
Kiara yang keluar dari dalam dengan nampan di tangannya mendelik melihat Mega yang membawa sebuah dasi berwarna biru yang tentu saja itu milik suaminya."
"Ara, ini punya siapa? Kenapa ada di sini?"
"Em ... Aku tidak tau, mungkin itu punya Mba Tami."
"Mba Tami? Mba Tami kalau malam berubah jadi seorang pria maksud kamu? Kenapa dia memakai dasi?"
"Ya ampun, Mega! Bukan seperti itu maksud aku? Ini mungkin punya Mba Tami yang dia mau berikan pada Mas Banni kekasihnya."
"Loh! Mba Tami sudah punya kekasih? Jadi, dia beneran tidak suka sama kakakku?"
Kiara mengangguk, dia duduk di sebelah Mega meletakkan nampan yang berisi dua gelas es sirup. Kiara mengambil dasi milik Arthur dan bilang akan menyimpannya untuk diberikan pada mba Tami.
Kiara terpaksa berbohong lagi demi kebaikannya dan Arthur.
"Dahal aku kira mba Tami dan kakakku bisa berpacaran, tapi ternyata mba Tami tidak suka kakakku. Memangnya Arthur kurang apa sih? Kasihan dia, sudah umur segitu masih saja belum memiliki jodoh. Bisa-bisa dia dijodohkan sama mamaku."
"Dijodohkan? Itu malah lebih bagus, dia bisa mendapatkan wanita yang baik dan setara dengannya."
Mega tersenyum pada Kiara sembari membawa gelas minumnya. "Arthur tidak akan mau, Ara, dan yang ada kakakku serta mamaku bisa terlibat perselisihan karena hal itu."
Kiara hanya menghela napasnya kecil. Jika Arthur dijodohkan oleh mamanya, itu artinya Kiara bisa mendapat kebebasannya. Dia tidak akan mau menjadi istri yang di madu.
"Kiara, mba Tami mana? Kenapa dia tidak terlihat di rumah?"
"Mba Tami pergi beberapa hari ke desanya mas Banni. Mas Banni ingin memperkenalkan Mba Tami pada keluarganya. Mas Banni kelihatannya serius dengan Mba Tami."
"Oh ya? Wah! Pria itu keren sekali ya. Dia tidak mau lama-lama pacaran langsung mau dinikahi saja. Mending seperti itu, pria yang baik dan serius itu kalau sudah mampu lebih baik langsung mengajak menikah kekasihnya. Kasihan kalau lama-lama pacaran, dan endingnya hanya menjaga jodoh orang." Mega tertawa kecil.
Arthur juga pria yang baik kalau begitu, dia berani serius dan bertanggung jawab menikah Kiara.
"Yeah! Malah melamun!" Mega mengagetkan Kiara yang sedang melamun tentang Arthur.
"Siapa yang melamun?"
"Kiara, karena mba Tami tidak di rumah, bagaimana kalau kamu menginap di rumahku saja?"
"Apa? Menginap di rumah kamu?"
"Iya, kamu tau sendiri kalau aku juga selalu kesepian di rumah. Mamaku saja pergi lagi ke luar negeri karena ada urusan. Katanya sebelum hari ulang tahunku tiba, dia akan menyelesaikan semuanya, supaya bisa menyiapkan acara ulang tahunku dengan baik, dan Arthur mana mau menginap di rumah. Dia lebih suka tidur di rumah mendiang mamanya." Mega mengerucutkan bibirnya kecil.
"Bagaimana, ya?" Kiara tampak bingung.
"Ayolah! Nanti kita berangkat sekolah bersama, kita juga bisa belajar bersama, apa lagi aku ada guru privat di rumah, dari pada kamu sendirian di rumah ini."
"Aku bingung, Mega."
"Bingung soal apa? Tidak perlu bingung, sudah mau saja. Aku minta maaf jika tidak bisa menginap di rumah kamu karena kamu tau sendiri betapa rewelnya aku kalau tidur di rumah kamu. Aku bukannya mau menghina kamu, Kiara."
"Iya aku tau."
Kiara berpikir sejenak. Jika dia menginap di ruang Mega dalam beberapa hari, dia tidak akan diganggu oleh Arthur lagi. Dia tidak harus tinggal satu atap dengannya dan dia tidak akan ketakutan dari tetangganya.
"Mau dua hari, tiga hari atau bahkan satu bulan aku tidak akan keberatan." Mega tampak senang dan memeluk Kiara.
"Kalau begitu besok saja pulang sekolah aku langsung ke sana dan aku akan membawa beberapa bajuku dan alat sekolahku."
"Okay!"
***
Malamnya, Kiara yang baru saja selesai menata baju dan alat tulis yang akan dia bawa besok ke rumah Mega, tampak melihat pada jam tangannya.
"Sudah jam sembilan malam dan Arthur belum datang? Dia juga tidak menghubungiku? Apa dia kapok menginap di rumahku? Atau dia kenapa-napa?" Kiara malah terlihat cemas.
"CK! Aku ini kenapa? Kenapa juga memikirkan dia? Biar saja, semoga dia memang kapok menginap di rumahku yang jauh sekali dari keadaan rumahnya. Hal ini malah bagus untukku." Kiara kembali melihat barang bawaannya siapa tau ada yang terlupa, dengan terus menepis pikirannya tentang Arthur.
Tidak lama dia mendengar suara ketukan pada pintu rumahnya.
"Apa itu Arthur?"
Kiara berjalan menuju pintu dan saat membuka pintunya, Kiara melihat wajah pria yang dari tadi memang dia pikirkan. Antara dipikiran dan tidak diharapkan.
"Hai, Kiara, maaf aku datang agak malam karena aku tadi baru saja pulang dari luar kota."
"Aku kira kamu tidak menginap lagi di rumahku karena aku senang sekali jika hal itu terjadi." Kiara berjalan malas masuk ke dalam rumahnya.
Arthur melihat sekeliling rumah Kiara yang sepi dan dia kemudian masuk serta menutup pintu rumah Kiara. Arthur sekali lagi tidak membawa mobil, dia tadi diantar oleh supirnya.
Arthur masuk ke dalam kamar Kiara dan dia melihat Kiara memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas yang berukuran sedang.
"Apa kamu mau pergi, Kiara?"
"Besok aku akan menginap di rumah Mega karena tadi adik kamu menawariku menginap di rumahnya dan aku mau."
Arthur terdiam sejenak. "Apa kamu sengaja menerimanya untuk menghindariku yang ingin tinggal di rumah kamu?"
Kiara berdiri dari tempatnya dan menatap pria itu datar. "Itu benar sekali, tuan Arthur, aku menerima agar aku bisa belajar lebih tenang di rumah Mega tanpa ada rasa takut dan cemas saat kamu berada di rumahku."
"Ya sudah, itu lebih baik, setidaknya kamu tidak sendirian karena aku hanya mengkhawatirkan keadaan kamu jika sendiri di rumah ini, tidak ada maksud apa-apa." Arthur berbalik badan dan dia melepas satu persatu kancing bajunya.
Kiara yang mendengar apa yang dikatakan oleh Arthur malah merasa ada rasa bersalah pada hatinya. Arthur hanya mengkhawatirkannya saja selama ini.
"Kiara, apa tadi ada orangku datang ke sini untuk mengantar bajuku?"
Arthur sudah dalam keadaan polos bagian atasnya. Kiara yang baru saja menginjakkan kakinya di bumi memandang tubuh pria yang adalah suaminya itu.
"Bajumu ada di sana." Kiara berjalan mengambilkan baju milik Arthur yang memang tadi ada orang yang mengantarkan ke rumah Kiara.
Kiara memberikan tas Arthur, dan dia mengambil kemeja milik Arthur yang tadi Arthur letakkan begitu saja di atas tempat tidur.
"Ada noda lipstik siapa ini? Dan baunya, ini seperti bukan parfum Arthur," gerutu Kiara pelan saat melihat kemeja Arthur.