
"Sudah lama jadi pembokat?" tanya Aril kepada gadis yang baru saja dia katahui namanya Bela
"Sudah Mas, aku sudah tinggal di rumah Bapak dan Ibu sedari kecil" jawab Bela ramah.
"Waaah pantasan sudah dianggap sebagai keluarga dekat. Sudah seperti anak sendiri ya, bahkan tadi aku dengar kamu sebentar lagi mau wisuda. Sampai dikuliahin lagi sama Bapak dan Ibu Akarsana" ujar Aril.
"Iya Mas, Alhamdulillah mereka sangat sayang padaku" jawab Bela.
"Pantas saja kamu juga akrab dengan Kinan dan Salman" ujar Aril.
Bela membalas perkataan Aril dengan senyuman.
"Masuk yuk Mas" ajak Bela.
"Eh iya yuk mari kita masuk ke dalam" jawab Aril.
Bela dan Aril membawa koper masuk kedalam rumah Kinan dan Refan. Didalam rumah sedang temu keluarga. Setelah lebih satu tahun kepergian Bima akhirnya Bapak dan Ibu Akarsana bisa bertemu lagi dengan Bapak dan Ibu Ardianto orangtuanya Kinan.
"Ayo silahkan duduk" ajak Pak Ardianto.
"Eeeh Bela ikut juga toh.. " ujar Bu Dhisti, mamanya Kinan.
"Iya Tante" jawab Bela ramah. Dia berpelukan dengan Bu Dhisti.
Tatapan Aril tak pernah beranjak dari gerak gerik Bela. Rasanya sangat senang sekali bisa melihat Bela kembali setelah pertemuan mereka dua minggu yang lalu.
"Eh ini Mamanya Mas Refan Bel" ujar Kinan memperkenalkan Bela kepada Ibu Suci.
"Bela Bu" ucap Bela ketika mencium tangan Bu Suci.
"Maaf Nak Bela ini siapanya....?" tangan Bu Suci ramah.
"Bela ini adiknya Mas Bima Bu" jawab Kinan.
Seketika Aril terkejut mendengar perkataan Kinan barusan.
Apa? Ternyata Bela ini adiknya Bima, bukannya pembokat? Mati aku... duh malu banget tadi aku udah tanya langsung lagi sama Bela sudah berapa lama dia bekerja jadi pembokatnya Bapak Akarsana. Ucap Aril dalam hati.
Rasanya seketika Aril ingin segera lari dari ruangan ini dan menghilang sangkin malunya kepada Bela karena sudah salah sangka.
Keluarga Bapak Akarsana akhirnya saling bercerita tentang permasalahan yang terjadi dengan kedua putranya. Setelah makan siang Kinan dan Refan mempersilakan mereka untuk istirahat di kamar.
Kinan mengantarkan mereka ke kamar masing dan setelah itu Kinan keluar dari kamar tamu dan kembali ke ruang keluarga dimana semua keluarganya berkumpul.
"Kamu mau istirahat juga kan Bel? Yuk Mbak tunjukkan kamar kamu?" ajak Kinan kepada Bela.
"Mmm.. kamarnya asisten rumah tangga Mbak dimana?" tanya Bela.
Mati aku.. sepertinya gadis ini sedang membalas perbuatanku. Batin Aril.
"Ada di belakang. Emangnya kenapa Bel? Kok kamu tanya kamar mereka?" tanya Kinan bingung.
"Sepertinya aku pantasnya tidur disana Mbak. Karena ada yang mengira bahwa aku adalah pembokatnya Bapak dan Ibu" jawab Bela.
"Siapa?" tanya Kinan penasaran.
"Tuh yang disamping Mas Refan. Siapa lagi kalau bukan dia. Kan dia yang jemput kami tadi ke Bandara" jawab Bela lagi.
Aril tersenyum malu sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal. Sementara Kinan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aril sahabat suaminya.
"Mas Aril, ada - ada saja. Yuk Bel, gak usah di dengerin perkataan Mas Aril. Dia emang gitu orangnya, suka asal dan usil" ujar Kinan.
Kinan mengajak Bela menuju kamarnya begitu juga dengan orang tua Kinan dan Refan. Mereka juga istirahat di kamar masing - masing.
Kini hanya tinggal Refan dan Aril berdua di ruang keluarga.
"Iya Bro.. aku salah menilai. Saat aku ke rumah mereka di Surabaya aku melihat Bela membawa minuman untukku dan temanku yang ikut menemaniku bertamu ke rumah mereka. Aku pikir dia seorang pembantu" jawab Aril serba salah.
"Oh jadi yang kamu maksud ada surga di Surabaya itu Bela?" tanya Refan.
Seketika Refan ingat ucapan Aril sepulang dia dari Surabaya dan melaporkan semua apa yang dia dapatkan selama di rumah orang tua Almarhum Bima.
"Ya gitu deh. Pembokat yang cantik" jawab Aril pasrah.
"Hahaha... gila kamu Ril. Bisa - bisanya kamu menduganya sept itu" Refan tak percaya dan menggelengkan kepalanya.
"Ya habis waktu itu tampilan Bela sangat sederhana dan tanpa polesan. Tapi tetap cantik kok, kecantikan alami" puji Aril sambil tersenyum.
"Ya jelas lah dia berpenampilan sederhana kan cuma di rumah. Lagian kamu juga bukan tamu spesial yang harus disambut dengan full make up dan baju kebaya persis orang mau kondangan atau mau nikahan" gumam Refan.
"Ya siapa tau aja dia emang mau aku ajak nikah Fan jadi lebih ringkas aku tinggal jabat tangan Bapaknya, ucapkan ijab kabul terus sah deh jadi pasangan suami istri" sambut Aril.
"Mimpi kamu" ejek Refan.
"Mimpi dulu Fan, baru jadi kenyataan. ** Habibie juga dulu bermimpi kok buat pesawat terbang dan ternyata mimpinya jadi nyata. Dia bisa menciptakan pesawat terbang" jawab Aril.
"Tapi mimpi kamu lebay, mana ada orang baru pertama ketemu belum saling kenal udah langsung main ijab kabul dan akad nikah" komentar Refan.
"Eh ada donk. Zaman dulu banyak tuh yang nikah di jodohkan seperti itu. Belum pernah bertemu, belum saling kenal. Gitu di ketemuin langsung nikah" Aril membela diri.
"Itu kan zaman dulu, zaman sekarang mana ada lagi seperti itu" balas Refan.
"Kira - kira Bela mau gak ya aku ajak nikah?" tanya Aril.
"Gak tau. Aku bukan Bela, aku Refan. Suaminya Kinan" jawab Refan geli.
"Bantuin napa Fan. Bantuin teman untuk mendapatkan jodoh temannya pahalanya besar lho. Kamu bisa mendapat imbalan mesjid di akhirat" ucap Aril.
"Tumben lo tau" sindir Refan.
"Ya tau donk pas Riko mau kita jodohin sama Dini. Walau yang dapat mesjidnya Kinan kalau perjodohan berhasil. Kita sebagai tim sorak alias cheerleader lumayan dapat AC mesjidnya" oceh Aril.
"Bacot kamu. Mana ada juga AC di mesjid surga. Wong disana udah sejuk kok udaranya. Namanya juga surga" timpa Refan.
"Ya ganti lah Fan, dapat keset kaki di mesjid juga gak apa - apa Fan, lumayan" sambung Aril.
"Banyak banget istilah kamu" ujar Refan.
"Namanya usaha Fan siapa tau Bela emang jodohku" Aril masih mencoba berusaha.
"Ya usaha aja sendiri. Aku males ah promosiin kamu sama Bela. Malu sama Pak Akarsana. Sepertinya mereka keluarga yang punya ilmu agama tinggi Ril. Nanti takutnya nasib kamu sama seperti Riko di tolak secara halus. Walau lebih lumayan nasib kamu. Kalau Riko langsung di tolak secara kasar dan di usir" ujar Refan.
Hati Aril jadi nelangsa.
"Gini aja, karena kamu teman aku. Gak apa - apa deh aku kasih kamu kesempatan untuk berusahalah" ucap Refan memberi ide.
"Gimana Fan, gimana?" desak Aril.
"Gimana kalau selama Bapak dan Ibu Akarsana ada di sini kamu yang antarin mereka kemanapun mereka pergi. Kamu harus bisa luangkan waktu kamu buat mereka. Pengorbanan donk" ujar Refan.
Seketika wajah Aril menjadi bersinar dan bahagia.
"Bisa Fan.. aku bisa"
.
.
BERSAMBUNG