Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Dua Belas



"Kamu sudah bertemu dengan pria yang bisa menjamin hidup kamu?" goda Romi.


"Sudah" jawab Ela sembilan tersenyum manis.


"Mana pria itu?" tanya Romi pura - pura.


Ela mengarahkan spion yang ada di dalam mobil ke arah Romi.


"Ini pria itu" Ela menunjuk ke arah kaca spion.


Romi tersenyum bahagia ketika Ela sudah mulai nyaman diajak bercanda seperti ini.


"Kamu tau, aku ingin sekali kita ngobrol ringan seperti ini sambil tertawa dan minum kopi di kantin kantor" ungkap Romi.


Ela menatap wajah Romi dan ingin protes.


"Aku ingin menunjukkan kepada semua karyawan pria yang ada di kantor bahwa kamu akan menjadi milikku secepatnya. Tidak ada yang bisa merebut kamu dariku" ungkap Romi serius.


Ela tersentak terkejut dan hampir tidak percaya dengan semua kata - kaya Romi.


"Maaas... maaf, aku belum siap" jawab Ela.


Ela menundukkan wajahnya sambil ******* - ***** kedua tangannya.


"Cuma kamu wanita yang malu kalau banyak orang yang tau bahwa kamu adalah wanitaku. Kamu tau, diluar sana banyak sekali wanita yang ingin aku akui sebagai wanitaku" ucap Romi.


"Aku bukan tipe wanita yang suka menjadi pusat perhatian. Mas tau kan aku suka hidup yang cuek dan bebas tanpa komentar orang - orang" balas Ela.


"Kamu takut Ela. Makanya kamu juga tidak berani menjawab ucapan orang - orang dikampung kamu. Sama seperti ucapan teman - teman di kantor. Kamu takut dipandang buruk oleh mereka" ujar Romi.


Ela menundukkan wajahnya.


"Mulailah memberanikan diri untuk menunjukkan siapa diri kamu yang sesungguhnya. Kamu itu sebuah berlian yang lebih memilih sembunyi diantara ribuan jerami. Biarkan aku mengankat kamu kepermukaan, agar mereka bisa melihat betapa cantiknya kilau kamu" sambung Romi mencoba meyakinkan Romi.


Ela semakin menunduk kaku.


"Cishela percayalah kalau kamu itu sangat berharga terlebih bagiku dan aku tidak akan perduli dengan ucapan orang lain" ucap Romi lagi.


Ela menarik nafas panjang.


"Baiklah Mas, tapi setelah aku bertemu dengan orang tua kamu. Setelah itu terserah bagaimana Mas mau" pinta Ela.


Romi tersenyum menang, akhirnya bidadari surganya menyerah kepadanya.


"Baik, setelah hari sabtu. Aku akan mengumumkan kepada semua orang - orang kantor kalau kamu adalah calon istriku. Bagaimana?" tanya Romi.


Wajah Ela bersemu merah karena malu. Kemudian Ela menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Aku ikut saja apa mau kamu Mas" jawab Ela.


"Kalau aku mau langsung menikah?" goda Romi.


"Kita belum cerita pada Bapak dan Ibuku Mas" elak Ela. Ela tampak panik sekali.


"Hahaha... kamu panik ya" ledek Romi.


"Ya iyalah, enak aja main nikah langsung. Ngelamar aja belum ke keluarga aku" balas Ela cemberut.


"Aku sudah gak sabar mau nikah sama kamu" ungkap Romi.


Wajah Ela kembali memerah.


"Udah ah Mas fokus aja nyetirnya" sambut Ela.


"Kita makan dulu ya sebelum pulang" ajak Romi.


"Boleh, aku juga sudah lapar" sambut Ela.


Romi melajukan mobilnya menuju sebuah cafe tempat mereka pertama kali makan berdua lebih dua tahun yang lalu. Ela terkejut melihat dimana mereka saat ini.


"Kenapa? Kamu ingat tempat ini?" tanya Romi sambil tersenyum.


"Ca.. cafe ini masih ada Mas?" tanya Ela.


"Ternyata kamu masih ingat. Kamu tau setelah pertemuan kita malam itu, aku sering mampir ke sini sekedar menunggu pertemuan kita selanjutnya. Tapi kamu tidak pernah datang lagi ke sini dan kita tidak pernah bertemu lagi. Aku selalu menanti kamu disini berharap akan melihat wajah kamu kembali" ungkap Romi.


Ela tertunduk malu mendengar pengakuan Romi. Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Cafe.


"Cishela.. aku boleh tanya gak?" ucap Romi.


"Mau tanya apa?" tanya Ela.


"Kamu sejak kapan menyukaiku?" tanya Romi balik.


Ela terdiam, mencoba mengingat - ingat sejak kapan dia menyukai Romi.


"Mmm... mungkin sejak kita tugas ke Surabaya Mas" jawab Ela.


"Boleh aku tau apa yang membuat kamu menyukai aku?" tanya Refan.


"Mmm... Mas baik, bertanggung jawab, pekerja keras dan yang terpenting Mas selalu berusaha untuk berbuat dan juga hidup lebih baik lagi kedepannya. Tidak malu mengakui kesalahan dan ingin memperbaikinya" jawab Ela.


"Makasih El, kamu sudah membuka hati kamu padaku" sambut Romi.


"Mas sendiri sejak kapan menyukaiku? Bukannya Mas sudah menyukai orang lain?" tanya Ela penasaran.


"Aku sudah menyukai kamu sejak dua tahun yang lalu" jawab Romi.


Ela menatap mata Romi dengan tatapan tidak percaya.


"Kamu lupa kalau dua tahun lalu kita pernah bertemu? Sejak saat itu aku penasaran banget sama kamu bahkan aku mencari kamu sampai ke Surabaya. Disitulah aku bertemu dengan Bapak kamu. Tapi aku tidak tau kalau Pak Budi adalah Bapak kamu" ungkap Romi.


"Lho jadi yang Bapak ceritain itu, Mas mencari seorang wanita dua tahun yang lalu itu aku?" tanya Ela tak percaya.


Romi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Kok bisa? Kita kan baru sekali aja bertemu?" tanya Ela penasaran.


"Itulah cinta, sekali pertemuan saja sudah membuat hatiku bergetar. Aku mencintai kamu pada pandangan pertama" ungkap Romi.


Wajah Ela kembali bersemu merah.


"Mas apa yang harus aku bawa nanti saat ke rumah orang tua kamu?" tanya Ela.


"Gak ada, kamu cukup bawa diri aja" jawab Romi.


"Apa yang harus aku siapkan?" tanya Ela lagi.


"Diri kamu" jawab Romi singkat.


"Tapi Mas, a.. aku belum pernah seperti ini. Aku tidak punya pengalaman dan tidak tau harus berbuat apa. Apalagi keluarga kita jauh berbeda. Nanti kalau orang tua kamu bertanya sesuatu padaku, aku harus jawab apa?" tanya Ela bingung.


"Kamu jawab saja apa adanya. Jawab yang kamu tau, kalau kami tidak tau ya dia saja" balas Romi.


Romi menyadari ketegangan Ela. Romi tersenyum sambil menatap wajah Ela.


"Jangan khawatir, mereka sangat menyayangiku. Apapun yang aku putuskan dalam hidupku mereka pasti akan mendukungnya" hibur Romi agar Ela tifak begitu tegang.


Ela tampak sedang menarik nafas panjang dan terasa berat.


"Seminggu kemudian kita akan ke Surabaya untuk bertemu dengan keluarga kamu. Kamu sudah cerita pada keluarga kamu tentang rencana kita?" tanya Romi.


Ela menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih ragu pada niat baik aku?" tanya Romi meyakinkan Ela.


Ela menggelengkan kepalanya.


"Lantas mengapa kamu belum cerita pada mereka?" tanya Romi penasaran.


"Nanti saja Mas, setelah kita sudah bertemu orang tua Mas. Baru aku cerita sama Bapak dan Ibu kalau kita akan datang ke Surabaya lagi" jawab Ela.


Tak lama makanan yang mereka pesan sudah datang. Mereka mulai menikmati hidangan sambil bercerita tentang masa depan yang akan mereka susun. Mulai dari rencana pernikahan, membeli rumah masa depan bahkan rencana memiliki anak berapa orang saja sudah mereka bincangkan.


Sesekali mereka saling tertawa bahagia Dua hati yang terpaut setelah pertemuan pertama kali beberapa tahun yang lalu. Tak disangka akan berubah menjadi hubungan yang seperti ini.


Keduanya tidak menyangka mereka akan bertemu lagi dengan cara seperti ini dan akhirnya mempunyai satu tujuan untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga Allah mengabulkan niat suci mereka dan menyandingkan mereka dalam ikatan suci yang dinamakan pernikahan.


.


.


BERSAMBUNG