Be Mine

Be Mine
Apa Aku Hamil?



Manda menatap bingung pada lelaki yang duduk di atas motornya, dan dia tak lain adalah Elang.


"Pak Arthur kenal sama dia?"


"Tentu saja kenal karena dia yang sudah merebut kekasihku."


"Kekasih?" Manda melihat heran pada Arthur yang masih terlihat tenang.


"Kamu pasti kekasih barunya."


"Pak." Manda sekali lagi tampak bingung.


Arthur melihat lampu sudah berwarna hijau, dia segera menginjak gas dan pergi dari sana."


"Brengsek! Dia benar-benar pria tidak tau dirinya, dan bisa-bisanya Kiara mencintai pria seperti itu."


Arthur hanya terdiam sampai mereka tiba di rumah sakit. "Pak, saya minta maaf, tapi pria tadi siapa? Dia masih sangat muda kelihatannya. Apa Pak Arthur memiliki masalah dengannya?"


"Dia mantan kekasihnya Kiara yang akan menikah dengan adikku."


"Apa?" Manda tampak terkejut.


"Tidak perlu dibahas lagi, dan kamu tidak perlu bercerita pada Kiara karena hal itu tidak penting," ucap Arthur tegas.


"I-iya, Pak."


Mereka sudah sampai di kamar Dean. Kiara tampak memegang tangan bocah kecil yang masih tertidur itu.


"Mba, tadi dokter sudah memeriksa lagi keadaan Dean, kalau besok keadaannya tidak ada masalah, Dean besok sore boleh pulang. Dokter menyuruh besok sore untuk melengkapi obatnya dulu."


"Syukurlah kalau begitu. Manda, besok aku dan Kiara akan datang untuk mengantar kalian pulang."


"Terima kasih sekali lagi, Pak."


Kiara dan Arthur akhirnya pulang ke apartemen mereka.


***


Pagi itu Kiara yang biasa bangun pagi, tapi hari ini dia masih saja berbaring di tempat tidurnya.


Arthur yang bangun dan agak terkejut melihat istrinya masih tidur di sampingnya. "Sayang, kamu kenapa?" Arthur mencoba memeriksa dahi istrinya.


"Mas, boleh tidak aku hari ini libur memasak, badanku tidak enak."


"Tapi kamu tidak demam. Apa mungkin kamu kecapean, Sayang?"


"Tidak tau, Mas. Mas sarapan pagi apa?"


"Ya ampun, Kiara! Kamu masih saja memikirkan aku sarapan pagi apa? Nanti aku akan pesankan makanan untuk kita."


"Mas, aku mau tiduran saja, siapa tau nanti agak enakan karena semalam aku tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keadaan Dean. Aku mau menghubungi Mba Manda nanti, Mas."


"Kamu kemarin mendengar sendiri jika dokter mengatakan tentang keadaan Dean yang baik-baik saja. Jadi, kamu tidak perlu terlalu khawatir." Arthur memeluk erat istrinya.


"Iya, tapi tetap saja aku masih merasa bersalah karena menyebabkan Dean seperti itu."


"Sudah, Sayang. Sebaiknya sekarang aku menghubungi Elena agar memeriksa keadaanmu."


"Tidak perlu, Mas. Aku baik-baik saja, aku hanya butuh istirahat sejenak dan minum air gula hangat, nanti juga sembuh."


"Tapi, Sayang."


"Mas, kamu pergi bekerja saja dan jangan khawatirkan aku karena aku baik-baik saja."


"Kamu yakin, Sayang?"


"Iya, Mas. Sekarang kamu bersiap-siap untuk ke kantor."


Arthur beranjak dari tempat tidurnya dan dia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah dia siap, Arthur menghampiri istrinya yang duduk bersandar pada tepi ranjang.


"Mas, hati-hati."


"Iya, kamu juga beristirahat saja. Jangan melakukan pekerjaan apapun, dan kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."


"Iya, Sayang, aku baik-baik saja. Sudah berangkat sana, nanti terlambat, Mas."


"Tidak perlu, Mas. Nanti aku bisa makan roti saja, atau aku nanti bisa memesan sendiri."


"Ya sudah kalau begitu, tapi aku akan turun dan membuatkan air gula hangat dulu."


Arthur turun ke dapur untuk membuatkan minuman untuk istrinya dan dia kembali ke kamar. Kiara menghabiskan setengah gelas air gula hangatnya.


"Enak sekali rasanya."


"Sudah lebih baik?" Kiara mengangguk. "Apa bisa aku tinggal kerja, atau aku libur saja?"


"Jangan, Mas! Tidak baik sebagai atasan malah sering libur."


"Ya sudah kalau begitu." Arthur mengecup kening istrinya dan berjalan menuju pintu. Arthur kembali melihat pada istrinya dan entah kenapa dia merasa ada hal yang seolah membuatnya tidak tenang.


Namun, Arthur kemudian menepis pikiran itu. Dia berjalan keluar dari kamar.


***


Kiara melihat pada jam dindingnya dan dia ternyata sudah tidur sekitar dua jam. "Aku tidak boleh tidur terus. Aku harus melawan sakit ini."


Kiara bangkit perlahan dan dia menuju kamar mandi untuk mandi air hangat. Mungkin dengan mandi air hangat, dia akan lebih baik nantinya.


Setelah mandi dia mencari baju yang santai agar terasa lebih nyaman. "Sebaiknya aku makan sesuatu karena perutnya lapar."


Kiara turun dan mencari sesuatu yang bisa dia makan. Kiara membuat telur mata sapi dan ada roti, dia juga menyangkan susu ke dalam gelasnya.


"Kenapa rasanya malah tidak enak begini?" Kiara berjalan menuju wastafel karena dia ingin muntah, dan akhirnya dia memuntahkan makanan yang baru saja dia gigit.


Kiara melihat wajahnya pada cermin dan terlihat pucat. "Aku kenapa?"


Kiara tampak bersandar sebentar pada kursi dan akhirnya dia teringat akan suatu hal.


"Apa aku hamil? Aku baru ingat jika belum halangan bulan ini dan harusnya sudah mendapat haid, tapi masih telat beberapa hari sih." Kiara tampak bingung.


Dia kemudian menghubungi Mba Tami. Kiara ingin bertanya pada Mba Tami.


"Halo, ada apa Kiara?"


"Mba, apa aku mengganggu Mba Tami?"


"Tidak sama sekali, Kiara. Aku sedang membuat sarapan saja, memangnya ada apa?"


"Mba, aku terlambat datang bulan sekitar empat hari dan dari kemarin lusa kepalaku pusing. Ini tadi aku juga muntah padahal baru makan beberapa gigit roti"


"Kamu pasti hamil! Kiara, kamu hamil!" seru mba Tami senang.


"Apa itu sudah menunjukan tanda-tanda bahwa aku hamil, Mba?"


"Semoga saja, sih! Tapi kebanyakan memang seperti itu. Coba kamu beli alat tes kehamilan dan periksa di rumah."


"Badanku sangat tidak enak, Mba, dan aku ini saja berbicara dengan Mba Tami sembari berbaring di sofa."


"Pesan saja, biar nanti di antar ke tempat kamu."


"Iya, nanti aku akan pesan, atau aku ke rumah sakit saja nanti dengan Mas Arthur sekalian memeriksakan keadaanku."


"Itu lebih baik, agar hasilnya lebih akurat. Kalau misal kamu hamil, bisa langsung mendapat vitamin untuk bayi kamu."


"Semoga aku benaran hamil ya, Mba. Mas Arthur pasti senang kalau ada bayi kecil di dalam perutku."


"Semoga kamu hamil, Kiara."


"Iya, Mba." Kiara mendengar suara bel pintunya berbunyi. "Mba, sepertinya aku ada tamu yang datang, kalau begitu nanti saja aku hubungi Mba Tami lagi."


"Pokoknya kamu harus memberitahuku tentang hasilnya. Harus," ucap Mba Tami menekankan.


"Iya, Mba. Nanti Mba orang kedua yang aku beritahu tentang jika aku hamil karena orang pertamanya Mas Arthur." Kiara terkekeh pelan.


"Iya deh! Kalah aku kalau sama Mas Arthur." Gantian Mba Tami yang terkekeh.


Setelah mematikan panggilannya. Kiara yang malas sekali beranjak dari sofanya, tapi dia harus karena ada yang dari tadi menekan bel pintu apartemennya.