Be Mine

Be Mine
Menjenguk Dean Part 2



Manda izin untuk ke kamar mandi sebentar, dan mempersilakan Kiara serta bibi Yaya di ruang tengah untuk duduk bersama dengan Dean.


Dena tampak senang akan kehadiran Kiara. Kiara memberikan puding yang tadi dia buatkan untuk Dean.


"Bagaimana keadaan kamu, Dean?"


"Aku baik, Tante. Tante sendiri bagaimana keadaanya?"


"Tante baik." Kiara mengusap lembut kepala Dean.


"Adik bayi di dalam perut Tante Kiara apa kabarnya? Kapan dia akan keluar, Tante? Dean mau bermain dengannya kalau dia nanti sudah keluar."


Kiara tertawa kecil mendengar apa yang Dean katakan. "Masih lama, Dean. Masih beberapa bulan lagi adik di dalam perut Tante keluar. Dean doakan saja semoga Tante dan adik kecil selalu diberi kesehatan."


"Pasti, Dean akan berdoa semoga Tante dan adik bayi sehat selalu."


"Terima kasih, Dean." Kiara memeluk Dean.


Tidak lama Manda keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak agak pucat. Dia duduk di sebelah Dean.


"Mba Manda, kamu sakit?"


"Aku tidak apa-apa, Kiara. Oh ya! Aku belum membuatkan minuman untuk kamu. Kalau begitu kamu tunggu sebentar, Ya." Manda kembali beranjak dari tempat duduknya.


"Mba Manda, Mba Manda baik?" Kiara terlihat cemas saat Manda terlihat memegangi kepalanya.


"Mami, aku sudah bilang kalau Mami harus ke dokter karena aku lihat Mami dari kapan hari sering memegangi kepala, dan juga mengeluarkan darah dari hidung," terang Dean dengan polosnya.


"Mami tidak apa-apa, Dean. Mungkin ini hanya kecapean."


"Kalau diizinkan, biar bibi saja yang membuatkan minumannya."


"Jangan, Bi. Bibi dan Kiara di sini adalah tamuku, tidak etis kalau malah aku suruh membuatkan minuman. Biar aku saja." Manda berjalan menuju dapurnya untuk membuatkan minuman.


"Dean, apa Tante boleh bertanya sesuatu sama kamu?"


"Tentu saja boleh, Tante mau bertanya apa?"


"Dean, apa mami kamu sering terlihat mimisan seperti itu? Mengeluarkan darah dari hidungnya?" Kiara melihat penasaran.


Bocah kecil itu mengangguk beberapa kali. "Iya, kata Mama, dia sedang sakit kepala, makannya hidungnya keluar darah."


"Apa mungkin memang Mba Manda kalau kepalanya sakit keluar mimisan begitu?"


"Dean juga sering melihat Mami minum obat di kamarnya dan banyak sekali yang diminum. Saat Dean bertanya apa mami sakit? Mami hanya bilang jika dia baik-baik saja dan yang diminum itu bukan obat melainkan vitamin seperti punya Dean."


Kiara melihat ke arah Bibi Yaya. Bibi Yaya mengatakan pada Kiara agar menemui Manda di dapur dan bertanya tentang keadaannya. Bibi Yaya merasa Manda seperti menyembunyikan sesuatu.


Bagaimanapun juga insting Bibi Yaya yang memang bukan orang sembarangan, dia bisa melihat gelagat seseorang.


"Dean, kamu main sebentar sama Bibi Yaya karena Tante Kiara mau membantu mami kamu membuat minuman.


Kiara beranjak dari tempat duduknya dan dia berjalan menuju dapur. Kiara melihat Mba Manda yang tengah berdiri diam sembari menundukkan kepalanya di depan baki yang terdapat dua gelas orange jus.


"Mba Manda." Tangan Kiara menepuk pelan pundak Mba Manda. Manda yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya dan melihat dengan mata sembab pada Kiara.


"Kiara? Kamu kenapa di sini?" Mba Manda dengan cepat menghapus air matanya.


"Mba Manda, sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Aku bukannya mau ikut campur dengan masalah yang sedang Mba Manda alami, tapi aku hanya ingin Mba Manda tidak merasa sendirian. Apa Mba ada masalah? Kalau mau aku bisa menjadi teman untuk mendengarkan semua masalah Mba Manda."


"Aku baik-baik saja, Kiara. Terima kasih kamu sudah baik denganku dan Dean."


Kiara sama sekali tidak kecewa dengan apa yang Mba Manda katakan.


"Aku ikut senang jika Mba Manda baik-baik saja. Sini, biar aku bantu membawakan minumannya."


"Kiara."


"Iya, Mba." Manda tiba-tiba memeluk Kiara dengan erat dan terdengar suara tangisnya. Kiara sekali lagi terkejut, dia kemudian mengusap lembut punggung Mba Manda.


"Aku sangat takut Kiara, aku takut sekali!"


"Takut? Mba Manda takut apa?"


Manda melepaskan pelukannya dan dia berjalan menuju kamarnya. Kemudian kembali dan memberikan secarik kertas pada Kiara.


Kiara mengambil kertas itu dan membacanya. Di sana Kiara tau jika kertas yang diberikan itu berisi tentang laporan kesehatan seseorang, dan saat Kiara membaca tulisan positif di sana. Kiara mengerutkan kedua alisnya.


"Aku sakit kanker darah, Kiara, dan sudah memasuki stadium tiga. Aku sekarat, Kiara dan aku takut jika aku meninggal. Dean dengan siapa?"


Mba Manda kembali menangis, tapi tangisannya kali ini dia. coba redam agar tidak terdengar oleh Dean.


Kiara yang mendengar hal itu benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka jika hal ini akan menimpa Mba Manda.


"Mba Manda jangan berpikir tentang kematian terlebih dahulu. Hidup mati kita itu Tuhan yang menentukan, bukan sebuah penyakit seperti ini."


"Sebenarnya aku tidak takut akan kematian, tapi aku tidak tega meninggalkan Dean sendirian di dunia ini. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan dia akan kehilangan aku juga. Aku sangat menyayangi Dean lebih dari nyawaku sendiri. Aku tidak mau jika dia sampai dibawa oleh Bruno yang kejam itu."


"Mba sekarang tenang dulu, kita nanti akan mencari solusinya. Mas Arthur pasti akan membantu Mba Manda, Mba Manda dan Dean sudah seperti keluargaku sendiri."


"Terima kasih, Kiara. Jujur saja, sejak bertemu dengan Pak Arthur, aku suka dengannya, bahkan aku ingin mendekatinya, tetapi saat dia bilang sudah menikah dan sangat mencintai istrinya, aku mencoba menyadarkan diriku jika aku harus melupakan Pak Arthur."


"Aku tidak menyalahkan jika ada seorang wanita yang menyukai suamiku karena setiap wanita pasti akan terpesona melihat siapa mas Arthur, hanya saja aku tetap percaya jika Mas Arthur hanya mencintaiku. Aku sadar jika perasaan seseorang itu tidak bisa dikendalikan bahkan oleh dirinya sendiri."


"Waktu itu juga aku melihat usia kamu yang terpaut jauh dari Pak Arthur, kembali membuatku ingin rasanya bersaing denganmu, dan berharap Pak Arthur bisa menyukaimu, tapi aku salah. Cinta Pak Arthur dan cinta kamu padanya sangat besar, dan usia tidak menjadi halangan. Sekali lagi aku minta maaf."


Kiara memeluk Mba Manda. "Tidak ada yang perlu dimaafkan di sini, Mba. Sekarang yang terpenting Mba Manda fokus untuk sembuh. Apa Mba Manda sudah berobat selama ini?"


"Aku sudah berkonsultasi dengan dokter, mereka menyarankan agar aku melakukan kemoterapi, tapi aku masih belum melakukanya karena memang aku memiliki tugas di sini dan di restoran. Lagi pula, walaupun aku melakukan kemoterapi juga tidak menjamin kanker ini akan sembuh. Aku mau pasrah saja dan menghabiskan sisa waktuku dengan Dean."


Kiara sekarang menjadi cemas dengan apa yang terjadi pada Mba Manda. Apa yang harus dia lakukan untuk membantu Mba Manda?