
Siang harinya Riko sudah menyelesaikan urusan rumah kontrakan. Riko juga sudah pamit para tetangga dan pengurus komplek dan mengatakan kalau Rihana akan tinggal bersamanya.
Barang - barang Rihana juga sudah dipacking Dini dengan bantuan Kinan, dan Ayu.
Setelah semua selesai Riko dan Dini membawa Rihana kembali ke apartemen.
"Mulai hari ini kamu akan tinggal bersama Om dan Tante ya sayang. Kamu mau?" tanya Dini.
"Mau Ante" jawab Rihana sambil menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kita makan dulu yuk, setelah itu baru kita istirahat. Dua hari ini kita semua pasti lelah" ajak Dini.
"Iya Ante, aku juga lapay" sahut Rihana.
Riko, Dini dan Rihana hari ini lebih cepat makan malam. Semua ini Dini lakukan agar Rihana bisa tidur dengan cepat. Hari ini sangat melelahkan buat Rihana.
Dia sudah terlalu banyak menangis hari ini. Dan kurang istirahat, pasti tubuhnya sangat lelah. Setelah makan malam Dini segera membawa Dini ke kamar.
Tidak memakan waktu yang lama Rihana sudah bisa tidur dengan nyenyak.
"Rihana sudah tidur yank?" tanya Riko.
"Sudah Mas" jawab Dini.
Riko dan Dini duduk di sofa ruang TV.
"Besok kamu bisa cuti lagi kan? Besok rencananya pagi aku akan urus surat - surat adopsi Rihana. Setelah itu kita ke rumah orang tuaku baru ke rumah orang tua kamu" ajak Riko.
"Nanti aku permisi aja Mas sama Ela. Aku yakin dia pasti mau mengerti" sahut Dini.
Tiba - tiba Dini dan Riko tersentak karena mendengar teriakan Rihana.
"Mamaaaaa... Mamaaaa.. aku ituuuut... Mamamaaaa" teriak Rihana.
Dini dan Riko segera berlari ke kamar melihat keadaan Rihana.
Ternyata Rihana sedang bermimpi. Tapi air matanya tetap keluar dari sudut matanya. Dini langsung membelai mencoba menenangkannya.
"Rihana pasti terpukul sekali melihat proses pemakanan Mbak Hana tadi Mas" ucap Dini.
"Yah mau gimana lagi sayang. Gak mungkin Rihana kita tinggal sementara itu adalah pemakaman Mamanya" jawab Riko.
"Kasihan sekali kamu sayang... Mimpi yang indah ya... Mama kamu sudah tenang di sana" sambung Dini.
Dini teringat kalau tadi dia membawa beberapa barang - barang Hana dari rumah mereka. Dini segera mengambil selimut yang dia bawa dan kemudian dia selimuti tubuh Rihana dengan benda itu.
Kini perlahan tidur Rihana kembali tenang dan nyenyak.
"Kamu bawa selimut itu?" tanya Riko.
"Iya Mas, kata orang wangi tubuh Ibu akan membuat tenang anak saat anak itu ditinggalkan. Kalau Mbak Anita pergi tugas keluar kota Yoga dititip ke rumah Mama. Mbak Anita selalu membawa dasternya untuk dipeluk Yoga. Makanya tadi aku bawa selimut ini. Karena aku lihat tadi malam tidur Rihana sangat tenang memakai ini. Dia pasti akan merasa hangat dalam pelukan Mamanya" jawab Dini.
Riko merasa sedih melihat Rihana.
"Aku sudah sebesar ini masih punya orang tua yang lengkap. Ya Allah.. aku selalu merasa tidak siap setiap kali mengingat harus ditinggalkan orang tua. Bagaimana dengan Rihana" ucap Riko.
"Allah akan memberi cobaan karena kita sanggup Mas. Aku selalu memegang kata - kata itu. Aku yakin Rihana anak yang kuat makanya Allah beri cobaan seperti itu padanya. Lagian Mbak Hana sudah berjuang untuk mencari pengganti dirinya Mas. Awal cara dia salah tapi aku mengerti. Kalau aku di posisi Mbak Hana aku akan melakukan cara apapun untuk masa depan anakku Mas" sambut Dini.
"Sudahlah Mas, Mbak Hana sudah tenang di sana jangan kita beratkan dengan mengorek dosa masa lalu. Sebelum akhir hidupnya dia sudah bertaubat" bantah Dini.
"Iya sejak hamil Rihana dia tidak pernah lagi menjalani kehidupan malam" ucap Riko.
"Dari mana Mas tau?" tanya Dini penasaran.
"Aku menyelidikinya sayang. Saat dia mengatakan Rihana anakku aku tidak bisa menerimanya dengan begitu saja. Aku menyuruh seseorang untuk menyelidiki kehidupannya. Ternyata Hana sangat berhati - hati menyimpan datanya. Sangat sedikit yang bisa aku dapatkan" jawab Riko.
Dini memejamkan sebelah matanya curiga.
"Apakah kamu melakukan hal yang sama sebelum menikah denganku?" tanya Dini curiga.
Riko tersenyum lalu tertawa kecil.
"Hahaha.. iya aku menyuruh seseorang untuk menyelidiki kamu" aku Riko.
"Siapa Mas?" tanya Dini penasaran.
"Kinan" jawab Riko.
"Aaah Mas Riko... Mbak Kinan sih udah kenal aku dari kecil. Dia dan Mbak Anita sudah lama bersahabat. Ya pasti dia tau semua kisah kehidupanku" sambut Dini dengan cubitan
"Hahaha... akhirnya aku lega sayang. Kita bisa tertawa dan bercanda seperti ini dengan saaangat lega tanpa beban. Hampir sebulan ini aku merasa seperti dibayang - bayangi oleh dosa masa lalu" ungkap Riko.
"Aku juga lega Mas... dan buah dari kesabaran kita, kita mendapat peri kecil ini. Aku yakin setelah kehadirannya rumah kita pasti ramai" sambut Dini dengan bahagia.
Riko tersenyum menatap wajah istrinya.
"Tentu ramai donk sayang tapi sepertinya kita harus beli tempat tidur kecil untuknya. Dan dia harus kita ajari tidur sendiri di kamar sebelah. Kalau tidak aku bingung bagaimana caranya aku bermanja - manja dengan kamu" bisik Riko.
"Jangan donk Maaas, kasihan dia tidur sendirian di kamar. Dia kan baru merasa kehilangan. Kalau dia mimpi seperti tadi gimana?" tanya Dini.
"Mmmm kalau begitu tempat tidur kecilnya kita buat dikamar ini saja, aku rasa masih muat. Kalau kita main kuda - kudaan di atas tempat tidur dia tidak akan terganggu dan terbangun" usul Riko.
"Kalau itu sih aku gak masalah. Nanti kalau Rihana sudah lebih besar sedikit baru kita bujuk tidur di kamar sebelah. Dia pasti sudah nyaman tinggal di sini" sambut Dini.
Sepertinya aku memang harus mencari rumah untuk keluarga kecilku ini. Lebih baik ini aku jadikan kejutan untuk Dini dan Rihana. Mereka pasti sangat senang sekali. Batin Riko.
"Ya sudah sayang kalau begitu kita juga istirahat yuk.. tadi malam kan kita sudah kurang tidur dan lelah. Aku gak mau kita jadi sakit" ajak Riko.
"Iya Mas, aku juga sudah ngantuk banget" jawab Dini.
Dini dan Riko mulai mengambil posisi disamping kanan dan kiri Rihana yang sedang nyenyak tertidur. Sesekali wajahnya tersenyum manis. Mungkin dia sedang bermimpi bertemu dan bermain bersama Mamanya.
Dini dan Riko saling berpegangan tangan diatas kepala Rihana. Rasanya keluarga mereka jadi semakin lengkap dan sempurna. Semoga tidak ada lagi masalah berat yang menghadang mereka di depan.
Dan jika mereka melangkah di jalan yang penuh rintangan mereka akan tetap saling berpegangan tangan seperti malam ini.
.
.
BERSAMBUNG