
"Dean, kamu main di kolam ikan sebentar ya karena Mami dan Pak Arthur mau berbicara tentang pekerjaan."
"Okay, Mami!" Dean meletakkan tas sekolahnya dan berjalan pergi dari sana. Manda melihat pada putranya yang berlari kecil menuju kolam ikan.
"Pak, Kita bicara di sini saja, ya?"
"Iya Manda. Manda, apa bisa kamu melepaskan kaca mata kamu?"
Arthur penasaran dengan memar yang terlihat disamping mata Manda, dan itu terlihat walaupun ditutupi dengan kaca mata.
Manda melepaskan dan Arthur terkejut melihat keadaan mata Manda. "Bisa kamu jelaskan kenapa dengan mata kamu?"
"Saya bertemu dengan pamannya Dean, Pak, dan dia mendorongku sampai seperti ini."
"Apa?" Arthur terkejut mendengar apa yang Manda katakan.
"Dia mengancam akan menyakiti saya dan bahkan Dean, jika apa yang ayahnya Dean berikan tidak jatuh padanya. Dia bilang akan merawat Dean dengan baik jika Dean diberikan padanya, tapi saya tau dia akan merawat Dean karena harta warisan itu."
"Keterlaluan!" Tangan Arthur mengepal erat dengan marah.
"Pak, saya sudah katakan jika tidak menginginkan harta itu dan dia boleh mengurusnya, tapi biarkan Dean tetap denganku." Manda meneteskan air matanya.
Arthur yang iba melihat keadaan Manda memberikan tisu pada Manda.
"Aduh!"
"Pelan-pelan Manda." Arthur membantu mengusapnya. Arthur juga mencoba memeriksa luka Manda. "Manda, apa kamu sudah memeriksakan luka kamu ini?"
"Belum, Pak, saya cuma membelikan salep di apotik."
"Sebaiknya kamu coba periksakan luka kamu ini. Oh ya! Apa Dean bertanya tentang luka itu?"
"Iya, Pak, tapi saya bilang kalau mata saya terbentur saat terpeleset, dan Dean ternyata percaya. Saya sekarang harus memikirkan agar Dean tidak sampai bertemu dan pamannya bisa menceritakan semuanya pada Dean. Saya tidak mau sampai hal itu terjadi."
Arthur tampak terdiam sejenak. "Nanti aku akan memikirkan cara agar bisa membantumu. Sekarang kita membahas dulu tentang pekerjaan."
"Iya, Pak."
"Manda, apa perlu kamu dijaga oleh seorang pengawal?"
"Tidak perlu, Pak. Pamannya Dean mungkin tidak akan mengganggu untuk beberapa saat ini karena aku sudah mengatakan akan membantunya mendapatkan warisan dari mendiang papi Dean, tapi memerlukan waktu untuk mengurus semuanya."
"Ya sudah kalau begitu. Dean, kamu sudah tau nomor ponsel Om Arthur, kan? Jangan lupa menghubungi Om kalau ada hal yang terjadi."
"Iya, Om, aku sudah punya bahkan aku sudah menghafalkannya."
"Anak pintar."
Arthur ini mengikuti mobil Manda sampai rumah kemudian dia izin pulang ke apartemennya.
Arthur segera mandi dan dia bersiap-siap akan datang ke pernikahan Mba Tami. "Mas, kenapa memakai bajunya formal sekali?" Kiara melihat penampilan suaminya dari atas sampai basah.
"Memangnya ada yang salah? Aku biasa datang ke acara pernikahan atau pesta lainnya selalu begini."
"Tapi ini bukan acara pernikahan di dalam gedung mewah atau hotel berbintang. Ini di dalam perkampungan dan acaranya sangat sederhana."
"Penampilanku terlalu mencolok ya?"
Kiara mengangguk perlahan. "Nanti di sana kamu pasti membuat kehebohan, apa lagi datang denganku."
"Lantas, aku pakai apa?"
"Kemeja putih dan celana panjang saja. Sepatunya yang santai saja."
"Okay, Sayang!"
Arthur merubah penampilannya. Pun Kiara juga membantunya. "Mas, kancing kemejanya jangan dibuka terlalu banyak! Kamu mau menunjukkan tubuh kamu pada para wanita di sana agar berteriak histeris melihat kamu." Kiara mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Hm! Kamu kenapa sekarang sangat sensitif dan posesif sekali?"
"Bukannya sensitif dan posesif, tapi aku cemburu, Mas."
"Ya sudah terserah kamu saja." Arthur tidak mau terlalu berdebat dengan istrinya karena jujur saja dia masih kepikiran dengan masalah Manda, apa lagi ini juga menyangkut dengan Dean.