
Seorang wanita dengan gaun belahan panjang pada bagian kaki kanannya berjalan mendekat ke arah Arthur yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya dan pria paruh baya yang adalah rekan bisnis Arthur itu tampak terseyum pada wanita yang mendekat ke arah mereka.
"Selamat malam, Selena, apa kabar?"
"Selamat malam, Tuan Danu. Kabarku sangat baik."
"Oh ya, aku dengar kamu menjadi model untuk sebuah perusahaan terbesar di London. Wow! Kamu hebat sekali," puji pria bernama Danu itu.
"Terima kasih. Aku sendiri tidak menyangka akan mendapat tawaran itu sebenarnya."
"Tapi kamu memang pantas mendapatkan tawaran itu karena kamu model yang profesional dan sangat cantik. Oh ya, Selena, apa suatu hari nanti kita akan bisa bekerja sama karena aku dan Arthur akan meluncurkan produk baru dan aku yakin kamu pasti sangat pantas menjadi modelnya, dan aku yakin jika kamu yang menjadi modelnya, produk baru ini akan meledak di pasaran dunia."
Selena melihat ke arah Arthur. "Tentu saja aku akan sangat senang bekerja sama untuk produk kalian."
Arthur sama sekali tidak melihat, dia terlihat menatap datar pada Danu dan menghabiskannya minumannya.
"Bagaimana, Arthur?"
"Aku belum memutuskannya. Kita lihat saja nanti karena aku punya cara sendiri dalam berbisnis," ucapnya dingin.
"Tuan Danu, apa boleh aku berbicara berdua dengan Arthur?"
"Oh! Tentu saja. Silakan." Tuan Danu meminta izin pergi dari sana dan sekarang di sana hanya ada Arthur dan Selena.
"Jaga sikpamu, Selena! Aku tidak mau Kiara salah paham dengan semua ini. Dengar ya, Selena! Aku tidak akan mau berurusan lagi denganmu, dan soal kamu membutuhkan pekerjaan, aku tau apa yang bisa kamu lakukan untuk memenuhi semua keinginanmu. Satu lagi! Jangan kamu mencoba merusak kebahagiaanku dengan Kiara dengan foto yang kamu kirimkan pada istriku. Jika kamu masih ingin berusaha membuat kebahagianku dan Kiara hancur, jangan salahkan aku jika berbuat hal yang tidak akan kamu bayangkan." Arthur menatap tajam pada Selena.
"Kamu mengancamku, Arthur? Aku ini wanita yang dulu sangat kamu cintai, bahkan banyak kenangan indah yang sudah kita lalui berdua."
Arthur tersenyum miring. "Sayangnya aku sudah melupakan semuanya, dan aku sangat bersyukur sskarang kamu meninggalkan aku waktu itu."
Arthur yang akan melangkah pergi dengan cepat tangannya ditahan oleh Selena. Arthur menoleh dan menatap pada tangannya. "Lepaskan, Selena. Seharusnya kamu menjaga sikapmu agar tidak dipandang sebagai wanita yang buruk."
"Arthur, kamu pikir istrimu itu wanita yang baik." Selena tersenyum dengan sinis. "Dia itu sama saja denganku, dia masih mencintai mantan kekkasihnya yang tak lain adalah calon adik iparmu."
"Kamu salah, Selena. Aku sangat mengenal siapa Kiara."
"Benarkah? Lalu, ini apa?" Selena tiba-tiba menunjukkan foto di mana Kiara dan Elang sedang berpelukan. "Dia hanya berpura-pura mencintaimu."
Wajah Arthur tampak dingin menatap foto itu. Dia mencoba menenangkan dirinya, padahal darahnya sebenarnya mendidih melihat hal itu.
Arthur tidak berkata apa-apa, dia berjalan pergi dari sana. Dia akan menanyakan hal itu pada Kiara.
Selena tersenyum bahagia melihat hal itu. "Sebenarnya aku mau menemui gadis miskin itu untuk menanyakan tentang foto suaminya yang aku kirim padanya, tapi aku malah mendapat pemandangan yang sangat menarik. Sebentar lagi gadis miskin dan tidak tau diri itu akan bernasib sama sepertiku, dan mirisnya dia ditinggal oleh Arthur dalam keadaan hamil. Kasihan sekali." Selena menghabiskan minumannya.