
Riko tiba dikantor pagi hari. Hari ini dia datang lebih cepat karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah dua minggu dia tinggalkan.
Sekretarisnya menyambutnya dengan sangat riang gembira karena mendapatkan oleh - oleh dari Riko saat dia baru tiba tadi.
"Apa ada masalah selama saya cuti?" tanya Riko.
"Tidak ada Pak, tapi ada sesuatu yang terjadi di sini selama Bapak tidak masuk" lapor sang sekretaris.
"Apa itu?" tanya Riko.
"Pak Aril setiap hari datang dan merengek minta masuk ke ruangan Bapak, padahal dia tau Bapak cuti dua minggu" jawab sangat sekretaris.
"Setiap hari?" tanya Riko tak percaya.
"Iya Pak setiap hari. Walau hanya tiga puluh menit dia di sini tapi aktivitas itu dilakukannya setiap hari" ungkap wanita yang bernama Aira.
"Baiklah Aira tidak apa. Dia sahabat saya, dia tidak akan melakukan apapun di sini. Aril memang saya titipin kantor ini selama saya pergi tapi saya tidak menyangka dia datang ke sini setiap hari" ujar Riko berusaha menutupi tingkah aneh Aril di kantornya.
Bagaimanapun Aril itu adalah sahabatnya, dia harus menjaga nama baik Aril dihadapan karyawan perusahaannya
"Baik Pak, pagi ini Pak Aril juga sudah tiba di kantor ini" lapor Aira.
"Apa? Aril sudah ada di ruanganku?" tanya Riko terkejut.
"Iya Pak" jawab Aira singkat.
Gleeeg.... Riko menelan salivanya.
Mati aku, dia lebih posesif dari pada mantan - mantanku yang dulu. Duh apa aku harus lari saja ya... Tapi gak bisa, aku sudah tidak bekerja selama dua minggu. Banyak sekali pekerjaan yang tertunda dan harus aku selesaikan. Batin Riko.
Riko berpikir beberapa saat tapi akhirnya dia berjalan menuju ruangannya.
"Ra tolong buatkan minum untukku dan Aril" perintah Riko.
"Baik Pak" sahut Aira.
Riko membuka pintu dan masuk ke ruangan kerjanya. Sontak Aril berdiri dan berjalan menyambut kedatangan Riko..
"Ko... aku kangen kamu" ucap Aril sambil hendak memeluk Riko.
"Stop... stop Ril... kamu lupa syarat yang aku buat? Jangan ada kontak fisik, aku geli. Ikuti atau kamu tidak boleh datang ke sini lagi" perintah Riko.
Dengan wajah kecewa akhirnya Aril pasrah menerima permintaan Riko.
"Baiklah.. maaf kalau aku kelupaan. Tapi percayalah Ko aku bingung dengan sikapku yang seperti ini. Jujur aku tidak bisa menahannya" ungkap Aril sedih.
"Sudah.. sudah.. yuk duduk" ajak Riko.
Aril kembali duduk di sofa sedangkan Riko duduk di kursi kerjanya sambil menyiapkan semua perlatan yang dia butuhkan untuk memulai pekerjaannya..
"Kamu mau langsung kerja?" tanya Aril.
"Yup, kerjaanku banyak sekali. Sudah dua minggu aku cuti, banyak yang harus aku selesaikan" jawab Riko.
"Ah kamu gak asik" protes Aril.
"Kamu kan hanya ingin bertemu denganku. Lakukan saja itu dan jangan ganggu aku bekerja. Cukup kamu memandangku dari jauh" perintah Riko.
"Tapi kan aku pengen ngobrol dengan kamu Kooooo... " rengek Aril persis anak kecil ngambek.
Sebenarnya Riko udah geli banget sejak tadi tapi dia berusaha menahannya dan tidak memperdulikan Aril. Riko sibuk dengan pekerjaannya yang tertunda.
Tak lama kemudian Aira masuk dengan membawa dua cangkir teh hangat untuk Aril dan Riko. Aira menyuguhkan nya untuk Riko kemudian Aril.
"Silahkan di minum Pak" ucap Aira kepada Aril
"Terimakasih Ra" jawab Aril.
Aira menghampiri meja kerja Riko.
"Baik, tolong kamu antar semua berkas yang dibutuhkan untuk meeting besok" perintah Riko.
"Baik Pak, sebentar lagi akan saya siapkan. Saya kembali ke meja saya Pak" jawab Aira.
"Oke, saya tunggu ya" sambut Riko.
Riko membuka berkas - berkas yang ada di meja kerjanya.
"Jadi besok kamu mau meeting?" tanya Aril.
"Iya" jawab Riko masih sambil memeriksa pekerjaannya.
"Jam berapa?" tanga Aril.
"Mmm... jam delapan" jawab Riko sambil melihat agenda kerjanya.
"Aku ikut meeting bareng kamu ya" pinta Aril.
Seketika Riko menghentikan aktivitasnya setelah mendengar perkataan Aril.
"Ngapain kamu ikut meeting perusahaan aku?" tanya Riko.
Aril bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kerja Riko.
"Ya untuk temani kamu" jawab Aril.
"Aku gak butuh bantuan kamu Ril, ada staff aku yang akan menemaniku saat meeting" tolak Riko.
"Tapi aku ingin memberi semangat pada kamu" ujar Aril tetap berusaha.
"Aku gak butuh.. Saat ini penyemangat aku hanya Dini" tolak Riko lagi.
"Ish kamu tega banget ngomong gitu padaku" balas Aril dengan wajah sendu.
"Riiil... please deh.. separah itukah ngidam kamu sampai kamu gak bisa melawannya? Aku geli banget tau Ril lihat kami seperti ini. Kata orang Medan, ngeri- ngeri sedap" ungkap Riko.
"Kalau aku bisa menahannya aku tidak akan datang ke sini Ko. Kamu sudah kenal aku kan Ko belasan tahun. Harga diriku tinggi Ko. Dulu aja saat kita masih playboy pantang bagiku untuk mengejar para cewek. Mereka sendiri yang datang padaku. Hanya Bela satu - satunya wanita dalam kamus cintaku yang aku kejar sampai ke ujung dunia. Jadi apa secara logika, aku juga akan mengejar - ngejar kamu?" tanya Aril dengan wajah sendu.
Iya juga sih, saat ini Aril memang berubah menjadi pria yang tidak aku kenal sama sekali. Bahkan aku jadi sering merinding di dekat Aril. Batin Riko.
"Ya secara logika sih nggak" jawab Riko.
"Nah itu, anakku yang menginginkan ini. Aku tidak bisa melawan keinginan ini untuk bisa bertemu kamu dan menatap kamu" ungkap Aril.
"Tapi kita harus cari cara Ril untuk mengatasi ini semua. Kamu gak takut ada gosip menyebar yang mengatakan kalau kamu sudah berubah haluan jadi pecinta sesama. Aku gak mau dikatakan sebagai kekasih gelap kamu Riil" tegas Riko.
"Cara yang seperti apa Ko? Aku tidak tau cara untuk mengatasi semua ini. Yang aku tau aku harus bertemu kamu. Setelah melihat kamu hatiku rasanya tenang. Apalagi kalau bisa menyentuh kamu seperti ini" Tiba - tiba Aril sudah berhasil menarik tangan Riko dan menggenggamnya erat.
Tiba - tiba pintu terbuka dan Aira masuk. Dia melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan Riko.
"Maa.. maaf Pak kalau saya mengganggu" ucap Aira serba salah.
Aira melihat tatapan Aril yang penuh kerinduan dan apa yang mereka lakukan saat ini sangat mesra. Persis seperti sepasang kekasih.
Jantung Aira berdetak sangat kencang, dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini. Aira segera berbalik badan dan segera menutup pintu ruang kerja Riko.
"Siiiiiiiit.... lihat Ril, Aira salah sangka dengan apa yang dia lihat. Nih gara - gara kamu berbuat seperti ini" Riko langsung melepaskan tangan Aril dengan spontan. Dan karena dia merasa tidak enak kepada Aira tanpa sadar Riko dengan keras menolak tangan Aril.
Sontak wajah Aril jadi sedih.. matanya berkaca - kaca dan dia seperti ingin menangis.
Duh mati aku kalau sampai Aril menangis di sini. Ya Tuhaaan... sembuhkan penyakit Aril. Doa Riko dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG