Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Limapuluh Tujuh



Mereka kembali ke dalam mobil, Ela dan Romi penasaran mengapa Bela dan Aril bisa datang bersama - sama. Ditambah lagi wajah sedih Bela dan sangat terlihat Bela seperti baru saja menangis.


Romi berbisik kepada Aril.


"Bela kenapa Bro? Bukan lo perkosa kan?" tanya Romi khawatir. Walau Romi sangat yakin Aril tidak akan melakukannya.


"Kalau iya kenapa?" tanya Aril balik. Saat ini hatinya sedang bahagia sekalian aja dia isengin semuanya.


"Gila lo ya... gak sabaran banget. Kena gorok Bimo baru nyahok lo" umpat Romi kesal tapi masih dengan suara pelan.


"Udah kamu tenang aja di boncengan" ujar Aril.


Aril menjalankan mobil mereka dan kembali ke Hotel. Sesampainya di Hotel mereka berpisah dan masuk ke dalam kamar masing - masing.


Bela dan Ela sudah masuk ke kamar mereka. Ela yang sedari tadi sudah sangat penasaran dan ingin bertanya kepada Bela.


"Bel kamu kenapa?" tanya Ela penasaran.


Bela kembali menangis, dia duduk di pinggir tempat tidur.


"Tadi aku dengar Mas Aril dan Mas Romi sedang bicara tentang sebuah lamaran, pasti Mas Aril sedang merencanakan untuk melamar Mbak Sintia. Dia kan sedang berada di Bali juga" ungkap Bela.


Ela tersenyum dalam hati, sebenarnya dia tak tega berbuat seperti ini pada sahabatnya tapi demi sebuah rencana.


"Terus apa yang kamu lakukan pada Mas Aril, aku lihat tadi kalian kembali bersama?" selidik Ela.


Bela tampak semakin resah sambil memainkan tangannya.


"Aku takut tidak punya kesempatan lagi. Aku.. aku mengungkapkan perasaanku pada Mas Aril El. Aku gak mau kehilangan Mas Aril, aku mencintainya" ucap Bela sambil menangis.


"Terus Mas Aril jawab apa Bel?" tanya Ela lagi.


"Dia menyuruh aku tenang dan meminta waktu untuk berpikir El. Aku rasa Mas Aril benar - benar sudah melupakanku" jawab Bela sambil terisak.


Ela membelai lembut punggung Bela dan mencoba menenangkannya.


"Kamu tenang saja Bel, yang penting kamu sudah berusaha mengungkapkan perasaan kamu. Tinggal doa aja semoga Mas Aril membalas cinta kamu. Sekarang ayo kita bersiap kamu dandan yang cantik agar Mas Aril melirik kamu bukan Mbak Sintia. Aku yakin kamu bisa lebih cantik dari Mbak Sintia malam ini Bel" ujar Ela menyemangati.


Bela menghapus air matanya dan segera bergegas ke kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian mereka sudah selesai dan sudah keluar dari kamar. Bela dan Ela berdandan yang cantik malam ini.


Di depan kamar mereka, Romi sudah menunggu. Bela tampak kecewa karena tidak melihat keberadaan Aril.


"Mas Aril mana Mas?" tanya Bela pada Romi.


"Aril? Oh dia udah janjian duluan sama Sintia di bawah" jawab Romi berusaha senormal mungkin.


Bela tampak murung dan sangat kecewa.


"Kalian sudah siap?" tanya Romi.


"Sudah Mas" jawab Ela.


"Yuk kita turun, kita udah telat nih. Gak enak sama Sintia dan Aril. Mereka sudah lama menunggu" ajak Romi.


"Ayuk Mas.. " Ela menyenggol lengan Bela.


Mereka bertiga jalan menuju lift dan turun ke lantai dasar. Kemudian mereka berjalan ke arah taman yang menghadap ke laut.


Dari kejauhan perasaan Bela sudah tidak menentu, apalagi Bela melihat taman dihias sangat cantik dan romantis malam ini. Dekorasinya seperti ada pesta taman.


Kata Mas Aril dia tidak sedang dalam rencana melamar Mbak Sintia buktinya apa semua ini? Batin Bela semakin sedih.


"El aku balik ke kamar aja ya, sepertinya aku tidak akan kuat jika melihat Mas Aril dan Mbak Sintia malam ini" bisik Bela kepada Ela.


"Tapikan bukan untukku. Aku gak kuat Eeeel" rengek Bela.


"Mas Aril itu kan Bos kamu, kamu harus mengabadikan moment ini dan harus sedia setiap saat karena kamu adalah sekretarisnya" ujar Ela.


Ela sudah bingung harus berkata apa agar Bela tetap mau ikut. Dengan sangar keberatan akhirnya Bela menguatkan hatinya untuk tetap ikut walau hatinya sudah sangat hancur.


Semakin dekat Bela semakin jelas melihat Aril sedang memainkan piano di tepi pantai. Dia memakai tuxedo dan terlihat sangat gagah dan tampan malam ini. Rasa Bela ingin sekali menangis melihat pria yang dia cintai akan melamar wanita lain di depan matanya.


Aril memainkan sebuah lagu barat berjudul Marry Me yang dibawakan oleh Jason Derule. Di hadapan Aril berdiri Sintia dengan memegang sebuket kembang sambil tersenyum manis.


Tes....


Tanpa bisa dicegah air mata Bela menetes.


Ya Allah kuatkan aku.. aku sadar mungkin inilah hukuman atas keangkuhanku dulu. Aku sudah pernah menolak lamaran pria itu, pria yang ternyata sudah memiliki hatiku sejak dulu. Hanya saja jodoh berkata lain. Kuatkan aku menerimanya ya Allah dan aku tulus mendoakan kebahagiannya. Mungkin cinta tak harus memiliki dan aku mungkin bukan yang terbaik untuknya. Semoga dia bahagia. Doa Bela tulus dalam hati.


Bela segera menghapus air mata di pipinya dan berusaha setegar mungkin berjalan sedikit di belakang dari yang lainnya.


Hingga Aril menghentikan permainan pianonya. Sintia menyerahkan buket bunga yang dia pegang kepada Aril. Aril tersenyum penuh kebahagiaan.


Bela diam - diam meraba dadanya untuk menenangkan hatinya. Dadanya bergemuruh dan berdetak kencang. Ingin sekali rasanya dia lari tapi semua sudah terlambat.


Harga dirinya melarang dan mencegahnya untuk berbuat seperti itu. Dia harus menjadi wanita yang tegar dan kuat malam ini.


Eeeh... ada yang aneh. Mengapa buket bunga yang dipegang Sintia berpindah kepada Aril. Dan Aril melangkah meninggalkan Sintia.


Aril berjalan dengan penuh keyakinan dan sangat gagah, maju ke depan. Tiba - tiba Romi dan Ela menyingkir perlahan. Kini hanya tinggal dia dan Aril yang berjalan berhadapan.


Bela jadi semakin salah tingkah dan bingung harus berbuat apa. Mengapa Aril menatapnya penuh arti dan tersenyum manis.


Bukannya Mas Aril mau melamar Mbak Sintia malam ini? Mengapa dia malah menatap aku seperti itu. Me.. mengapa dia malah berjalan kearahku? Batin Bela.


Hingga tinggal beberapa langkah lagi, Aril berhenti dan kemudian berlutu di hadapan Bela. Bela terdiam terpaku saat Aril menyanyikan sebait lagu yang tadi dia mainkan dengan piano.


I'll say will you marry me


I Swear that I will mean it


I'll say will you marry me Belaaaa...


ucap Aril sambil menyerahkan sebuket kembang yang sejak tadi dia pegang. Air mata Bela jatuh perlahan, sungguh dia tidak menyangka akan seperti ini.


Malam yang dia bayangkan akan menjadi malam kehancuran kisahnya dan Aril ternyata menjadi malam yang sangat indah dan sangat berharga.


Aril melamarnya lagi untuk kedua kalinya dan lamarannya kali ini sangat romantis.


Bela menutup wajahnya dan menangis tersedu.


"Bela... will you marry me?" tanya Aril lagi.


Bela tak mungkin membuat Aril bertekuk lutut dengan waktu yang lama. Dan tidak mungkin juga dia berlari dan memeluk Aril untuk menumpahkan rasa bahagianya.


Disini masih ada orang lain dan juga memang belum halal untuk mereka bermesra - mesraan. Bela segera menerima buket bunga yang Aril berikan.


"Yes I Will" jawab Bela akhirnya.


.


.


BERSAMBUNG