
Kiara tampak terkejut mendengar pertanyaan Mega. "Mega, kamu itu bertanya apa? Kiano itu hanya berbuat baik dengan menolongku."
"Bisa saja dia menolong kamu karena menyukaimu, Kiara," ucap Elang datar sembari melihat datar pula pada Kiano yang berdiri dengan bersandar pada dinding.
"Kalau Kiara masih single dan belum menikahi, mungkin, bisa saja aku menyukainya. Hal itu wajar, kan? Tapi dia sudah menikah dan aku menghormati sebagai wanita yang sudah mempunyai suami."
Momo melihat penasaran dengan sosok Elang yang terlihat tidak biasa saat menanyakan pertanyaan pada Kiano.
"Tentu saja hal itu wajar. Siapa yang tidak suka sama Kiara? Dia cantik, pintar dan baik. Eh satu lagi, dia juga orang yang sangat menyenangkan menjadi teman. Aku saja yang baru kenal sama dia, senang sekali bisa berteman sama dia."
"Aku dulu juga berteman baik dengan Kiara, tapi waktu dia menyembunyikan pernikahannya dengan Kakakku, aku kecewa sama dia, tapi sekarang semua itu sudah clear, dan aku memang sadar jika Kiara teman yang baik." Mega mencoba bersikap sangat manis di sana.
"Oh, jadi begitu. Kiara mungkin punya alasan menyembunyikan pernikahannya karena aku lihat Kiara ini orang yang polos dan dia tidak mungkin punya niat buruk akan suatu hal." Momo menggenggam tangan Kiara.
"Terima kasih sudah sangat percaya padaku."
"Ini feelku yang mengatakan karena aku juga punya banyak teman yang memiliki sifat masing-masing, aku juga sedikit banyak bisa tau mereka itu bagaimana."
"Kamu benar, Kiara memang orang yang baik." Mega mencoba tersenyum walaupun dalam hatinya dia muak sekali mendengar Momo memuji Kiara.
"Kamu juga teman dan adik iparku yang sangat baik, Mega." Kiara tersenyum.
Tidak lama Bibi Yaya datang membawakan beberapa minuman ringan untuk mereka.
"Kiara, kamu kapan dibolehkan pulang?"
"Kemarin aku sedang berbicara dengan Morgan dan dia bilang kamu dirawat di klinik mamanya karena kontraksi palsu, tapi dia bilang kalau keadaan kamu sudah membaik."
"Kamu itu kenapa tidak bilang sama aku, Kiara? Apa kamu tidak menganggap aku sahabat atau bahkan adik ipar kamu?"
Kiara tampak bingung sekarang. Dia bukannya tidak mau mengabari Mega, tapi suaminya sudah melarangnya.
"Bukannya aku tidak mau mengabari, tapi Kakak kamu mengatakan agar kamu dan Mama tidak perlu tau karena takut akan membuat kalian khawatir, lagi pula keadaanku juga sudah membaik dan besok juga sudah boleh pulang.
"Kakak itu selalu begitu! Apa dia tidak menganggap aku dan mama keluarganya?" ucap Mega sebal.
"Kakak kamu tidak seperti itu, Mega. Apa yang dikatakan Arthur memang benar, apa lagi mama kamu baru saja sembuh juga dari sakitnya, makannya Arthur tidak ingin membuat kalian khawatir," bela bibi Yaya.
"Aku tidak akan bilang mama kalau begitu."
Kiara melihat ke arah bibi Yaya, dia sebenarnya dari tadi ingin ke belakang, tapi menunggu bibi Yaya. "Bi, apa aku boleh minta tolong?"
"Minta tolong apa, Kiara?"
"Aku mau ke belakang, apa Bibi bisa membantuku?" tanya Kiara ragu-ragu.
"Tentu saja bibi akan menolong kamu."
"Bi, biar aku saja yang membantunya." Mega dengan cepat menawarkan bantuan, dia sengaja menawarkan diri ingin membantu Kiara karena dia berharap bisa membuat Kiara dan bayinya tidak baik-baik saja. Nanti Mega ada alasan dengan mengatakan tidak sengaja.