
"Kamu sedang jatuh cinta Bel" ucap Ela
Bela terdiam sesaat.
"Aku gak tau" jawab Bela.
"Kamu marah kan melihat Mas Aril dengan wanita lain?" tanya Ela.
"Nggak, aku gak marah. Mas Aril bebas kan pergi dengan siapa saja" jawab Bela.
"Iya tapi kamu sedih kan?" tanya Reni kali ini.
Bela terdiam lagi dan akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Hati kamu sakit ketika melihat dia sedang bersama wanita lain?" tanya Ela.
Bela menganggukkan kepalanya.
"Sama, seperti itu dulu waktu aku melihat Mas Romi didekatin Silva sekretarisnya yang centil itu" sambut Ela.
"Apa coba yang kamu rasakan?" Reni mencoba mengorek perasaan Bela.
"Mas Aril berubah sejak aku menolak perasaannya. Dia jadi lebih dingin dan jaga jarak. Kalau dikantor dia sangat jarang memanggil atau meminta bantuanku. Dia juga jarang bercanda denganku lagi dan rasanya seperti ada dinding pemisah antara kami" ungkap Bela.
"Ya jelas donk Bel.. kamu kan sudah menolak perasaan Mas Aril. Mas Aril harus jaga hatinya agar tidak terus - terusan berharap pada kamu sementara kamu tidak punya perasaan apapun padanya. Ya caranya dengan menjaga jarak pada kamu" sambut Reni.
"Tapi kan masih bisa berteman Ren" ujar Bela.
"Kalau salah satu punya perasaan, akan sangat sulit untuk berteman. Rasa itu akan tetap ada, sedangkan kamu tetap tidak bisa menerimanya. Kamu jangan egois donk, Mas Aril akan terus selalu ada di dekat kamu, memperhatikan kamu, merayu, membujuk dan menggoda kamu. Sedangkan jawaban kamu padanya, kamu tidak punya rasa pada Mas Aril. Sakit tau Beeeel... " sambut Ela.
Bela terdiam.
"Sekarang kamu kehilangan Mas Aril yang dulu kan? Kamu rindu dengan sosok Mas Aril yang dulu?" tanya Reni.
Bela menarik nafas panjang.
"Gak tau ah Ren, aku pusing. Aku sering bertanya seperti apa sih cinta? Katanya jantung ini akan berdetak kencang bila ada di dekatnya. Tapi aku tidak merasakan hal itu pada Mas Aril" ungkap Bela.
"Banyak lho ciri - ciri jatuh cinta. Tidak semua harus ditandai dengan detak jantung. Apa yang sudah kamu rasakan tadi salah satunya ciri - ciri jatuh cinta. Kamu merasa kehilangannya, merindukan canda tawanya dan selalu memikirkannya. Sakit jika melihat dia sedang bersama wanita lain, cemburu bila melihat mereka berdekatan apalagi tertawa sambil bercanda" jawab Ela.
Bela kembali menarik nafasnya panjang.
"Udah ah, aku gak mau mikirin itu lagi. Pusing... " sambung Bela, dia kemudian menutup matanya di kursi belakang. Bela duduk di belakang bersama Ela sedangkan Reni duduk di samping Pak Supir. Karena sejak hamil, Bimo tidak mengizinkan Reni untuk membawa mobil sendiri.
"Jadi kemana nih?" tanya Reni.
"Pulang aja yuk, aku udah kenyang banget" jawab Bela.
"Ya sudah Pak kita pulang aja" perintah Reni.
"Baik Nona" jawab Pak Supir.
Pak Supir mengikuti perintah istri majikannya dan mereka langsung pulang menuju rumah Bimo dan Reni setelah seharian lelah berjalan - jalan dan belanja. Sudah lama mereka tidak jalan seperti ini karena masing - masing sibuk. Reni sibuk dengan kehamilan mudanya. Setiap hari pagi - pagi dia dan suaminya sudah pergi ke rumah Refan. Selama Bimo membantu Refan menyelamatkan Perusahaan Pak Reno, Reni selalu tinggal di rumah Kakaknya.
Dia tidak mau sendirian berasa di rumah karena Ela juga sibuk bekerja di Perusahaan barunya membantu Refan juga menyelamatkan Perusahaan Pak Reno. Sedangkan Bela sibuk dengan kerjanya sebagai sekretaris Aril.
Kegiatan hari ini mereka sudah merencanakannya sejak beberapa hari yang lalu. Dan dengan persetujuan dari Bimo mereka pergi bertiga sejak pagi. Dimulai dengan ke salon, jalan - jalan di mall, berbelanja dan diakhiri dengan makan.
Mereka sampai di rumah menjelang sore hari. Sesampainya di rumah mereka langsung bersih - bersih dan beristirahat.
*****
Senin pagi di Kantor Bela.
"Selamat Pagi" seseorang menyapa Bela yang sedang sibuk menatap layar komputernya.
Bela menoleh kearah suara, alangkah terkejutnya dia ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Mm.. mbak Sintia?" sambut Bela.
"Arilnya ada?" tanya Sintia.
"A.. ada Mbak. Tunggu sebentar ya" jawab Bela.
Bela berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerja Aril.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.. " jawab Aril.
Bela membuka pintu ruangan Aril.
"Maaf Pak, di luar ada Mbak Sintia ingin bertemu dengan Bapak" lapor Bela.
"Oh ya, suruh dia masuk" balas Aril semangat.
Wajah Aril tampak bersinar bahagia. Aril langsung berdiri dari kursi kerjanya dan keluar dari area meja kerjanya. Bela langsung membalikkan tubuhnya kembali ke meja kerjanya.
"Silahkan Mbak, Mbak sudah di tunggu Pak Aril di dalam" ucap Bela hormat.
"Santai aja Bel, kita kan sudah saling kenal kemarin. Jangan formal gitu ah. Anggap saja saya teman kamu" sambut Sintia dengan bersahaja.
Sikap Sintia ini membuat semangat Bela semakin menciut.
Wanita ini terlihat sangat smart, cantik dan berharga. Kalau Mas Aril beneran suka sama dia? Aku harus bagaimana? Apakah aku akan kehilangan? tanya Bela dalam hati.
"I.. Iya Mbak.. Silahkan masuk. Pak Aril sudah menunggu" balas Bela.
Sintia tersenyum kembali.
"Terimakasih Bela" ujar Sintia.
Sintia segera berjalan menuju ruang kerja Aril.
"Hai Sintia.. " sambut Aril dengan suara ceria.
Bela bisa mendengarnya dengan jelas saat pintu masih terbuka, dan Bela sempat melirik ke dalam ruangan Aril. Dia melihat Aril tersenyum manis kepada Sintia.
Senyuman yang tak pernah Bela dapatkan lagi. Senyum yang hilang setelah Bela menolak perasaan Aril. Senyuman yang dulu hanya untuk Bela. Senyuman yang kini Bela rindukan.
Akh.... Bela bergumam kesal dan duduk kembali di kursi kerjanya. Tanpa sepengetahuan Bela, Aril dan Sintia melirik tingkah Bela itu dari dalam ruangan Aril yang bisa tembus pandang melihat ke luar ruangan.
"Hahaha... lihat Ril, wanita pujaan kamu itu kesal banget lihat aku datang" ujar Sintia.
Aril menatap lembut kearah Bela.
Benarkah Bel? Apakah kamu cemburu melihat aku dan Sintia. Apakah kamu marah karena cemburu. Apakah kamu sudah mulai mencintai aku? Tanya Aril dalam hati.
"Entahlah Sin, aku belum bisa memastikan apakah Bela sudah mulai menyukaiku" sambut Aril.
"Tenang saja Ril, kita akan buat Bela mengakui perasaannya pada kamu. Kita akan buat dia sadar bahwa dia takut akan kehilangan kamu" ungkap Sintia yakin.
"Aku tidak ingin berharap banyak. Aku takut kecewa untuk yang kedua kalinya" balas Aril.
"Hey, kamu kenapa sih jadi lembek gini. Semangat donk... mana Aril yang dulu. Yang dengan lirikan mata wanita saja kamu sudah tau apa yang diinginkan wanita itu?" tanya Sintia.
"Aku tak bisa seperti itu pada Bela. Semua ilmuku tak mempan untuk Bela. Aku seperti mati ide jika dihadapannya" jawab Aril.
"Itu karena kamu memang benar - benar mencintainya. Kamu pakai perasaan kamu bukan pakai otak kamu untuk menaklukkan Bela" ujar Sintia.
.
.
BERSAMBUNG