
Aku seketika tertawa mendengar jawaban istrinya yang polos. Kiara benar-benar tidak paham dengan apa yang di maksud oleh suaminya.
"Bukan baju itu yang aku maksud."
"Lalu, baju yang bagaimana?"
Arthur mengeluarkan ponselnya dan dia tampak sibuk mengotak-atik ponsel itu. "Seperti ini." Arthur menunjukkan apa yang ada di dalam ponselnya.
Seketika Kiara yang sedang minum terbatuk melihat gambar yang suaminya tunjukkan.
"Hati-hati Kiara kalau minum." Arthur menepuk pundak Kiara pelan.
"Kamu itu yang buat aku sampai terbatuk kaget. Baju apa yang kamu suruh aku membelinya? Kalau Mega melihat aku membeli baju itu, pasti dia akan pingsan di sana."
"Bilang saja kamu membeli itu untuk Tami yang mau menikah. Mudah, kan?"
"Aku tidak mau memakai baju itu, Mas."
"Kenapa? Kamu pasti akan terlihat sangat cantik jika menggunakan baju itu."
"Memamgnya aku selama ini jelek, ya?"
"Bukan jelek, Ara, tapi kalau memakai itu kamu sama saja lebih menyenangkan suami."
Kiara tampak berpikir sejenak. "Tidak mau pokoknya, baju itu aneh dan aku tidak mau memakainya."
"Ayolah," rengek Arthur dengan wajah menggoda nan menggemaskan.
"Tidak mau, Mas!" Kiara dengan cepat menarik tangan Arthur dan mengecup punggung tangannya. Dia juga tidak lupa mencium bibi suaminya. "Sekarang kamu berangkat kerja dulu karena sudah terlambat." Kiara dengan paksaan menyuruh suaminya berjalan menuju pintu apartemen mereka.
Arthur akhirnya hanya bisa berjalan dengan malas menuju parkiran mobilnya.
"Mas Arthur itu ada-ada saja yang dia pikirkan. Baju itu aneh bentuknya dan aku geli sendiri melihatnya." Kiara tampak aneh sendiri membayangkan gambar yang ditunjukkan oleh Arthur.
Mega sudah menunggu Kiara di mall di mana dia akan jalan-jalan dengan Kiara. Kiara pergi ke sana naik mobil online, padahal sebenarnya Arthur menawarinya agar diantar oleh supir di kantornya, tapi Kiara memilih naik mobil online saja.
"Mega, apa aku terlambat?"
"Aku kira kamu tidak datang, Ara. Kenapa lama sekali?"
"Aku masih menunggu mobil online yang aku pesan datang."
"Salah sendiri kenapa tidak jadi menerima motor yang aku dan Elang berikan?"
Kiara terdiam sejenak. Dia tidak mungkin menerima, bisa-bisa motor itu digantung nanti sama Arthur.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu kita mau ke mana?"
"Aku mau membeli baju, aku dengar ada toko baju terlengkap yang menjual segala model baju dari anak-anak sampai orang dewasa, dan toko itu baru membuka cabang di sini."
"Ya sudah, kita ke sana saja."
Kiara dan Mega berjalan beriringan sembari melihat-lihat semua yang ada di sana.
"Wow! Ini tokonya?" Kedua mat Kiara tampak takjub melihat toko yang sangat besar dan terlihat mewah itu.
"Iya, dan kamu jangan khawatir, walaupun ini terlihat mewah dan megah, barang-barang yang dijual di sini harganya tidak yang sangat mahal. Aku tau kantong kamu, Kiara." Mega tersenyum dan mengajak Kiara masuk.
Mega mulai mencari beberapa baju yang nanti akan dia gunakan dia tempat mereka mau berekreasi.
"Kiara, baju pantai ini indah sekali, kan?"
"Iya, bagus, tapi agak sedikit terbuka."
"Ya ampun, Kiara! Kita ini nanti mau ke pantai. Jadi, wajar saja kalau memakai pakaian seperti ini. Kalau begitu aku mau membeli dua, satunya buat kamu. Kamu mau warna apa?"
"Aku tidak mau mendengar alasan, kita di sana akan memakai baju ini. Titik."
"Tapi, Mega!"
"Kamu putih dan aku warna biru saja. Kita beli ini." Mega mengambil dus mini dress untuk dirinya dan Kiara. Kiara hanya bisa terdiam melihat hal itu.
Kiara kembali melihat-lihat baju di sana, sampai pada akhirnya kakinya melangkah ke bagian baju yang tadi dia bahas dengan suaminya. Kiara melihat manekin yang menggunakan baju itu dan memang terlihat sangat cantik dan sexy.
Kiara melihat sekelilingnya, di sana dia melihat dari kejauhan Mega tampak sibuk melihat beberapa mini dress lainnya.
Kiara tampak sedikit cemas saat kakinya melangkah mendekati manekin yang memakai lingerie berwarna hitam.
"Baju ini tidak begitu buruk, modelnya ini juga terlihat indah, apa lagi bahannya juga sangat halus." Tangan Kiara perlahan mengusap lingerie itu. Dia melihat dari atas sampai bawah lingerie itu.
"Kiara! Kamu sedang apa di sini?"
Sontak saja Kiara langsung terkejut mendengar suara Mega. Dia sampai kebingungan sendiri saking kagetnya.
"Mega! Jangan ngagetin."
"Habisnya, kamu kenapa ada di bagian baju lingerie ini?"
"Lingerie?"
"Iya, itu baju itu disebut lingerie dan biasa digunakan pasangan suami istrinya untuk malam pertama, tapi pasangan kekasih juga banyak yang memakai itu, katanya buat menyenangkan pasangan saja."
"Kok kamu hapal sekali?"
"Tentu saja aku hapal, aku suka lihat film, drama, yang kadang baju itu nyempil dipakai oleh para pemain film itu."
"Ah ... kamu suka melihat film yang seperti itu?"
"Hem! Memangnya kenapa kalau melihat film seperti itu? Kita ini bukan anak kecil lagi, dan lagian aku bukan suka dengan adegan seperti itu, tapi malah lebih ke alur ceritanya, Kiara. Pikiran kamu jangan yang aneh-aneh."
Kiara hanya tersenyum kecil. Dia memang jarang melihat film atau drama karena hidupnya dia habiskan kebanyakan untuk belajar dan membantu ibunya. Dia tau melakukan hal itu ya karena pria bernama Arthur yang tak lain adalah suaminya sekarang.
"Kamu mau apa di sini?"
"Aku bermaksud membeli ini, Mega."
"Apa? Kamu mau membeli lingerie ini?" Mega sampai kedua matanya melotot mendengar apa yang Kiara katakan.
"Jangan kaget seperti itu, Mega. Ih! Kamu suaranya keras sekali, nanti dikira aku yang mau memakai ini."
"Terus? Kamu mau membeli baju ini untuk apa?"
"Untuk mba Tami yang sebentar lagi akan menikah."
"Oh ... begitu. Aku benar-benar shock kamu bilang mau membeli lingerie ini. Eh, tapi lucu juga kalau mba Tami kamu kado lingerie ini, dia pasti kaget sekaget-kagetnya melihat hadiah dari kamu."
Jangankan mba Tami, Kiara saja kaget saat Arthur menunjukan gambar lingerie padanya.
"Iya, pasti mba Tami bakalan kesel sama aku karena memberinya lingerie ini."
"Kalau begitu aku bantu pilihkan yang bagus. Bagaimana?"
Kiara seketika tersenyum aneh mendengar hal itu. Ini adik iparnya malah mau membantu memilihkan lingerie yang nanti Kiara akan pakai untuk menyenangkan kakaknya.
"Kita beli dua saja, Mega dan jangan model yang terlalu ribet memakainya." Kiara melihat beberapa model lingerie yang dipakai oleh beberapa manekin di sana, tapi dia hanya tertarik dengan lingerie yang dipakai patung yang dia sentuh tadi.
"Memangnya kenapa kalau kita cari yang agak ribet modelnya? Kan, bukan kamu nanti yang pakai." Sekali lagi Kiara hanya tersenyum aneh.