Be Mine

Be Mine
Kenangan



Malam ini di rumah Kiara sangat ramai berdatangan para tetangga untuk takziyah. Mereka sangat terkejut dan tidak percaya jika Ibu Kinan yang terkenal orangnya sangat baik di tempat tinggalnya itu meninggal begitu cepat. Mereka tau jika Ibu Kinan sedang sakit dan tiap hari harus kontrol ke rumah sakit, tapi tidak menyangka jika penyakit yang dideritanya sangat parah, dahal tiap hari ibu Kinan terlihat sangat sehat dan kuat menjalani hari-harinya.


Arthur di sana hanya bisa berdiri menjauh karena hal itu memang diminta oleh Kiara. Kiara tidak mau orang-orang di sana akan membicarakannya, dan Arthur bisa memahami hal itu.


"Mas Arthur, jujur saja aku benar-benar kaget mengetahui jika Mas Arthur dan Kiara tiba-tiba menikah dihadapan Tante Kinan."


"Jika Kiara sudah lebih tenang, dia pasti akan menceritakan pada kamu yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri."


"Iya, dia sekarang masih terguncang akan meninggalnya tante Kinan. Apa lagi di dunia ini dia tidak memiliki siapa-siapa. Keluarga kedua orang tuanya seolah tidak peduli padanya."


"Dia sekarang memiliki aku dan aku akan menjaganya sesuai janjiku pada Ibu Kinan," jelas Arthur dengan pandangan tidak lepas dari gadis yang sedang duduk melamun dengan mata sembabnya.


Tami melihat ke arah Arthur, dan dia seolah melihat ada keseriusan yang mendalam dari ucapan Arthur.


"Mas Arthur mencintai Kiara?" tanya Tami dengan nada ragu.


Jujur saja, Tami masih tidak bisa percaya jika pria yang sangat-sangat dia kagumi dan pernah dia impikan untuk bisa bersanding dengannya, malah menikah dengan gadis yang sudah dia anggap sebagai adik. Gadis yang sama sekali tidak ada dalam bayangannya akan menikahi pria idamannya.


Arthur melihat pada Tami. "Ada hal yang mengharuskanku menikahi Kiara selain cinta."


Tami masih belum paham, tapi pasti dia nanti akan bertanya pada Kiara tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Mas Arthur dan Kiara.


Mba Tami memutuskan menginap di rumah Kiara malam ini dan dia akan menemani Kiara di rumahnya. Arthur diajak Gio untuk pergi dari sana sesudah memastikan jika Kiara akan baik-baik saja agar tidak menjadi omongan banyak orang, secara Arthur dan Kiara menikah secara diam-diam tanpa diketahui banyak orang.


Pagi itu, Kiara terbangun dengan terkejut karena mendengar suara berisik di dapur. Dia yang masih belum bisa menerima kepergian ibunya, menyangka jika itu ibunya yang sedang membuat sarapan pagi.


"Mba Tami? Ibu mana?" tanyanya yang seketika membuat Tami kaget.


"Kiara, Tante Kinan sudah pergi dengan tenang." Mba Tami yang memang sangat baik pada Kiara mengusap lembut pipi Kiara untuk menghapus air matanya.


"Ibu." Kiara terduduk lemas di bawah lanta, dan sekali lagi dia menangis. "Kenapa ibu harus pergi, Mba? Aku mau bertemu ibuku."


"Ara, ibu kamu sudah bahagia dan tenang di sana. Ibu kamu sudah tidak menderita karena sakit yang dia rasakan. Aku ingat, ibu kamu pernah mengatakan dia ingin sekali sembuh dari sakitnya agar bisa mendampingimu terus sampai nanti kamu memiliki seseorang yang bisa menjagamu. Tante Kinan sangat baik dan dia tidak pernah ingin melihat kamu sedih.


"Kalau begitu, kenapa Ibu harus pergi, aku juga ingin didampingi oleh ibu terus." Kiara terdiam sejenak, lalu, pandangan mata Kiara seperti mencari sesuatu.


Kiara bangkit dan menuju kamar tidur ibu Kinan, Mba Tami yang melihat ada gelagat aneh dari Kiara segera menyusul gadis itu.


Tidak lama terdengar suara teriakan Mba Tami. Arthur yang baru masuk ke ruang tamu karena pintu tidak ditutup segera berlari.


"Kiara, lepaskan!"


"Aku mau pergi menyusul ibuku, Mba!"


Arthur melihat Kiara yang sedang memegang cutter ingin melukai tangannya, tapi oleh mba Tami ditahan, dan akhirnya terjadi usaha perebutan cutter itu.


"Kiara, apa yang kamu lakukan?" Arthur segera masuk dan mencoba mengambilnya, tapi malah tangannya yang tergores cutter itu.


"Auw!" Seketika terlihat darah segar keluar dari lengan tangan Arthur


"Pergi Arthur! Jangan menghalangiku!"


Arthur tidak memperdulikan luka pada tangannya, dia tidak ingin istrinya itu sampai terluka.


"Jangan bodoh, Kiara!" Arthur dengan cepat bisa menyahut cutter itu dan membuangnya jauh.


Kiara menangis histeris. "Aku mau pergi menemui ibu! Aku tidak mau hidup sendirian di dunia ini!"


Arthur dengan cepat mendekap tubuh Kiara dengan erat. "Kamu tidak sendiri, Kiara, ada aku di sini. Aku suamimu dan akan menjagamu sekarang. Aku mohon jangan seperti ini, Kiara." Arthur tidak menyangka jika kepergian ibu Kinan sangat berdampak buruk pada gadis itu.


Mba Tami yang melihatnya sampai meneteskan air matanya.


Kiara dibiarkan Arthur menangis dalam dekapannya. Mba Tami yang melihatnya pun mengusap perlahan punggung Kiara.


"Kiara, kamu harus tenang. Semua yang terjadi ini adalah takdir yang harus kita jalani sebagai manusia. Ibumu pasti akan sedih melihatmu seperti ini. Hal seperti ini bukan yang ibumu inginkan." Kiara perlahan memelankan tangisannya setelah mendengar apa yang mba Tami katakan.


Mba Tami membawa Kiara ke dalam kamar dan mencoba menenangkan gadis itu. Kiara akhirnya bisa tenang dan meminta untuk dibiarkan sendiri di kamarnya.


Mba Tami memberi waktu pada Kiara dengan janji, jika Kiara tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dia lakukan tadi. Kiara mengangguk dan dia bilang tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.


"Mas Arthur, ini kotak P3Knya."


"Terima kasih. Tami, apa Kiara sudah lebih tenang?"


"Dia sudah lebih baik dan dia sudah berjanji tidak akan memikirkan untuk melakukan hal bodoh seperti tadi."


"Auw, sakit!" Arthur mencoba mengobati luka di tangannya.


"Biar aku bantu mengoleskan obat dan menutupnya dengan perban." Tami mengambil obat dari tangan Arthur.


"Aku bisa sendiri, Tam."


"Tidak apa-apa, lukamu harus segera diobati, atau nanti akan bisa parah."


Tami dengan hati-hati dan telaten membalut luka pada tangan Arthur.


"Tami, bagaimana jika Kiara dalam beberapa hari ini aku bawa tinggal denganku ke apartemenku karena pasti dia tidak mau kalau aku ajak ke rumah mendiang mamaku sebab di sana kadang Mega tiba-tiba datang."


"Hah? Tinggal di apartemenmu? Sebenarnya juga tidak masalah, hanya saja apa Kiara mau meninggalkan rumahnya ini?"


"Jika di tempatku, perlahan dia tidak akan terlalu teringat dengan ibunya dan semua kenangan di sini."


"Aku tidak masalah jika kamu ingin membawanya, bukankah Kiara itu sudah menjadi istrimu dan memang sudah seharusnya begitu."


"Kalau begitu aku akan menunggu saja dia lebih tenang, dan lalu aku akan mengajaknya bicara tentang hal ini."


"Aku tidak mau ke mana-mana, Arthur. Aku hanya mau di sini karena ini adalah rumahku."