Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Duapuluh Tiga



Keesokan harinya Dini sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Mama Dini dan Anita membantu Dini untuk menyusun semua barang - barang Dini.


Dini membuat surat pengunduran dirinya ke Perusahaan tempat dia bekerja. Setelah semua selesai Dini ikut pulang bersama keluarganya.


Anita, Galuh dan Yoga berada di dalam satu mobil. Sedangkan Riko, Dini dan kedua orang tua Dini berada di dalam mobil Riko.


Sejak peristiwa lamaran Riko di Rumah Sakit hubungan Riko dengan Papa Dini sudah sangat baik. Riko sangat senang sekali akhirnya kesabarannya berbuah bahagia.


Riko dan Papanya Dini duduk di depan sedangkan Dini dan Mamanya duduk di belakang. Selama perjalanan Riko selalu melirik Dini melalui spion yang ada di mobil. Dan mereka sering sekali saling tatap dan wajah Dini selalu memerah karena malu.


Mereka tiba di Jakarta siang hari, sebelum sampai di rumah Riko tersebut dahulu mengajak keluarga Dini untuk makan siang bersama.


Makan siang pertama dengan keluarga Dini penuh dengan kehangatan. Papa Dini tampak sudah tidak menjaga jarak lagi. Bahkan dia sudah memperlakukan Riko sama seperti dia memperlakukan Galuh suaminya Anita.


"Jadi kapan keluarga kamu akan datang ke rumah kami untuk berkenalan?" tanya Papa Dini.


"Pa.. apa gak terlalu terburu - buru? Mas Riko kan belum cerita kekeluargaannya tentang penyakitku? Dan belum tentu juga Pa, orang tua Mas Riko bisa menerima keadaanku?" potong Dini.


Papa Dini seketika terdiam dan menunduk malu. Dini benar, belum tentu keluarga Riko bisa menerima segala kekurangan putrinya.


Dulu dia saja tidak suka dengan Riko dan melarang hubungan mereka hanya karena kekurangan Riko di masa lalunya. Sungguh Papa Dini tak bisa membayangkan bagaimana nasib putrinya jika keluarga Riko tidak bisa menerima kekurangan putrinya.


"Maaf Nak Riko, Bapak belum berpikir sampai sejauh itu. Bapak akan terima apapun yang orang tua kamu katakan. Bapak kini pasrah, semua memang salah Bapak. Mungkin inilah balasan yang Allah berikan kepada keluarga kami karena kesombongan Bapak sebelumnya. Dini maaf kan Papa kalau akhirnya kamu yang menanggung semua ini Nak" ucap Papa Dini sedih.


"Bapak tidak perlu khawatir. InsyaAllah aku bisa meyakinkan Papa dan Mamaku. Secepatnya saya akan mengajak mereka datang untuk bersilaturahmi ke rumah Bapak" sambut Riko.


"Bapak jangan merasa bersalah seperti itu. Apapun yang terjadi dengan hidup Dini bukanlah karena kesalahan Bapak. Dini yakin Allah pasti punya rencana lain agar Dini lebih bersabar" potong Dini.


"Seketika Bapak seperti tertampar dengan kejadian yang menimpa Dini. Selama ini Bapak terlalu sombong sebagai manusia. Astaghfirullah.. ya Allah maafkan aku yang terlalu merasa sempurna, padahal aku hanya manusia biasa yang punya banyak kekurangan" ujar Papa Dini.


"Sudah lah Pa.. yang penting kan kita sudah berencana, berusaha dan terus berdoa. Kita yakin saja, Allah pasti akan melihat dan mendengar doa - doa kita" timpa Anita.


"Benar Pa, berbaik sangka kepada Allah. InsyaAllah semua pasti akan baik - baik saja. Karena Allah sesuai dengan sakwa sangka ummatNYA" sambut Galuh.


"Gimana perut kamu, apa masih terasa sakit?" tanya Riko penuh perhatian.


"Sudah nggak Mas. Ini kan sudah hari ketiga. Biasanya sakitnya hanya di hari pertama saja" jawab Dini.


"Syukurlah" sambut Riko sambil tersenyum penuh kasih sayang.


Papa Dini merasa sangat bersyukur sekali karena ternyata Riko sangat menyayangi putrinya. Selama ini mata dan hatinya buta, tidak bisa melihat semua perhatian Riko kepada Dini.


"Kalau sudah selesai mari kita kembali pulang, kasihan Nak Riko sudah capek sepertinya. Dia juga kan punya banyak urusan lain di kantornya" ujar Papa Dini.


"Ah tidak apa Pak kalau masalah kantor sudah saya titipkan pada orang kepercayaan saya. Yang penting kesehatan Dini" jawab Riko.


"Ya sudah Mas, sudah selesai kok. Kita pulang saja" sambut Dini.


Riko membayar semua tagihan makan siang mereka padahal Anita sudah menolak tapi Riko tetap bersikeras dia yang membiayai semunya.


Setelah mereka selesai makan, Riko langsung mengantar Dini dan kedua orang tuanya ke rumah mereka. Sedangkan Anita dan keluarga kecilnya kembali ke rumah mereka.


Sesampainya di rumah Papa Dini sangat ramah sekali kepada Riko. Sangat berbeda dengan biasanya. Semua itu membuat Riko dan Dini sangat senang.


"Masuk dulu Nak Riko" ajak Papa Dini.


"Maaf Pak, lain kali saja. Saya ada janji dengan teman - teman saya. Ketepatan sore ini ada pengajian di salah satu kantor sahabat saya. Jadi dari sini saya langsung saja ke sana" jawab Riko.


"Iya Pak, biasanya bareng Mas Galuh. Dia yang selalu mencarikan ustadz untuk mengisi pengajian kami" jawab Riko.


"Oh ya?" sambut Papa Dini tak percaya.


"Makanya Pa, betul kata pepatah kan? Tak kenal maka tak sayang. Siapa suruh dulu Papa selalu pergi setiap kali Nak Riko datang ke rumah kita jadinya Papa gak tau apapun tentang Nak Riko kan?" sindir Mama Dini.


"Iya maaf, Bapak memang salah dulu" jawab Papa Dini malu.


"Gak apa Pak, kalau begitu saya pamit dulu ya Pak" balas Riko.


"Iya .. iya.. silahkan. Hati - hati" jawab Papa Dini dengan sangat ramah.


"Din antarkan Nak Riko sampai depan" perintah Papa Dini kepada Dini.


"Iya Pa" jawab Dini.


Dini mengantar Riko sampai ke mobil.


"Maaf ya Mas kalau Papaku jadi aneh begitu" ujar Dini malu.


"Tidak apa Din lebih baik begitu kan dari pada Mas datang diusir" Jawab Riko sambil tersenyum.


Wajah Dini masih tampak risau. Riko tau saat ini Dini pasti hilang percaya dirinya untuk menikah dengan Riko karena penyakit yang dia derita. Riko harus punya kesabaran ekstra untuk membuat Dini kembali semangat untuk menikah.


"Hei.. jangan suka melamun. Nanti temannya setan lho... Kita ucap Bismillah aja ya untuk melangkah menuju pernikahan. Mas aja sangat yakin, masak malah kamu yang ragu" goda Riko dengan wajah yang cerah ceria.


"Makasih ya Mas sudah menguatkan aku. Dan sekali lagi makasih sudah mau menerima segala kekuranganku" ungkap Dini penuh harapan.


"Mas yang harusnya berterima kasih kepada kamu. Kamu sudah mau menerima lamaran Mas. Mas sudah sangat takut kalau lamaran Mas ditolak seperti si Aril" ujar Riko.


"Mas Aril di tolak Bela, kapan?" tanya Dini.


Riko melirik jam tangannya.


"Ceritanya panjang, lain kali saja ya Mas ceritain. Mas harus segera ke kantornya Romi. Hari ini jadwal pengajiannya di kantor Romi. Mas gak mau terlambat" jawab Riko sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Dini membuat wajah Dini jadi merah merona karena malu.


"Aaaah.. Mas Riko genit" protes Dini.


"Sekali - sekali genit sama calon istri biar ingat selalu sama Mas. Lagian genitanya kan masih wajar" sambut Riko.


"Udah ah.. sana berangkat. Katanya takut terlambat" usir Dini.


"Hahaha iya.. iya.. aku sudah di usir. Ya sudah ya, Mas pergi. Assalamu'alaikum" pamit Riko.


"Hati - hati ya Mas. Wa'alaikumsalam" jawab Dini sambil melambaikan tangannya ke arah Riko.


Riko mulai menyalakan mobilnya dan bergerak menjauh keluar dari rumah Dini. Dini menatap kepergian Riko sampai jauh.


Ya Allah lancarkanlah niat baik kami ini ya Allah.. semoga tidak ada halangan dan rintangan lagi. Aamiin... Doa Dini dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG