Be Mine

Be Mine
Menyusun Rencana



Morgan sampai terperangah mendengar apa yang baru saja Arthur ucapkan.


"Mas, kita pergi dari sini, aku mohon jangan membuat keributan." Kiara menangis memeluk suaminya.


Arthur menggandeng tangan Kiara dan mengajaknya keluar dari kamar Elang. Kebetulan Mega sudah tidak ada di sana, dan semoga saja masalah ini tidak sampai terdengar oleh Mega dan yang lainnya.


Morgan sekali lagi berusaha membantu Elang untuk duduk di atas tempat tidur, dia menatap sahabatnya itu tidak percaya


"Apa benar yang dikatakan Arthur? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan pada Kiara?"


Elang menghapus darah yang juga keluar dari tepi bibirnya.


"Lang, apa benar Kiara itu istrinya Arthur?" Sekali lagi Morgan yang penasaran bertanya lag.


"Aku sendiri tidak tahu, tapi itu yang dikatakan Kiara padaku dan ternyata Arthur juga mengatakan hal itu."


"Lantas, apa yang sudah kamu lakukan pada Kiara sampai Arthur menjadi semarah itu padamu?"


"Aku ingin menodai Kiara, Morgan. Aku ingin menjadikan Kiara menjadi milikku seutuhnya."


"Dasar gila! Kamu ingin menodai Kiara? Apa yang ada di pikiran kamu, Lang?" Morgan tampak kesel mendengar hal yang baru diucapkan oleh Elang.


"Kamu tidak tau bagaimana rasanya mendengar orang yang dulu memiliki hubungan denganku sangat lama, dan sangat menjaga dirinya, tiba-tiba akan menikah dengan orang yang baru saja dia kenal beberapa bulan hanya karena orang itu mencintainya dan ingin serius. Aku juga bisa serius dengan Kiara, asal dia mau menunggu diriku."


"Oh God! Kamu tetap saja salah dalam hal ini jika kamu ingin mendapatkan Kiara dengan cara menodainya, apa lagi dia istri orang."


Elang menatap Morgan dengan tajam. "Apa kamu punya cara lain agar aku bisa mendapatkan Kiara?"


"Lang, kamu sudah kalah telak dalam hal ini, dan saranku, sebaiknya kamu move on dan berhenti mengejar Kiara. Dia sudah menikah dan aku yakin dia sangat bahagia dengan Kakaknya Mega itu."


"Kalau benar dia sudah menikah dengan Arthur, maka aku akan menikah dengan Mega."


"Itu baru benar. Kamu harus melupakan Kiara dan belajar mencintai orang lain yang mencintaimu. Jujur saja, aku lihat Mega menyukaimu, saat tadi kamu tidak datang untuk makan bersama, dia sangat panik denganmu." Morgan duduk di sebelah sahabatnya itu dan menjulurkan tangannya pada pundak Elang. "Lang, jangan menyiksa dirimu sendiri dengan rasa sakit yang seharusnya bisa kamu hilangkan."


"Aku sangat mencintainya, Mo, dan aku butuh waktu untuk menyembuhkannya."


"Aku tau, dan aku yakin kamu pasti bisa karena kamu Elang yang kuat. Aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun, terutama pada Mega, bagaimanapun Kiara juga temanku dan dia pasti mendapat masalah nantinya." Morgan beranjak dari tempatnya karena dia tadi sebenarnya mau pergi menemui Lila, tapi karena tiba-tiba ada perkelahian di kamarnya dia jadi mengurusnya dulu.


Elang menatap pintu kamar hotelnya yang baru saja di tutup oleh Morgan. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sebotol wine yang dia simpan di dalam kopernya.


Elang duduk dan meneguk langsung wine itu dari mulut botolnya.


"Aku memang akan mencoba mendekati Mega, tapi bukan untuk mencintainya. Aku mendekatinya agar dia percaya aku sudah melupakan Kiara, dan aku akan menikah dengan Mega agar bisa lebih dekat dengan kakak iparku itu." Terlihat senyum licik pada bibir Elang.


Elang benar-benar terlihat sangat berbeda kali ini. Dia yang biasanya menjadi sosok lelaki yang charming, tapi sekarang Elang terlihat sangat menakutkan.


"Lihat saja, Arthur, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, walaupun Kiara sudah menjadi istrimu, dan bahkan mengandung anakmu, dia adalah Kiaraku." Elang sekali lagi meneguk winenya.


"Mas, sudah tenangkan dirimu. Aku baik-baik saja, Mas."


"Ingin sekali tadi aku menghajarnya sampai dia benar-benar menyesal sudah berani berbuat hal buruk terhadapmu."


"Dia tidak akan berani berbuat hal itu lagi padaku, Mas. Sekarang kita harus siap jika Mega dan yang lainnya tau akan hubungan pernikahan kita."


"Aku minta maaf jika hal ini nantinya sudah membuat kamu kepikiran, Kiara."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tidak marah jika apa yang kita rencanakan malah berubah, aku sudah siap menerima semuanya." Kiara memeluk tubuh Arthur.


Malam itu Arthur menyuruh Kiara tidur di kamarnya, Kiara mengiyakan karena tadi dia menghubungi Mega, tapi Mega tidak menjawab. Kiara berpikiran jika Mega pasti sudah tidur sekarang, apa lagi dari tadi Mega juga tidak menghubungi Kiara.


"Mas, aku mau menghadiri acara pernikahan Mba Tami. Apa Mas bisa hadir di sana?"


"Tentu saja aku akan hadir di acara pernikahan mereka, Ara. Aku akan menemani kamu hadir di sana karena aku tidak mau kalau kamu nanti sampai didekati oleh orang lain di sana."


"Siapa yang mau mendekatiku, sih Mas?" Kiara memeluk Erat suaminya.


***


Pagi itu Kiara yang sudah bangun pagi-pagi sekali membangunkan suaminya untuk minta izin kembali ke kamar hotelnya sebelum Mega bangun.


"Mas, aku mau ke kamarku dulu, ya?" Arthur tidak merespon sama sekali, hanya terdengar napas teratur dari Arthur. "Ya ampun! Dia ini biasa bangun pagi, tapi kenapa sekarang susah sekali bangunnya?"


Kiara mencoba lagi membangunkan Arthur dengan menggoyangkan tubuh Arthur dengan pelan. "Mas, bangun. Aku mau kembali ke kamar, nanti kalau tidak aku beritahu, kamu pasti marah padaku karena pergi begitu saja," omel Kiara, tapi orang yang diomeli malah masih nyenyak saja dalam tidurnya.


Kiara melihat jam dan dia merasa tidak bisa menunggu lagi. Kiara harus melakukan sesuatu agar suaminya ini bisa bangun dari tidurnya.


Kiara masuk kembali ke dalam selimutnya dan Arthur dan dia dari dalam selimut melepaskan celana panjangnya, dan dia pun juga perlahan melepas celana pendek suaminya. Sekarang Kiara melepaskan kancing satu persatu kemeja Arthur sehingga sekarang tubuh atas Arthur terbuka dengan lebar.


Kiara mengecupi perlahan-lahan perut sixpack suaminya, mulai dari bawah dan perlahan berjalan ke atas sampai pada leher Arthur dan saat akan mengecup bibir Arthur, tiba -tiba pria yang memang merasakan sesuatu pada tubuhnya seketika membuka kedua matanya.


"Oh my God! Apa yang sedang kamu lakukan, Ara?" Arthur tersenyum kecil.


"Aku mau membangunkan kamu, Mas." Kiara yang sekarang berada tepat di atas tubuh Arthur tampak mengerucutkan bibirnya dan Arthur melihat gemas pada istrinya itu.


"Membangunkanku? Dengan cara seperti ini?"


"Tentu saja karena tidak ada cara lain lagi untuk membangunkan kamu, Mas. Tadi aku sudah membangunkan kamu dengan cara lain, tapi tidak berhasil. Jadi, aku memakai cara lainnya, yaitu dengan memberikan kecupan cintaku untuk kamu, Mas."


"Oh ... jadi ini namanya kecupan cinta?"


"Iya, kecupan cinta. Sekarang karena kamu sudah bangun. Jadi, aku mau bersiap-siap kembali ke kamarku.