Be Mine

Be Mine
Acara Amal part 1



Kiara berbalik dan menatap lekat pada mata suaminya, tangannya pun mengusap lembut wajah Arthur yang sedang tersenyum padanya.


"Ada apa? Apa ada yang mau kamu katakan padaku?" Pria yang berbaring menyamping menghadap Kiara itu menyematkan kecupan kecil pada hidung mancung istrinya.


"Mas, mama Alexa pernah menemuiku dan mengatakan jika dia tidak suka aku mendekatimu."


"Karena itu kamu kapan hari bertanya apa aku akan meninggalkmu jika orang yang aku sayangi tidak suka padamu?" Kiara mengangguk. "Aku sudah menduga jika mamaku tidak akan menyukai kamu karena dia selalu melihat tingkat status seseorang."


"Mama kamu pasti sangat kecewa jika nanti mengetahui aku adalah istri kamu, Mas."


Arthur memeluk erat Kiara dari belakang. "Dia pasti kecewa, tapi dia tetap harus menerima kamu menjadi menantunya, dan aku yakin seiring berjalannya waktu dia pasti akan bisa menerimanya, Ara."


"Aku tidak mau jauh darimu, Mas. Aku sangat mencintaimu."


"Begitupun aku, Ara. Sekarang, sebaiknya kita tidur saja karena aku sangat lelah." Arthur mendusel pada ceruk leher istrinya dan menghirup aroma tubuh Kiara yang sangat dia sukai.


Pagi itu berjalan seperti biasanya. Arthur pergi ke kantornya dan Kiara yang memang sudah lulus sekolah memilih di apartemen dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


"Apartemen ini besar sekali dan memang pasti sangat lelah jika setiap hari membersihkannya, tapi kalau memakai jasa pembersih, lalu tugas aku apa?" eluh Kiara.


Di mulai membersihkan kamarnya dan beberapa bagian ruangan di sana. Tidak lama ponselnya berdering dan dia melihat nama mba Tami di sana. Mereka melakukan video call.


"Halo, Mba Tami!" serunya senang.


"Halo, Ara, kabar kamu bagaimana?"


"Aku baik, Mba. Mba Tami kapan pulang? Aku sudah kangen."


"Tiga hari lagi aku pulang dan akan mengadakan pesta pernikahan di sana."


"Wow! Akhirnya mba Tami dan mas Banni menikah juga."


"Iya, Kiara, aku senang akhirnya aku memiliki keluarga kecilku sendiri. Oh ya! Bagaimana dengan kabar kamu dan suami? Apa aku akan mendapat berita bahagia?"


"Aku dan mas Arthur baik, bahkan tiap hari aku semakin mencintainya, Mba." Kiara terlihat malu di di telepon.


"Aku senang kalian saling mencintai dan sebentar lagi pasti aku akan punya keponakan."


Kiara tertawa dengan senangnya. "Belum, Mba. Aku belum hamil, tapi aku dan mas Arthur ingin sekali memiliki seorang anak."


"Bersabar saja, mungkin memang belum diberi agar kalian benar-benar lebih paham satu sama lain dulu."


"Iya, walaupun begitu kami di sini sangat senang bisa merasakan apa itu saling mencintai. Mas Arthur juga sangat menjagaku dan aku tau dia juga sangat mencintaiku."


"Kalian berdua jangan lupa datang ke acara pesta pernikahanku, nanti kamu kirim alamat apartemenmu dan aku akan mengirim kartu undangannya."


"Iya, Mba."


Mereka berdua melanjutkan pembicaraan di telepon. Kiara juga menceritakan tentang Elang yang akan bertunangan dengan Mega. Mba Tami benar-benar kaget mendengar hal itu, tapi dia sama seperti Kiara berharap Elang dan Mega bisa cocok.


***


Malam itu Arthur sudah bersiap akan pergi ke acara amal di mana mamanya sudah menunggu dirinya.


"Kenapa kamu terlihat tampan sekali malam ini, Mas?"


Arthur yang sedang memakai suitnya tampak berbalik badan melihat Kiara yang tengah duduk di atas sofa melihatinya.


"Jadi, aku tiap harinya jelek? Hanya malam ini saja aku terlihat tampan."


Arthur menunduk dan mendekatkan wajahnya yang sekarang sejajar dengan wajah istrinya. "Mau ikut? Biar nanti tidak ada yang menaksir aku."


"Hm ... andai aku bisa melakukannya, tapi aku tidak bisa karena kalau aku datang di sana dan bergandengan tangan sama kamu, bisa-bisa nanti heboh, apa lagi ada mama kamu."


"Perlahan aku akan mencoba lebih dekat dengan mama Alexa dan nanti aku akan pastikan mamaku bisa menerima kamu, sayang." Arthur mengusap lembut pipi istrinya.


Kiara berdiri dan dengan erat dia memeluk suaminya. "Aku berharap sekali mama Alexa mau menerimaku, walupun hal itu pasti akan sangat sulit, bahkan tidak mungkin."


"Kalaupun tidak bisa, aku juga tidak akan mempermasalahkannya, kita akan tetap bisa hidup bersama sebagai suami istri."


Kiara mengangguk, dan dia pun melepaskan pelukannya karena suaminya harus segera pergi ke acara itu.


"Kalau sudah mengantuk kamu tidur dulu saja. Nanti aku pastikan akan pulang tidak terlalu malam. Jangan lupa aktifkan semua alarmnya."


"Iya, Sayang."


Arthur mengecup beberapa menit bibir Kiara dan dia akhirnya pergi dari sana.


Entah kenapa hati Kiara hari ini merasa sedang tidak baik.


Arthur tiba di acara itu. Di sana tampak banyak sekali orang-orang yang datang, terlihat dari beberapa deret mobil mewah berjejer rapi di sana.


"Selamat malam, Sayang," sapa seorang wanita dengan gaun hitam dan dia tampak sangat elegant. Wanita cantik yang tak lain adalah mama Alexa, memberikan kecupan kecil pada pipi putra sambungnya.


"Malam, Ma."


"Selamat malam, Kak."


"Mega, kamu datang juga ke sini?"


"Iya karena Mama ingin agar aku bisa berkumpul dan berkenalan dengan teman-teman Mama."


"Mega sengaja mama ajak ke sini agar dapat ikut dalam acara ini. Bagaimanapun anak-anakku harus aku kenalkan pada orang-orang yang tidak bisa dibilang orang biasa."


Maksud mamanya Mega, dia ingin anak-anaknya bisa berkumpul dengan para donatur kaya raya di sana karena keluarganya juga memiliki status sosial yang sama. Bagi Mama Alexa ini hanya ajang saling menunjukan berapa banyak kekayaan yang mereka punyai.


"Ma, aku mau mengambil minuman dulu di sana."


"Iya, Sayang, acaranya pun belum dimulai." Tangan wanita cantik nan glamour itu menepuk lengan tangan Arthur.


Arthur berjalan. menuju tempat di mana dia bisa mendapatkan minumannya.


"Hai, Arthur, mana Kiara? Kenapa tidak kamu bawa dia ke sini?"


Arthur melihat di depannya berdiri Elang dengan wajah seolah mengolok Arthur.


"Kiara ada di rumah saudaranya. Memangnya kenapa kalau aku tidak membawanya ke sini?"


"Tidak apa-apa, aku tau kenapa kamu tidak mengajaknya ke sini, itu karena kamu pasti malu membawanya ke sini karena dia hanya gadis biasa."


"Kamu mau apa sebenarnya?" Arthur melihat dengan tatapan memicing.


"Arthur, aku tau kamu mendekati Kiara karena dia gadis lugu nan polos yang bisa kamu bodohi bukan? Setelah kamu bodohi dia, kamu pasti bakal meninggalkannya begitu saja."


"Kamu salah, Elang. Aku sangat mencintai Kiara dan begitupun sebaliknya, dia sangat mencintaiku. Apa kamu tau itu?"


"Jangan bohong, Arthur. Kiara di hatinya itu yang ada hanya namaku. Nama Elang." Elang memberikan senyum miringnya.