
Arthur tampak senang melihat Kiara menikmati sup yang dibuatkan oleh Bibi Yaya. Kiara terlihat baik-baik saja menikmatinya.
"Enak sekali, Mas."
"Bibi senang jika kamu menyukainya. Memang bayi di dalam perutmu itu anaknya Arthur. Dia dulu di dalam perut ibunya juga suka sup itu, bahkan sampai sebesar ini juga masih suka."
"Kamu tidak mau muntah sama sekali, Kiara?"
Kiara menggeleng. Dia kembali menikmati supnya bahkan hampir habis sup yang ada di mangkuknya.
"Bi, besok buatkan sup ini lagi, ya. Maaf ya, Bi, kalau aku merepotkan."
"Tentu saja tidak, Kiara, kamu sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula bayi yang ada di dalam perut kamu itu juga sudah bibi anggap seperti cucu bibi sendiri."
Kiara malah menangis mendengar apa yang Bibi Yaya ucapkan. Arthur yang melihatnya jadi bingung.
"Sayang, kenapa malah menangis? Apa ada yang salah dari ucapan Bibi Yaya?"
Kiara menggeleng pelan sembari menghapus air mata. "Aku jadi kangen Ibu, Mas. Coba masih ada ibu, pasti beliau akan berbuat sama seperti yang dilakukan Bibi Yaya."
"Jangan bersedih kasihan bayi di dalam perutmu bisa merasakan kesedihan juga kalau kamu bersedih. Mulai sekarang juga boleh anggap bibi sebagai ibu kandung kamu. Kalau kamu kangen masakan ibumu, kamu tinggal bilang mau dibuatkan masakan apa, atau hal apa yang biasa dirimu lakukan sama ibumu."
"Bibi, aku nanti ingin menonton televisi dengan dipeluk oleh Bibi. Ibuku saat hatiku sedang merasa tidak karuan, selalu dipeluk oleh ibuku."
"Sayang, aku juga bisa melakukannya kalau kamu cuma ingin dipeluk."
"Apa sih, Mas? Aku ini ingin seolah dipeluk sama ibu. Bukan suamiku, Mas."
"Kamu pakai saja baju ibunya Kiara, jika ingin mengabulkan apa yang istrimu inginkan."
"Hah?" Sepasang suami istri itu kaget bersamaan. Bibi Yaya malah terkekeh.
Malam itu di ruang tengah. Kiara tampak melakukan apa yang dia inginkan. Arthur yang melihatnya hanya bisa berpangku tangan, tapi dia juga merasa senang melihat istrinya yang langsung bisa akrab dengan bibi Yaya.
"Kiara, Bibi Yaya tidak tidur di sini, dia seperti biasa akan pulang jam tujuh tepat atau saat semua pekerjaannya di sini sudah selesai dan dia akan kembali ke sini pagi-pagi sekali."
"Apa tidak capek, Bi?"
"Ada keluarga dari Bibi Yaya yang akan mengantar jemput. Jadi, Bibi Yaya tidak akan kecapean."
Jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Seharusnya Bibi Yaya jam tujuh sudah pulang, tapi karena dia baru bertemu dengan Kiara dan melihat Kiara sedang pada masa manja dan sensitifnya karena mungkin pengaruh bayi di dalam perutnya. Jadi, bibi Yaya memilih di sana dulu.
"Sebaiknya segera pindahkan saja istrimu di dalam kamar. Dia tampak nyaman sekali tidurnya."
"Iya, Bi. Bi biasanya sifat sensitif seperti yang sedang Kiara ini alami karena hamil apa akan berlangsung lama?"
"Kenapa? Kamu takut tidak bisa sabar menghadapi sifat istrimu yang tiba-tiba berubah jadi lebih sensitif?"
"Bukan tidak sabar, hanya saja dia pasti nanti banyak berpikiran yang negatif dengan apa yang aku lakukan. Kasihan kalau sampai dia kepikiran terus."
"Makannya, nanti kalau ada seseorang mendekati kamu, sebisa mungkin kamu menjauh saja, atau kamu lebih sering diam saja, takutnya nanti kalau bicara, Kiara menerimanya salah."
"Huft! Kalau hal itu memang benar. Niatnya aku mau memuji, tapi malah dikira aku menghinanya. Wanita hamil itu benar-benar membuat aku bingung, tapi ini yang aku harapkan."
Bibi Yaya menepuk pundak Arthur dan dia izin pulang karena yang menjemputnya juga sudah datang.
Arthur menggendong Kiara dan membawanya ke kamar mereka. Dia menidurkan Kiara dengan pelan.
***
Pagi itu, Kiara dan Arthur sedang sarapan pagi. Bibi Yaya juga sudah menyiapkan semuanya.
Bibi Yaya memegang juga kunci apartemen Arthur agar bisa dengan leluasa keluar masuk.
"Mas, nanti pulangnya jangan lama-lama."
"Aku akan pulang seperti biasanya, Ara."
Wajah Kiara seketika cemberut. "Pulangnya jangan seperti biasanya, Mas. Kamu pulang lebih awal saja."
Arthur wajahnya langsung aneh. Dia hari ini banyak pekerjaan di kantor karena kemarin sudah tidak masuk. Bibi Yaya yang melihat perubahan Tuan Mudanya itu malah menahan tawa.
"Tapi hari ini di kantor aku banyak pekerjaan, Sayang," ucap Arthur mencoba berhati-hati agar istrinya tidak marah.
"Minta tolong saja sama sekretarismu."
Arthur bingung sekarang, dia melihat ke arah bibi Yaya dan wanita itu memberi isyarat untuk mengiyakannya saja.
"Ya sudah, nanti aku akan minta tolong pada sekretarisku. Sekarang aku mau berangkat dulu, dan setelah kamu sarapan pagi jangan lupa minum vitaminnya."
"Iya aku tidak akan lupa. Mas, nanti kalau pulang aku mau dibelikan durian."
"Hah? Durian? Tapi Ara, aku tidak suka bau durian."
"Kan kamu, aku suka makan durian, dan aku ingin makan durian, Mas."
"Tapi Mas pusing nanti kalau mencium baunya."
"Tidak perlu kamu cium. Kamu beli, masukkan di bagasi mobil dan bawa pulang."
Sekali lagi Arthur melihat ke arah bibi Yaya. "Kiara, kamu sedang hamil dan sebaiknya menghindari makan durian karena ada sebagian orang hamil ada yang janinnya tidak kuat jika terkena buah durian, tapi ada juga yang tidak memiliki masalah jika makan buah itu. Untuk kamu kita, kan tidak tau apa janin kamu kuat apa tidak jika terkena durian?"
"Seperti itu ya, Bi. Sayang, kamu tidak boleh makan durian," ucap Arthur tegas.
"Sedikit saja, Mas. Aku yakin kalau bayiku akan kuat."
"Kiara, jangan mencoba hal yang membahayakan untuk bayi kita."
"Mas, aku hanya ingin makan sedikit. Kamu jangan berpikiran buruk tentang hal itu."
"Tidak boleh, Kiara. Lagi pula sejak kapan kamu suka durian?"
"Aku suka! Mas saja tidak tau, apa lagi kemarin saat melihat iklan di televisi roti isi selai durian, aku jadi ingin makan durian."
"Kalau begitu besok aku singkirkan saja televisi itu dan kamu tidak perlu melihat televisi." Arthur terlihat kesal.
"Pokoknya aku mau durian, Mas! Kalau tidak dibelikan, aku mogok makan!" Kiara beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
"Kiara ... Ara!" panggilan Arthur tidak didengarkan oleh istrinya. "Oh Tuhan! Bi, apa hal seperti ini masih akan berlangsung lama? Dia itu dari dulu benar-benar keras kepala."
Bibi Yaya sekali lagi terkekeh. "Istrimu itu sedang mengidam, dan orang mengidam pasti aneh-aneh maunya, dan kamu sebagai suami turuti saja daripada nanti Kiara malah sedih."
"Tapi mengidamnya kenapa harus buah durian? Kenapa tidak minta beli toko buah-buahan saja, pasti aku belikan."