
Romi tiba di Hotel saat semuanya sudah kembali ke kamar mereka masing. Romi masuk ke kamarnya dan Riko.
"Bro kamu dari mana aja? semua sangat curiga kepada kamu? Terlebih Ela, sejak kamu pergi dia gak pernah keluar kamar. Siapa wanita tadi? Apa itu mantan kamu dan dia membawa anak kamu?" tanya Riko.
"Tidak Ko, aku dan dia hanya berteman" jawab Romi.
"Kalau dia teman kamu mengapa aku tidak mengenalnya?" tanya Riko.
Romi menarik nafas panjang.
"Klara sebenarnya anak rekan bisnis aku. Beberapa kali kami bertemu dalam sebuah acara. Papa dan Mamanya sering membawa dia dan mengenalkan aku padanya" jawab Romi.
"Serius cuma itu saja?" tanya Riko lagi seperti tidak yakin.
"Ko... coba kamu ingat - ingat sudah berapa lama kita bertaubat dan meninggalkan masa lalu kita yang kelam. Itu bukan anakku, itu anak Klara dan suaminya" ungkap Romi.
"Kalau memang dia punya suami mengapa dia cuma berdua saja sama anaknya? Dimana suaminya?" tanya Riko penasaran.
"Itu dia, tadi Klara meminta bantuan aku untuk mencari suaminya. Dia menikah dengan pria biasa dan kedua orang tuanya tidak setuju. Orang tua Klara mencoba untuk memisahkan Klara dengan suaminya, makanya Klara lari dari rumah orang tuanya dan mencari suaminya. Kami tadi keliling Surabaya untuk mencari keberadaan suaminya" jelas Romi.
"Kamu harus jelaskan pada Ela cerita sebenarnya biar dia tidak galau. Kasihan dia mengurung diri terus. Kata Dini dia sangat sedih sekali dan hanya tiduran di kamar" ujar Riko.
"Tolong tanya Dini Ko, apa Ela sudah tidur?" tanya Romi.
"Kamu aja deh yang tanya sendiri" jawab Riko.
"Dia gak membalas pesan aku. Atau tolong suruh Dini ajak Ela ke Resto Hotel. Nanti aku akan menemui mereka disana" pinta Romi.
Riko melihat wajah Romi sangar kusut, dia percaya pada sahabatnya itu Kasihan juga kalau hubungan Romu harus hancur karena kesalah pahaman.
Bagaimanapun dia, Romi dan Aril sudah lama meninggalkan dunia kelam yang dulu mereka geluti. Jadi bisa dipastikan kalau anak tadi bukan anak Romi.
Lagi pula sebagian besar wanita yang sering bersama Romi dulu, Riko kenal. Wanita tadi memang sepertinya tidak pernah berhubungan dengan Romi.
"Baiklah sebentar aku kirim pesan ke Dini ya" sambut Riko.
Riko meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Dini.
Riko
Assalamu'alaikum Din.. Kamu dan Ela sudah tidur belum? Tolong ajak Ela turun Din ke Resto di bawah. Nanti aku dan Romi menunggu kalian di sana. Romi ingin bicara dengan Ela tapi pesan dan teleponnya tidak dibalas Ela.
Bidadari Surga
Wa'alaikumsalam Mas. Kami belum tidur. Oke, tunggu sebentar ya.. Aku bujuk Ela turun dulu ya Mas.
Tak lama kemudian ponsel Riko bergetar tanda pesan masuk.
Bidadari Surga
Mas kami akan turun ni.
Riko
Baik, kami juga akan turun. Kita ketemu di bawah ya
"Ayo Rom kita turun ke bawah, Dini dan Ela juga sedang turun ke Resto di bawah" ajak Riko.
"Terimakasih Ko" jawab Romi.
Mereka segera bergegas turun ke lantai bawah dan duduk di Resto menunggu Dini dan Ela. Tak lama kemudian Ela dan Dini pun tiba di Restoran.
Riko dan Dini meninggalkan Romi dan Ela berdua. Mereka pindah ke meja yang lain dan memesan makanan mereka.
"El.. kamu marah pada Mas?" tanya Romi.
Ela menarik nafas dalam.
"Aku tidak marah Mas, aku hanya kecewa pada kamu" jawab Ela.
"Eeel.. percaya padaku, aku dan Klara tidak ada hubungan apapun. Aku tadi membantunya untuk mencari suaminya ungkap Romi.
"Aku percaya pada kamu tapi kamu tidak terbuka padaku Mas. Dua bulan lagi kita akan menikah, mengapa kamu tidak mulai dengan hubungan yang lebih terbuka? Kalau kamu memang tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu mengapa kamu tidak mengajak aku ikut bersama kamu?" tanya Ela.
Romi terdiam mendengar pertanyaan Ela.
Iya ya, kenapa tadi aku tidak mengajak Ela pergi bersamaku? tanya Romi dalam hati.
"Aku tadi terlalu canggung di hadapan keluarga kita dan terkejut dengan keberadaan Klara sehingga aku salah mengambil tindakan. Lagipula tadi aku tidak tau apa permasalahan Klara. Aku terlalu takut kamu salah sangka padaku sehingga aku bingung dan pergi begitu saja dengan Klara. Maafkan aku El" jawab Romi jujur.
"Tapi aku masih tetap curiga Mas pada kamu" ujar Ela.
"Eeeel.. Klara sedang mencari suaminya. Dia meminta bantuanku dan tadi kami sudah berhasil menemukan suaminya" ungkap Romi.
Ela menatap wajah Romi dengan sangat serius. Hati dan pikirannya masih saja belum selaras. Hatinya mengatakan dia mempercayai Romi tapi akal dan pikirannya masih curiga.
"Percaya padaku Eeel.." bujuk Romi.
Ela menarik nafas panjang.
"Aku harap kali ini saja kamu tidak terbuka padaku Mas, lain kali jangan pernah kamu lakukan lagi. Aku yakin sebesar apapun permasalahan yang akan kita hadapi di masa yang akan datang jangan pernah sembunyikan apapun dariku. Walaupun sebuah kebenaran itu sangat menyakitkan, percayalah aku akan berusaha menerimanya. Saat menerima lamaran kamu, aku sudah menerima kamu seutuhnya Mas termasuk kisah masa lalu kamu. Sebelum kita menikah masa ada kesempatan untuk kamu mengatakan semua rahasia - rahasia di masa lalu kamu" pinta Ela.
"Tidak ada lagi El, tidak ada yang aku sembunyikan dari kamu. Percayalah padaku, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti tadi" jawab Romi.
"Baiklah.. aku akan beri kamu kesempatan" balas Ela.
"Terimakasih El.. terimakasih" ujar Romi.
Romi kini bisa bernafas lega. Dia memanggil pelayan dan memesan makanan. Ela terkejut melihat Romi memesan banyak makanan.
"Kamu belum makan?" tanya Ela terkejut.
"Iya tadi tidak sempat. Waktu semakin larut kasihan anak Klara masih terlalu kecil. Kami harus secepatnya menemukan suami Klara" jawab Romi.
"Tapi apa kamu selapar itu Mas sampai pesan makanan banyak banget" ujar Ela.
Romi tersenyum menatap gadis pujaan hatinya.
"Bukan hanya aku saja yang belum makan di sini. Kamu juga kan belum makan? Kata Riko seharian kamu mengurung diri di kamar. Pasti kamu melewatkan makan malam tadi" jawab Romi.
Seketika wajah Ela bersemu merah, dia tidak menyangka Romi begitu perhatian kepadanya.
Pelayan datang membawa semua pesanan Ela, mereka berdua makan malam bersama dengan suasana baru. Mereka berdua sama - sama merasa lega telah berhasil melewati cobaan pra berumah tangga. Semoga kelak mereka lebih kuat lagi dalam menghadapi covaa kehidupan ini bersama - sama.
.
.
BERSAMBUNG