
Terlihat di sana, Elang yang berdiri dari tadi di tempatnya, tidak melepaskan pandangannya pada Kiara yang sedang berbicara dengan salah satu teman sekolahnya.
Arthur yang juga berada tidak jauh dari Kiara melihat jika Elang dari tadi memperhatikan istrinya itu.
Arthur tersenyum miring. "Seharusnya tidak aku perbolehkan saja Kiara datang ke sini. Menyebalkan sekali melihat bocah itu dari tadi melihat pada istriku," celoteh Arthur.
"Ada apa, Bro?" Tepuk tangan Gio tepat berada di pundak Arthur.
"Kamu datang juga? Katanya kamu tidak bisa datang karena harus pergi ke luar kota.
"Tidak jadi. Elena ada jadwal yang tidak bisa dia tinggalkan di sini. Jadi, aku datang saja ke sini sendirian.
"Apa kamu sudah mengetahui kabar tentang Manda?"
"Iya, aku sudah tau dan baru saja aku menanyakan kabarnya. Dia sudah lebih baik."
"Bagus kalau begitu."
Gio mengedarkan pandangannya dan kedua matanya menangkap sosok yang dia kenali. "Itu istrimu?" Gio tampak mendelik melihat ke arah Kiara.
"Iya, itu Kiara."
"Wow! Dia cantik sekali! Aku tadi hampir tidak mengenalinya. Sayang sekali dia sudah menikah, coba waktu itu aku bertemu dengannya di jalan dan dia tidak sedang sedih, pasti aku ajak kenalan."
"Oh ya? Jadi, kamu pernah bertemu Kiara sebelum aku kenalkan dia?"
"Iya, waktu itu dia hampir aku tabrak, dan kejadian itu sebelum aku pergi ke rumahmu. Aku tidak mempermasalahkan karena melihat dia seperti baru saja tertimpa masalah yang berat dan aku baru tau kalau masalahnya itu denganmu." Gio meneguk minumannya.
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan hal itu?"
"Aku baru ingat wajah Kiara, tapi sekarang aku senang dia bersama pria yang pasti akan terjamin masa depannya."
"Tentu saja. Aku sudah menyakitinya sangat sakit dan aku sekarang ingin membahagiakan dia, Gio." Gio tidak berkata, tapi dia memberi Arthur dua jempolnya.
Acara kemudian di mulai. Mereka sudah dipilih siapa saja yang boleh ikut dan sudah dibagi menjadi dua kubu.
Salah satu MC di sana mengambil satu nama dan ternyata itu nama salah satu teman Kiara dan dia berpasangan dengan anak dari salah satu teman mamanya Mega.
"Nama kedua adalah ... Kiara Tizani!"
Kiara yang mendengar namanya disebut tampak kaget dan dia sampai celingukan bingung.
"Kiara, nama kamu. Ayo maju sana," kata salah satu teman sekolahnya.
Elang yang mendengar nama Kiara disebut dia sudah berharap dari kubu pria, nama dia yang keluar.
"Kiara akan berdansa dengan .... siapa hayo?" goda salah satu MC di sana.
"Elang ...!" Morgan tiba-tiba berteriak memanggil nama Elang.
"Apa Elang kekasih Kiara?"
"Mereka mantan pacar," celetuk Mega. Kiara hanya diam saja dan dia pun tidak melihat sama sekali pada Elang.
"Tapi sayang, nama yang keluar bukan Elang, melainkan Arthur Maxian Lucas."
"Itu nama kakakku!" seru Mega senang.
Arthur yang disebut namanya sekarang pun jadi bingung. Kiara juga seketika kaget dan melihat pada Arthur yang berada tepat di depannya.
"Apa? Kenapa Arthur bisa ikut dalam acara ini?" tanya Elang tidak percaya.
"Tentu saja bisa, Lang. Arthur masih single dan dia juga tamu undanganku, walaupun dia kakakku."
"Single? Gio melirik pada Arthur yang ada di sebelahnya, kemudian dia tersenyum aneh.
Arthur berjalan maju ke depan. "Dia kakak kamu, Mega?"
"Iya, Kak."
"Apa boleh ditukar aku saja yang berdansa dengannya?" celetuk salah satu MC yang seumuran dengan Mba Tami.
"Tidak boleh, bukannya Kakak sudah menikah." Mega terkekeh.
Arthur maju dan mengulurkan tangannya pada Kiara. "Tapi aku tidak bisa berdansa," ucap Kiara pelan.
Kiara perlahan menerima jabatan tangan Arthur. sebuah pelukan lembut menarik pinggang Kiara membuat kedua mata gadis itu membulat saat Arthur semakin membawa tubuh Kiara mendekat pada tubuhnya.
"Arthur." Kiara ingin mengingatkan Arthur jika mereka sedang berada di pesta ulang tahun Mega.
"Kamu biasa saja, atau kamu memang gugup saat dekat denganku?"
"Maksud kamu apa?" Kiara mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kamu gugup atau nervous di dekatku, itu artinya kamu memiliki perasaan khusus denganku," mereka berbicara pelan.
"Pasangan yang ketiga adalah ... Mega Adriana Lexi."
"Aku?" Mega tampak terkejut.
"Iya kamu, Tuan Putri, dan kamu akan berpasangan dengan ...." MC Itu mengintip nama dari kertas yang dia bawa.
"Aku sama siapa, ya?" tanya Mega dengan cemas.
"Elang Wijaya Lingga."
"Apa? Aku?" Elang pun tampak terkejut.
"Apa tidak salah kamu mengambil namanya?" tanya Mega tidak percaya jika dia akan berdansa dengan Elang.
"Tidak salah, Tuan Putri. Sudah! Kalian bertiga mulai bersiap-siap karena musik akan segera diputar."
Mega berdiri berhadapan dengan Elang. Elang pun menatap Mega datar. "Kamu bisa berdansa, Lang? Jujur saja, aku ingin memenangkan lomba dansa ini karena aku sangat bisa berdansa, dan karena ini hari ulang tahunku."
"Jujur saja, aku tidak terlalu ingin memenangkan lomba ini, aku hanya ingin berdansa dengan Kiara."
Mega terdiam sejenak. "Katakan padaku, bagaimana caranya agar kamu bisa melupakan Kiara? Kalau aku bisa bantu, aku akan membantumu."
"Kamu kenapa ingin aku melupakan Kiara? Apa karena ingin dia bersama Arthur, atau kamu--."
"Aku kasihan padamu dan sahabatku itu. Kalian tidak akan bisa bersama." Elang terdiam.
Acara dansa pun dimulai. Musik pun sudah dimainkan.
Ketiga pasangan dansa itu mulai menari dengan perlahan. Tampak Kiara berusaha mengikuti apa yang Arthur arahnya.
"Arthur! Auw!" Kakinya beberapa kali menginjak kaki suaminya itu, tapi Arthur tidak marah. Malahan dia menganggap itu hal yang lucu. Istrinya ini sangat polos dan Arthur dibuat gemas oleh tingkah Kiara.
"Nanti berputar perlahan dan aku akan menangkapmu."
"Apa seperti yang di televisi itu? Apa harus seperti itu?"
"Akan lebih indah jika kita melakukan hal itu."
"Arthur, apa kamu berharap memenangkan lomba dansa ini?"
"Tidak sama sekali. Memangnya kenapa?"
Kiara malah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku lupa, kalau kamu tidak mungkin menginginkan menang dalam lomba ini. Hadiah sepeda motor dan tiket itu malah bisa kamu beli sendiri."
"Kamu ingin menang memangnya, Kiara?"
"Kalau melihat hadiahnya sepeda motor, aku jadi ingin mendapatkannya. Itu motor, Arthur dan bisa menggantikan motorku yang sering rusak."
"Aku belikan tidak mau."
"Memang tidak mau."
"Kepala baru," cemooh Arthur.
Mereka kembali melanjutkan dansanya. Elang tampak menyeimbangi gerakan Mega, Mega dan Elang dua orang yang pandai berdansa.
Elang tampak dansa dengan serius walaupun pandangan matanya selalu pada Kiara.
Arthur dan Kiara kembali berdansa yang malah membuat Kiara banyak tertawanya karena memang beberapa kali masih saja dia melakukan kesalahan.
"Alexa, kamu lihat, gadis miskin itu terlihat seolah sedang menggoda anakmu."
"Dia bermimpi jika Arthur akan mau dengannya."