Be Mine

Be Mine
Ingin Memilik Anak



Arthur sudah sampai di restoran miliknya. Dia masuk dan segera disambut oleh Manda.


"Pak Arthur, selamat siang. Maaf kalau saya mengganggu Pak Arthur."


"Tidak apa-apa, ada apa Manda? Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan padaku?"


"Pak, saya minta maaf karena harus memecat bagian keuangan di sini."


"Memangnya kenapa?"


"Restoran ini memang baru berjalan beberapa bulan, tapi saat saya memeriksa tentang manajemen keuangan di sini ternyata datanya benar- benar membuat saya tidak percaya. Banyak hal yang rancu dan satu hal lagi ada masalah yang serius."


"Apa itu?" Kedua alis Arthur mengkerut.


"Saya baru tau jika bahan baku produksi untuk makanan di restoran ini sudah hampir satu bulan belum datang dan head waiter di sini tidak membatalkan dan mengambil di tempat lain. Kalau diteruskan seperti ini, saya jamin restoran ini tidak ada bertahan lama."


"Huft! Aku memang sangat sibuk beberapa bulan ini sampai tidak memantau dengan baik urusan di sini. Gio pun juga sibuk dengan urusannya. Manager yang dulu memang memutuskan untuk undur diri karena dia sedang sakit dan harus beristirahat."


"Pak Arthur tidak perlu khawatir karena saya akan berusaha mengatasi semua urusan di sini."


"Aku akan membicarakan masalah ini dengan Gio. Manda, aku berharap kamu bisa menyelesaikannya. Lalu, apa ada hal lainnya lagi?"


"Tidak ada, Pak. Saya tinggal meminta tanda tangan dari pak Arthur untuk dokumen yang akan saya kirim terkait kerja sama dalam penyediaan bahan baku dan mereka bisa bekerja dengan sangat profesional."


Arthur berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Manda dan dia duduk dengan membaca dokumen yang akan dia tanda tangani.


"Sudah selesai. Kalau sudah tidak ada urusan lainnya, aku mau pergi dulu."


"Semua sudah selesai, Pak."


Arthur diantar oleh Manda berjalan menuju pintu utama.


"Mami!" Tiba-tiba terdengar suara anak kecil masuk dan memeluk pinggang Manda.


"My Baby, kamu kenapa datang ke sini?"


"Aku mau melihat tempat kerja mami yang baru. Wow! tempatnya benar-benar indah ya, Mi?"


"Maaf, Bu. Tadi saya sudah bilang kalau tidak boleh pergi ke tempat kerja mami karena mami masih sangat sibuk."


"Aku cuma ingin melihat saja, aku tidak akan nakal di sini."


Arthur melihat pada bocah laki-laki yang memiliki tampang yang ganteng dan lucu dengan kedua pipi cubbynya.


"Manda, apa dia putramu?"


"Iya, Pak. Dean, beri salam dulu pada atasan Mami." Manda memperkenalkan Arthur dengan putra semata wayangnya.


"Halo, Om, perkenalkan namaku Dean. Om tampan namanya siapa?"


"Terima kasih sudah mengatakan kalau wajahku tampan. Kamu juga sangat tampan."


"Dean, Om ini namanya Pak Arthur."


"Halo, Om Arthur, nama Om bagus sekali."


"Terima kasih, Dean. Nama kamu juga unik." Arthur tersenyum manis pada bocah laki-laki itu.


Manda yang melihat mereka berdua merasa sangat senang. Arthur ternyata pria yang sangat baik dan lembut.


"Manda, kalau putramu masih ingin di sini, biarkan dia berada di sini dulu. Aku tidak keberatan jika kamu membawa putra."


"Terima kasih, Pak Arthur."


"Om Arthur mau ke mana?" tanya bocah kecil itu yang melihat Arthur seperti bersiap akan pergi dari sana.


"Om mau pulang dulu karena masih ada keperluan penting." Wajah Dean seketika tampak murung. "Kamu kenapa?"


"Aku ingin main."


"Dean, nanti kalau kamu pulang kita bisa bermain bersama." Manda duduk berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putranya.


"Aku bosan main dengan mami. Main dengan Mba Ima juga sudah bosan. Di sekolah aku tidak mau bermain dengan teman-temanku karena mereka nakal suka mengolok aku yang tidak punya papi." Sekali lagi wajah bocah kecil itu menunduk.


"Kamu mau main apa? Atau mau memberi makan ikan di kolam yang ada di belakang restoran ini?"


"Ada. Kamu mau ke sana untuk melihatnya?"


"Mau ... mau! Aku mau melihatnya, Om."


Arthur menggandeng tangan bocah kecil itu. "Pak, biar nanti sama saya saja. Dean, kamu jangan membuat susah atasan Mami."


"Tidak apa-apa, Manda. Kamu lakukan saja tugasmu dan biar aku yang akan mengajak Dean main sebentar."


Dean yang masih menggenggam tangan Arthur mengajak Arthur pergi dari sana.


"Bu, apa saya menunggu di sini dulu, atau Dean pulang dengan Bu Manda?"


"Kamu pulang saja naik mobil online dan nanti biar Dean pulang denganku."


"Baik kalau begitu, Bu. Saya pulang dulu."


Manda tidak masuk ke dalam ruang kerjanya, dia malah pergi ke belakang restoran untuk melihat Arthur dan putranya sedang bermain.


"Mereka berdua terlihat sangat cocok. Cocok sebagai ayah dan anak. Arthur pria yang matang, tampan dan yang pasti dia kaya raya. Hidupku pasti akan sangat terjamin jika menjadi istrinya. Aku juga tidak perlu bekerja memikirkan tentang masa depanku dan anakku," Manda berdialog sendiri.


Wanita itu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di area parkiran restoran. Dia ternyata melakukan sesuatu dengan mobilnya. Kemudian dia kembali ke restoran.


"Mereka masih bermain. Aku akan segera menyelesaikan tugasku."


Arthur masih memberi makan ikan dan menjawab semua pertanyaan yang bocah kecil itu tanyakan.


Bocah itu bertanya kenapa ikan suka berada di air, dan apa hobi Arthur. Arthur terlihat senang dengan Dean yang adalah bocah yang pintar


"Pasti menyenangkan sekali jika aku memiliki anak dengan Kiara, tapi apa hal itu bisa terjadi?"


"Om Arthur, Om sedang melamun apa?"


Arthur tersadar dari lamunannya saat tangan Dean menggoyangkan tubuh Arthur. "Om tidak melamun apa-apa, Dean."


"Jangan berbohong. Berbohong itu tidak baik, tadi aku melihat Om sedang diam dan memikirkan sesuatu, sama persis dengan apa yang selalu mamiku lakukan di rumah."


"Kamu itu anak yang pintar sekali. Orang dewasa itu ada kalanya melakukan hal seperti itu jika sedang memikirkan suatu masalah."


"Aku kalau sedang seperti itu memikirkan tentang jawaban pelajaran."


Arthur sekali lagi dibuat tersenyum oleh bocah kecil itu. Arthur melihat jam tangannya dan jarum jam menunjukan angka lima tepat. Arthur mengajak Dean untuk pergi dari sana karena sudah waktunya Manda pulang.


"Bagaimana ini?" Wajah manda tampak bingung dan terlihat cemas.


"Manda, ada apa?"


"Pak, tadi saya mau menaruh tas sekolah Dean di dalam mobil, tapi saat saya lihat ternyata ban mobil saya kempis. Sepertinya ban mobil saya bocor juga."


"Aku akan menghubungi montir yang biasa mengurusi mobilku agar bisa memperbaiki ban mobilmu."


"Tapi pasti masih menunggu lagi. Saya dan Dean harus segera sampai rumah karena Dean ada jadwal les privat bahasa inggris jam setengah tujuh."


"Kalau begitu, aku akan mengantar kalian pulang. Rumah kamu searah akan ke rumahku. Jadi, sekali saja kita pulang bersama."


"Apa tidak merepotkan Pak Arthur nantinya?"


"Tentu saja tidak, Manda. Ayo kita pulang sekarang saja."


Arthur mengajak Manda dan putranya masuk ke dalam mobil dan mengantar mereka pulang.


"Om, terima kasih sudah mengantar aku dan mamiku pulang.


"Sama-sama, Dean."


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah wilayah perumahan yang tidak terlalu besar, tapi bangunannya terlihat nyaman.


"Pak Arthur apa mau mampir sebentar untuk minum teh?"


"Aku minta maaf, lain kali saja aku akan mampir karena aku harus segera kembali."


"Om Arthur, kapan-kapan aku boleh main ke rumah Om 'kan?"


"Tentu saja boleh."