
Riko tiba dirumah orang tua Dini.
"Assalamu'alaikum... " ucap Dini.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab kedua orang tuanya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Mama Dini.
"Sudah Ma" jawab Dini.
"Pulang sama siapa?" sambut Papa Dini.
"Ketepatan tadi saat kami ngumpul bersama Reni, Bela dan Ela, calon suaminya Reni Mas Bimo datang bareng teman - temannya Pa. Dan diantara mereka ada Mas Riko" jawab Dini.
Wajah Papa Dini tampak berubah.
"Lho sekarang mana Nak Rikonya?" tanya Mama Dini.
"Masih diluar ambil barang - barang aku di bagasi mobil.
Tak lama Riko masuk.
"Assalamu'alaikum Pak.. Bu.. " ucap Riko ketika masuk ke dalam rumah Dini dengan membawa beberapa bungkusan belanjaan Dini tadi.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Mama Dini.
Papa Dini hanya menjawab di dalam hati.
"Ma.. Papa mau ke kamar dulu, mau istirahat" ujar Papa Dini.
Papa Dini langsung berdiri dan berjalan ke kamar meninggalkan mereka bertiga. Wajah Dini tampak sedih karena dia tau Papa nya sengaja tidak mau bertemu dengan Riko.
Tapi Dini lebih bersyukur sekarang, walau Papanya belum bisa menerima Riko dengan baik. Papanya tidak pernah lagi mengusir Riko setiap kali Riko datang ke rumahnya.
"Nih Din barang - barang kamu" ujar Riko menyerahkan bungkusan belanjaan Dini.
"Terimakasih Mas" jawab Dini.
Dini mengambil bungkusannya dan membawanya ke kamar.
"Bu ini ada buah - buahan untuk Bapak dan Ibu" ujar Riko.
"Makasih Nak Riko, silahkan duduk. Tunggu sebentar ya Ibu mau buatkan minum" balas Mama Dini.
"Gak perlu repot bu, sudah malam juga. Saya mau pulang" jawab Riko.
"Ah gak apa - apa, santai aja dulu. Ibu buat minum sebentar" sambung Mama Dini.
Disaat bersamaan Dini sudah keluar lagi dari kamarnya sedangkan Mama Dini berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minum.
"Kapan kamu balik lagi ke Jakarta?" tanya Riko.
"Hari kamis sepulang kerja aku berangkat dari Bandung Mas. Jumat aku sudah ambil cuti, walau kita berangkat hati Jumat siang. Biar waktunya gak buru - buru" jawab Dini.
"Baguslah kalau bisa begitu. Perusahaan kamu gak punya cabang Din di Jakarta?" tanya Riko.
"Belum ada" jawab Dini.
"Kamu resign aja di sana dan pindah kerja di perusahaanku. Jadi kamu bisa balik lagi ke sini tidak capek bulak balik Bandung - Jakarta. Kamu juga bisa berkumpul kembali dengan keluarga kamu" ungkap Riko.
Sudah lama hal ini ingin dia sampaikan kepada Dini tapi Riko sungkan. Riko takut Papa Dini berpikiran buruk kepadanya. Tapi karena Riko juga tidak tahan berjauhan dengan calon bidadari surganya akhirnya dia memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Boleh aku pikirkan dulu Mas?" tanya Dini.
"YA tentu saja boleh. Aku gak memaksa kok, senyamannya kamu saja" jawab Riko.
"Aku merasa sungkan dengan pada karyawan di perusahaan Mas. Bisa masuk karena KKN" ungkap Dini.
"Tidak akan ada yang berkata seperti itu. Kamu kan sebelumnya bekerja, punya pengalaman kerja dan terlebih lagi kamu adalah calon istri aku. Tidak akan ada yang berani mengganggu kamu" ujar Riko.
"Aku pikirkan dulu Mas" sambut Dini.
Tak lama Mamanya Dini datang membawakan minuman untuk Riko.
"Silahkan diminum Nak Riko" ujar Mama Dini.
"Terimakasih Bu" balas Riko.
Mamanya Dini duduk disamping Dini.
"Minggu depan katanya kalian mau ke Labuhan Bajo ya sama Anita sekeluarga?" tanya Mama Dini.
"Iya Bu, pernikahan Reni dengan Bimo diadakan di sana. Ibu dan Bapak mau ikut? Biar saya urus semuanya?" ajak Riko.
"Ah tidak.. tidak.. Kalian saja. Ibu dan Bapak tinggal di rumah saja" tolak Mamanya Dini.
"Gak apa - apa Bu, sekalian liburan biar Bapak dan Ibu gak bosan dan nikmati masa pensiun bersama anak dan cucu" sambung Riko.
"Gak apa, lain waktu saja" tolak Mama Dini dengan halus.
"Sudah malam Bu, Saya pamit pulang ya.." ujar Riko.
"Iya Nak Riko, hati - hati di jalan ya. Din antar Nak Riko sampai depan" balas Mama Dini.
"Iya Ma" jawab Dini
Dini mengantar Riko sampai ke depan rumahnya.
"Besok pulang naik apa ke Bandung? Mas antar?" tanya Riko.
"Gak usah Mas aku udah pesan travel" jawab Dini.
"Ya tinggal batalkan, besok Mas jemput" ujar Riko.
"Gak apa - apa Mas, aku pulang naik travel aja" balas Dini.
"Ya sudah kalau begitu hati - hati ya. Ingat tawaran Mas tadi, tolong kamu pertimbangkan" pinta Riko.
"Iya Mas akan aku pikirkan" jawab Dini.
"Mas pulang ya. Assalamu'alaikum" ucap Riko pamit.
"Hati - hati ya Mas. Wa'alaikumsalam" balas Dini.
Riko menjalankan mobilnya dan kembali pulang ke apartemennya.
*******
Seminggu kemudian..
Rombongan Reni dan keluarga besarnya sudah berangkat tadi pagi ke Labuhan Bajo. Dan mereka juga sampai dengan selamat.
Kini tinggal rombongan para sahabat. Riko janjian dengan Galuh suami Anita untuk menjemput mereka di rumah orang tua Dini.
Riko baru saja sampai di rumah orang tua Dini. Galuh beserta anak dan istrinya juga Dini sudah menunggu. Mereka langsung memasukkan barang - barang mereka ke dalam mobil begitu Riko sampai.
Setelah semua selesai mereka berpamitan dengan kedua orang tua Dini.
"Pa, Ma kami pergi dulu ya" ucap Dini dan Anita bergantian.
"Iya, hati - hati ya di sana" sambut Mama Dini.
Anita dan Dini mencium tangan kedua orang tua mereka. Setelah itu di susul oleh Yoga dan Galuh. Dan terakhir Riko.
"Pak, Bu kami pamit ya" Riko mencium tangan Mamanya Dini. Setelah itu baru Papanya. Tapi sambutan Papa Dini masih tetap dingin.
"Hemm... " sahut Papa Dini.
Riko tersenyum simpul. Walau belum banyak perkembangan tapi Riko semakin senang karena secara perlahan - lahan dia sudah mulai bisa diterima di dalam keluarga Dini.
Riko dan yang lain sudah masuk ke dalam mobil. Mereka mulai bergerak menuju Bandara. Satu jam kemudian mereka ou sampai di Bandara.
Rombongan Aril, Romi, Bela dan Ela sudah sampai lebih dulu. Setelah itu menyusul keluarga kecil Bagus, Rizal sahabat Bela dan Ela dan Gery temannya Reni. Semua berkumpul di ruang tunggu menunggu waktu keberangkatan.
"Asiik banget ya bisa pergi ramai - ramai begini" ujar Anita.
"Iya ternyata pernikahan Reni dan Bimo bawa berkah untuk kita semua. Pas banget semua punya waktu dan ringan langkah untuk ikut ke sana" sambung Ayu.
"Semoga pernikahan mereka sakinah, mawaddah, warrahmah.. karena banyak membawa kebahagiaan bagi yang lain" ujar Galuh.
"Aamiin... " sambut yang lain bersamaan.
"Btw kita mau kasih apa nih buat si Setan Kecil?" tanya Riko.
"Mas belum beli kado untuk mereka?" tanya Dini.
"Kalian sudah?" tanya Romi.
"Sudah donk, minggu lalu waktu pergi bareng kami beli" jawab Ela.
"Kalian beliin kado apa?" tanya Ayu penasaran
Bela langsung berbisik kepada Ayu.
"Hahaha.. iya bagus itu. Kereeeeen" puji Ayu.
"Aapaan sih?" tanya Aril.
"Mas Aril mau tau aja urusan wanita hahaha" jawab Ayu.
.
.
BERSAMBUNG