
Mega dan calon mama mertuanya tampak masih saling melihat satu sama lain. Mereka seolah tidak percaya jika Kiara yang dinikahi oleh Arthur seorang raja dalam dunia bisnis adalah Kiara si gadis miskin yang sering mendapat hinaan.
"Arthur sama sekali tidak bercanda, Tante. Kiara adalah istrinya dan aku menjadi saksi di acara pernikahan mereka," terang Gio.
"Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa gadis yang sama sekali bukan tipe kamu ataupun pantas jika menjadi istrimu kamu menikahinya, Arthur?"
"Hal itu bagiku tidak penting, Ma. Aku mencintai Kiara dan aku jatuh cinta padanya. Oleh karena itu aku menjadikan dia istriku karena dia memang pantas mendampingiku."
"Kamu benar-benar memalukan nama baik keluarga kita, Arthur!"
"Tidak ada yang dipermalukan di sini. Aku Arthur Maxian Lucas sama sekali tidak malu menjadikan Kiara sebagai istriku," ucap Arthur lantang.
"Maaf, Tante, aku bukannya ikut campur, tapi apa yang Tante lakukan pada menantu Tante itu benar-benar sangat keterlaluan."
"Dia bukan menantuku, Gio! Aku tidak akan pernah menganggap gadis miskin dan tidak tau diri itu sebagai menantuku!" seru Alexa marah.
Kella berjalan mendekat pada sahabatnya dan mencoba menenangkan Alexa. "Arthur, apa yang sudah kamu lakukan dengan menikahi Kiara adalah kesalahan besar. Dia hanya ingin harta yang kamu miliki, dia itu gadis murahan yang hanya mengincar harta pria kaya."
"Aku masih menghormati Tante sebagai calon ibu mertua adikku, tapi jika Tante masih tidak sopan terhadap istriku, aku akan lupa siapa Tante. Jadi, mulai sekarang berbicara dan bersikaplah baik terhadap Kiara karena dia adalah istriku. Dengarkan itu," Arthur menekankan ucapannya.
Kella tidak bisa berkata apa-apa karena dia tau siapa Arthur. Kejadian yang terjado pada perusahaan Jhon membuat Kella harus berhati-hati pada Arthur, apa lagi perusahaan miliknya masih jauh di bawah milik Arthur. Oleh karena itu Kella senang jika Elang bisa bertunangan dengan Mega.
Tidak lama terdengar ponsel milik Arthur dan Arthur melihat ada panggilan dari nomor yang tidak dia kenal.
"Mas Arthur."
"Oh Tuhan! Kiara? Kamu Kiara, kan?"
"Iya, Mas aku Kiara."
"Sayang, kamu di mana?"
"Aku ada di rumah Morgan, dia dan ibunya yang sudah menolongku saat aku pingsan di jalanan."
"Apa? Di rumah Morgan? Morgan teman kamu itu?"
"Iya, Mas. Mas, aku mau pulang, aku ingin bertemu dengan kamu." Kiara terdengar menangis.
"Okay kalau begitu kamu kirim alamatnya padaku dan aku akan segera menjemput kamu ke sana. Tunggu aku di sana, Ara."
"Iya, Mas." Kiara mematikan panggilannya dan dia mengirim lokasi di mana dia berada.
"Arthur, apa itu Kiara? Apa dia baik-baik saja?" tanya Gio cemas.
"Iya, itu Kiara, Kiara tadi pingsan di jalan dan dia ditolong oleh teman dan ibunya. Aku akan segera menjemputnya ke sana dan membawanya segera ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaanya."
"Arthur, biarkan gadis itu, dia tidak pantas untukmu."
"Jika sesuatu terjadi pada istriku, aku tidak akan mau menjadi bagian dari keluarga ini lagi." Arthur dan Gio segera pergi dari sana.
Di klinik, Kiara tampak mengucapkan terima kasih pada mommynya Morgan yang sangat baik sudah menolongnya, bahkan memeriksa keadaannya.
"Kiara, jaga baik-baik kandungan kamu karena trimester pertama itu sangat rawan sekali. Kalau bisa kamu lebih banyak untuk beristirahat dulu dan jangan memikirkan banyak hal."
"Iya, Tante, aku akan melakukan apa yang Tante katakan."
"Kiara, anak kamu pasti lucu dan cantik seperti mamanya."
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja, Ma." Kiara bisa terseyum melihat kedua orang, ibu dan anak itu.
Ponsel Morgan berbunyi dan dia melihat ada nama Mega di sana. Morgan sebenarnya tidak mau menjawabnya karena dia tau pasti Mega bertanya kenapa pada saat tadi Mega balik menghubungi Morgan, Morgan tidak mengatakan jika Kiara ada di tempatnya.
Tentu saja Morgan tidak mengatakan karena tadi ada Elang di tempatnya dan dia tidak mau menambah masalah lagi. Morgan izin pergi dari sana agar Kiara tidak mendengar apa yang akan dia katakan dengan Mega.
"Halo, Mega."
"Morgan, apa benar Kiara ada di tempat kamu? Kenapa tadi tidak kamu katakan padaku?"
"Kamu pasti tau lebih dulu jika Kiara diusir dari apartemen kakak kamu, kan? Mama kamu pasti sudah cerita. Mega, aku tidak mau mencampuri urusan keluarga kalian."
"Kiara sudah menyembunyikan hal besar dari diriku. Dia sudah menikah dengan kakakku Arthur. Aku ini sahabatnya yang selalu membantunya, tapi dia malah menyembunyikan hal itu dariku."
"Kamu juga sudah menyembunyikan hal besar dari Kiara, kan? Ayolah, Mega! Apapun yang sudah dilakukan Kiara tidak sepantasnya mama kamu mengusirnya seperti itu. Bisa, kan, mama kamu menghubungi kakakmu untuk menjelaskan semuanya. Kiara itu sedang hamil, apa kalian tidak kasihan jika terjadi apa-apa padanya?"
"Apa? Kiara hamil?" Mega tampak terkejut.
"Iya, dia hamil, mommyku yang seorang dokter kandungan yang memeriksa keadaan Kiara."
"Ini tidak mungkin."
Morgan tidak lama mendengar ada suara mobil di luar, dan dia tau pasti itu kakaknya Mega.
"Mega sudah dulu dan aku harap kamu menghubungi sahabatmu itu, kalau perlu kamu meminta maaf atas apa yang mama kamu lakukan padanya." Morgan mematikan panggilan teleponnya.
"Aku tidak sudi meminta maaf padanya. Kiara tidak boleh hamil dan menjadi kakak iparku. Jika hal itu terjadi, itu berarti dia akan menjadi kakak iparku dan Elang. Dia dan Elang tidak malah tambah jauh, tapi semakin mendekat, dan ini sepertinya sudah Kiara rencanakan."
Morgan segera menemui Arthur dan mengajaknya masuk ke dalam klinik. Arthur mengucapkan terima kasih pada Morgan karena ternyata Morgan sudah sangat baik menolong istrinya, padahal Arthur sempat kesal dengan Morgan.
Saat pintu kamar di mana Kiara dirawat dibuka, kedua pasang mata itu sama-sama berbinar dengan ada butiran air mata di kedua mata mereka.
"Mas!"
"Kiara!"
Arthur segera memeluk dengan erat istrinya. Arthur benar-benar seperti orang yang kehilangan separuh nyawanya saat mengetahui Kiara menghilang karena dia sangat takut kehilangan Kiara."
"Mas, aku sangat merindukan kamu." Kiara menangis.
Morgan yang ada di sana tampak terharu karena dia tidak pernah melihat dua orang yang tampak benar-benar tulus saling mencintai seperti Kiara dengan Arthur.
"Sayang, aku juga sangat merindukan kamu. Aku dari tadi mencarimu ke mana-mana Kiara, dan aku sangat takut tidak bisa bertemu kamu lagi." Arthur masih memeluk istrinya.
"Mas, aku ada berita bahagia untuk kamu."
Arthur perlahan melepaskan pelukannyan dan dia melihat Kiara dengan tatapan penasaran.
"Berita bahagia apa, Kiara?"
"Mas, ada bayi kamu di dalam perutku ini sekarang."
"A-apa?"