Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Lima



Sudah hampir dua minggu Dini dan Riko wisata religi. Kini saatnya mereka kembali ke kehidupan sebelumnya. Bekerja dan mencari rezeki halal untuk masa depan mereka.


Sesampainya di Indonesia mereka langsung pulang ke Apartemen Riko. Sebelum menikah Dini baru kesini dua kali bersama Ela untuk mengurus barang - barang yang ingin dia dekor di apartemen ini.


Bukan Dini yang memintanya melainkan Riko lah yang memaksa Dini untuk mengubah apartemennya. Sebelumnya memang apartemen ini sangat maskulin sekali.


Tak banyak yang Dini ubah hanya beberapa furnitur dan mengganti wallpaper di beberapa ruangan. Kini apartemen ini lebih berwarna dan sangat terasa ada sentuhan wanita didalamnya.


Riko membawa masuk ke kamar barang - barang mereka bawa dari perjalanan umroh. Dini sengaja membagi mana barang - barang mereka dan mana oleh - oleh yang akan mereka bagi untuk keluarga dan para sahabat.


"Besok kita akan bertemu di rumah Bimo untuk membicarakan keberangkatan kita ke Surabaya menghadiri pernikahan Romi dan Ela" ucap Riko.


Dini menatap wajah suaminya.


"Janji kamu tidak akan kesal lagi kepada Mas Aril?" tanya Dini.


"Kenapa aku harus kesal?" Riko balik bertanya.


"Yah mungkin karena perbuatan Mas Aril saat malam pertama kita" jawab Dini.


"Saat itu aku memang sangat kesal sekali padanya. Pasti dia sudah tau kalau kamu alergi durian makanya dia sengaja mengajak aku makan durian malam itu" ungkap Riko.


Dini berpikir sejenak dan mencoba mengingat - ingat sesuatu.


"Seperti Mas Aril memang tau Mas. Waktu itu Jeta kan datang kepadaku membawa puncake durian. Aku langsung pergi karena mual. Mas Aril bertanya padaku mengapa aku mual? Dia kira aku mabuk laut. Tapi aku jawab kalau aku mula karena bau durian" jawab Dini.


"Sudah aku duga, dasar usil suka sekali mengerjain orang. Makanya hidupnya ribet tanpa campur tangan orang lain" ujar Riko.


"Ribet gimana?" tanya Dini.


"Dia sendiri kan yang membuat dirinya ribet. Dia menuduh Bela jadi seorang pembantu sehingga dengan begitu dia sulit mendekati Bela bahkan lamarannya sempat ditolak Bela karena sikapnya yang selalu berlebihan. Dia juga gagal malam pertama selama satu bulan tanpa ada campur tangan orang lain melainkan Allah lah yang mengatur semuanya. Dia malah gak mau merasakan itu sendir sehingga mengajak aku pergi dan merusak malam pertama kita" jawab Riko.


"Kamu sudah gak marah lagi kan sama dia Mas?" hanya Dini lagi untuk meyakinkan.


Sungguh Dini tak ingin suaminya itu dendam kepada sahabatnya sendiri.


"Tidak sayang.. Aril usil dan iseng itu sudah biasa. Aku sudah sering menerima kelakuannya yang menjengkelkan seperti itu. Awalnya aku pasti kesal tapi bagaimanapun dia adalah sahabatku. Aku yakin dia tidak berniat jahat" ungkap Riko.


Dini bernafas lega sambil memegang wajah Riko dengan kedua tangannya.


"Syukur lah suamiku ini adalah seorang pria yang pemaaf. Uuuuh makin sayang deh sama kamu Mas" ujar Dini kemudian Dini reflek mencium bibir Riko.


Seketika mata Riko melotot karena terkejut mendapat perlakuan Dini yang seperti itu. Ini kali pertamanya Dini memulai interaksi mesra kepadanya. Membuat tubuh Riko menjadi semakin panas.


Riko tentu saja tidak mau diam saja. Dia langsung menarik tubuh Dini mendekat kepadanya dan memegang erat pinggang Dini agar tetap berada di hadapannya.


Riko melanjutkan ciuman mereka dan memperdalamnya. Membuat gaira* diantara mereka semakin membara. Riko selalu ketagihan untuk melakukannya berulang - ulang.


Dulu biasanya dia tidak mau melakukan aktivasi ranjang pada orang yang sama tapi kini berbeda. Dini bisa membuatnya merasakan sensasi yang berbeda di setiap kali mereka bertempur panas.


Hingga akhirnya Riko selalu merasa penasaran dan ingin lebih bahkan ingin terus mengulanginya. Betapa dahsya arti kata halal dalam hidup Riko.


Hari itu mereka hanya beristirahat dan santai di rumah. Besok hari terakhir mereka cuti dan akan mereka isi dengan cara bertemu para sahabatnya untuk membagi - bagikan oleh - oleh mereka.


Keesokan harinya di rumah Bimo.


Semua sudah berkumpul di rumah Bimo untuk membicarakan rencana keberangkatan mereka ke Surabaya dalam rangka menghadiri pernikahan Romi dan Ela.


"Assalamu'alaikum" ucap Riko dan Dini saat mereka tiba di rumah Bimo.


"Wa'alaikumsalam... nah pengantin baru sudah datang" sambut Romi.


"Rikooooo" Aril langsung berjalan menyambut Riko dan memeluknya.


Membuat Riko merasa heran sekaligus geli dengan sikap Aril saat ini.


"Ko syukurlah kamu sudah pulang. Aku sangat merindukan kamu" ungkap Aril sungguh - sungguh.


Seketika bulu kuduk Riko berdiri.


"Iiih merinding gue" ucap Riko.


"Hahaha... kamu merinding Ko, aku udah mual sejak melihat tingkah anehnya ini sejak kamu pergi bulan madu" sambut Romi.


"Emang dia kenapa?" tanya Riko bingung.


"Teman kamu itu ngidam" jawab Refan.


"Ngidam? Ma.. maksud kamu Aril hamil?" tanya Riko semakin bingung.


"Bukan aku yang hamil dodol tapi Bela" Aril memukul dada Riko.


"RI... riiiil bisa gak kamu lepaskan pelukan kamu dari tubuhku. Aku geli banget Riiiil" ucap Riko.


Riko mengangkat kedua tangan nya keatas agar Aril bisa melepaskan tubuhnya dengan mudah. Tapi yang terjadi malah Aril semakin memperat pelukanya.


Wajah Aril berubah sedih. Membuat perasaan Riko tak menentu ingin marah sekaligus mual.


"Riiil lepas" Kini Riko berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Aril.


"Hahahaha.... biarin aja Ko si Aril lepas rindu pada kamu. Dua minggu ini dia jadi melow karena kamu tinggal pergi" ujar Bagus.


"Aneh... " sambut Riko jijik.


Akhirnya Riko bisa melepaskan diri dan langsung memeluk Dini agar tidak ada celah untuk Aril memeluknya kembali.


"Itulah aneh tapi nyata, dia ngidam kangen kamu. Kamu tau gak gimana galaunya dia dua minggu ini?" tanya Romi.


Riko menaikkan kedua bahunya yang artinya tidak tau.


"Setiap hari dia datang ke kantorku sambil nangis - nangis dan bilang kalau dia kangen sama kamu. Kamu jahat karena sudah memblokir nomornya. Jadi dia tidak bisa menghubungi kamu" jawab Romi.


"Kok bisa?" tanya Riko tak percaya.


"Tuh tanya sama istrinya?" sambut Bimo tersenyum puas melihat titik kelemahan adik iparnya yang durjana itu.


Riko menatap Bela dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Gini Mas ceritanya" ungkap Bela.


Flashback On


Aril dan Bela baru saja pulang dari Hotel setelah tadi malam mereka menginap di Hotel yang sama dengan Riko dan Dini tempati.


Sejak awal sebenarnya Bela sudah tidak setuju dengan ide Aril yang ingin menginap di Hotel di malam pernikahan Riko dan Dini. Tapi Aril bersikeras memaksa Bela untuk menginap dan akhirnya Bela mau.


Selama di kamar Aril tidak betah berada berdua dengan Bela. Dia ingin cepat - cepat bertemu Riko setelah pesta usai. Oleh sebab itu terjadilah peristiwa Aril dan Riko pergi untuk shalat ke Mesjid.


"Yank kita pergi yuk menyusul Riko ke Mekkah" ajak Aril.


"Untuk apa Mas?" tanya Bela bingung.


"Aku kangen Riko yank, aku pengen ketemu Riko sekarang juga" jawab Aril.


.


.


BERSAMBUNG