinya itu turun.
"Mas, seharusnya tidak perlu membelikan aku gaun karena masih ada gaunku yang bisa aku pakai."
"Kamu adalah istriku dan semua orang sudah banyak yang mengetahui hal itu. Aku ingin kamu tampil sangat cantik di sana."
Kiara tidak berani membantah lagi, dia menurut saja apa yang diinginkan suaminya. Sebuah gaun long dress model sepan sampai diatas lutut dan lengan panjang menutupi leher sangat cocok dipakai oleh Kiara.
Arthur tidak mau istrinya itu memakai baju yang terbuka. "Kamu cantik sekali, Sayang."
"Mas, sebenarnya aku ragu untuk datang ke sana. Bagaimana kalau kamu saja?"
"Kita sudah membahas ini, Sayang, dan aku tidak mau kita berdebat hanya karena masalah ini."
"Aku takut nanti kalau aku datang, malah membuat acara Mega berantakan, aku tidak mau kamu dan mamamu nanti bertengkar."
Arthur memegang tangan istrinya dan menyakinkan jika dia tidak akan bertengkar dengan mamanya di sana.
"Lagi pula ayah ingin bertemu dengan kamu dan ingin dirimu hadir di sana karena kamu juga bagian dari keluarga. Ayahku sudah menerima kamu menjadi menantunya, Kiara."
"Ayah kamu memang sangat baik. Aku senang bisa memiliki ayah mertua seperti ayah Alan."
Mereka pulang ke apartemen setelah dari butik dan sekarang Kiara yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur menunggu suaminya membawakan dia susu untuk ibu hamil.
"Terima kasih, ya Mas." Kiara menghabiskan susu yang dibuatkan oleh suaminya.
"Minum susu yang banyak, supaya kamu dan bayi kita sehat."
"Mas besok kamu pulangnya kalau bisa seperti hari ini, ya."
"Iya, aku besok kebetulan mengganti jadwal meeting aku dengan salah satu klien. Lusa aku tidak bisa kalau pulang lebih awal."
"Iya, tidak apa-apa, Mas." Wajah Kiara cemberut.
"Jangan seperti itu wajahnya. Bagaimanapun aku harus disiplin karena aku harus memberi contoh yang baik untuk semua karyawanku."
"Iya, aku tau, Sayang." Arthur menarik istrinya dan memasukkan dalam dekapannya.
***
Pagi itu Kiara masih tidur karena dia merasakan pusing pada kepalanya. Semua sudah disiapkan di meja makan oleh BI Yaya.
"Bi, Kiara masih tidur, tadi pagi dia bangun dan mengeluh kepalanya pusing, aku menyuruhnya untuk tidur lagi saja karena aku panggilkan dokter dia tidak mau."
"Mungkin itu karena dia sedang hamil, nanti kalau masih merasa tidak enak, Bibi akan memanggilkan dokter yang sudah kamu berikan nomornya."
"Tapi Bibi juga jangan lupa menghubungiku."
"Iya, Arthur. Sekarang kamu makan dulu saja."
Arthur menikmati sarapan paginya sendiri dan kemudian dia pergi ke kamar untuk mengecup kening istrinya sebelum berangkat ke kantor. Kiara yang masih tidur tidak tau jika Arthur pergi ke kantor.
"Bi, Mas Arthur apa sudah pergi ke kantor?"
"Iya, tadi dia mengatakan jangan membangunkan kamu karena kamu tadi pagi mengeluh sakit kepala. Bagaimana keadaan kamu sekarang, Kiara?"
"Sudah lebih baik, Bi, hanya saja perutku agak mual. Bi, apa yang bisa membuat aku tidak merasakan mual, ya?"
"Mau mencoba makan asam matang ini?" Bi Yaya menunjukan asam matang yang ada di dalam mangkuk berukuran kecil.
Entah kenapa Kiara langsung ingin mencicipinya. Dia mengangguk dengan cepat.
"Enak sekali ini, Bi! Rasa mual di perutku perlahan menghilang."
"Iya, tapi jangan banyak-banyak ya, Kiara."
"Iya, Bi. Bibi tau sekali dalam hal seperti ini."
"Tentu saja tau. Arthur dulu waktu masih di dalam kandungan, mendiang ibu mertua kamu juga mengalami hal yang sama seperti yang kamu alami."
"Bi, menurut Bibi Yaya kalau mendiang ibunya mas Arthur masih hidup, apa dia akan mau menerimaku menjadi menantunya?"
"Tentu saja dia akan menerima kamu menjadi menantunya karena dia orangnya hampir memiliki kepribadian seperti kamu. Sederhana, baik dan polos, tapi dia juga sangat tegas dan disiplin."
"Pantas saja suamiku memiliki sifat yang membuat aku jatuh cinta sama dia."
"Dia yang jatuh cinta sama kamu. Kiara, bibi sebenarnya mengetahui apa yang terjadi antara kamu dan Arthur waktu itu."
Kiara seketika menghentikan makan asamnya. "Jadi, Bibi sudah tau apa yang terjadi sama aku dan Mas Arthur?"
"Iya, Bibi tau karena suami kamu yang bercerita sendiri pada Bibi waktu itu. Jujur saja Bibi sangat marah padanya waktu itu, tapi setelah dia menjelaskan semuanya, Bibi tau jika Arthur memang tidak akan pernah melakukan hal yang buruk pada orang lain.
"Iya, Mas Arthur memang bukan pria yang jahat."
Tidak lama ponsel Kiara berbunyi dan dia melihat ada nomor tidak dikenali menghubungi dia.
"Siapa yang menghubungiku? Kenapa tidak ada namanya?"
"Apa mau bibi yang menjawabnya?"
"Tidak apa, Bi, biar aku saja yang menjawabnya, mungkin ini nomor temanku yang belum aku simpan."