
Perjalanan kapal pesiar mereka sudah selesai. Tiga playboy insaf beserta rombongan lainnya sudah kembali ke Hotel setelah berlayar tiga hari dua malam.
Kini mereka sudah kembali ke Hotel milik Bimo dan rencananya besok pagi mereka akan kembali ke Jakarta. Mereka semua sudah berada di kamar masing - masing untuk beristirahat.
Ada yang berbeda dengan Aril. Riko dan Romi dapat merasakan perbedaan itu. Aril jadi semakin pendiam dan suka melamun.
"Woi... kamu kesambet setan laut" goda Romi.
Romi memainkan sebelah matanya kepada Riko memberi isyarat. Melihat sahabat mereka seperti ini adalah hal yang tidak wajar. Mereka jadi khawatir apa yang sedang dipikirkan Aril sehingga dia menjadi seperti ini.
"Kamu kenapa Ril, kok dari tadi lebih banyak diam dan melamun. Ada masalah? kayaknya berat banget deh sampai seperti ini?" selidik Riko.
Aril menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Kalian janji gak akan bocorkan masalah ini dengan yang lain?" tanya Aril serius.
Riko dan Romi saling lirik.
"Tergantung" jawab Romi.
"Ya sudah kalau begitu gak jadi deh, mending aku pikirkan sendiri aja" ucap Aril dingin sehingga Riko dan Romi menganggap kalau Aril sedang ngambek.
"Gitu aja ngambek Ril, gak asik ah kamu gak bisa diajak bercanda" goda Riko.
"Aku memang sedang serius dan gak bercanda. Apalagi ngambek, bukan aku banget. Emangnya aku perempuan" ujar Aril.
Romi dan Riko kembali saling lirik. Mereka duduk tepat dihadapan Aril.
"Oke, kami janji tidak akan cerita pada siapapun" jawab Riko dengan tampang serius.
Aril menarik nafas panjang.
"Aku ditolak Bela" ungkap Aril.
Seketika Riko dan Romi saling pandang. Ingin sekali rasanya mereka meledek Aril tapi karena melihat wajah nelangsa Aril mereka tak tega mengejeknya.
"Kenapa Bela menolak kamu?" tanya Riko penasaran.
"Dia tidak punya perasaan istimewa padaku" jawab Aril sedih.
"Belum Ril, bukan tidak. Nanti dia pasti akan punya" hibur Riko.
"Bagaimana caranya?" tanya Aril putus asa.
"Aku tak menyangka pria seperti kamu akhirnya bertanya bagaimana cara menaklukkan hati seorang wanita? bukannya kamu ahlinya diantara kita bertiga?" tanya Romi.
"Aku bingung, rasanya semua sudah kulakukan untuk mencuri perhatiannya tapi dia seperti membentengi dirinya" jawab Aril.
"Dia menyukai pria lain?" tanya Romi.
"Dia sih jawabnya nggak tapi aku gak tau apakah itu jawaban jujur atau tidak. Tapi aku juga tidak melihat dia dekat dengan pria lain kecuali sepupu kamu itu Ko" jawab Aril kesal.
"Mereka kan cuma teman" sambut Riko.
"Tapi sepupu kamu itu menyukai Bela. Aku tau itu, Ela juga pernah cerita dan aku juga bisa melihat dan merasakan kalau anak ingusan itu menyukai Bela" balas Aril masih kesal.
"Kamu pakai ilmu tarik ulur Ril. Bukannya dulu kamu pernah ajarin aku seperti itu? Kamu sendiri sudah lakukan belum pada Bela?" tanya Romi.
Aril terdiam sesaat.
"Belum" jawab Aril.
"Ilmu apaan itu?" tanya Riko penasaran.
"Ilmu layang - layang, tarik ulur" jawab Romi.
"Oo.. ilmu memancing juga sama" sambut Riko
"Bisa juga" balas Romi.
"Tapi hati - hati nanti bisa putus. Layang - layang kalau anginnya kencang bisa putus. Tapi pancing juga kalau ikannya lincah atau airnya deras bisa putus" ujar Riko.
"Kalau soal itu Aril mah gak perlu diajarin lagi. Udah ngerti dia, dia kan pawangnya" sambut Romi.
"Tapi buktinya hampir putus asa dan patah hati" sindir Riko.
"Hampir itu masih belum walau sudah mendekati" balas Romi.
"Sial.. kalian ini teman lagi sedih malah diledekin" umpat Aril kesal.
"Biar kamu gak serius amat Ril. Si amat aja udah jalan - jalan, kamu masih diam di tempat" sambut Riko.
"Sementara kamu jauhin aja dulu Bela. Buat dia merasa kehilangan kamu, bila perlu kamu munculin orang ketiga biar dia ketar - ketir" pesan Romi.
"Kalau dia cuek aja?" tanya Aril.
"Berati dia memang bukan jodoh kamu hahahaha" sambut Riko.
"Sialan kalian.. malah ngedoain" umpat Aril semakin kesal.
"Yah setidaknya kamu sudah berusaha. Seperti aku dulu yang rasanya sudah mentok pada keluarga Dini tapi aku tetap berusaha dengan ikhlas. Kalaupun dengan usahaku Papa Dini tetap menolak berarti Dini bukan jodohku. Tapi alhamdulillah walau belum begitu kelihatan, pelan - pelan aku sudah diterima di rumah Dini. Meskipun saat aku datang Papa nya Dini langsung masuk kamar. Tapi sudah lebih baik, kalau dulu aku langsung diusir sama Papanya" ungkap Riko.
Aril terdiam mencoba mencerna isi cerita Riko. Kemudian dia menarik nafas panjang.
"Aku minta satu hal dari kalian" ujar Aril.
"Apaan tuh?" tanya Riko.
"Kalau kita sedang bersama - sama, tolong kalian bersikap biasa saja seperti sebelumnya. Seolah - olah kalian tidak tau kalau Bela sudah menolak aku. Aku takut nanti dia yang menjauhi aku. Kalau sampai itu terjadi jalanku bisa buntu" pinta Aril.
Romi menepuk bahu Aril untuk menberikan dukungan dan semangat.
"Kamu tenang saja Ril. Kami akan bersikap seperti yang kamu inginkan. Sudah.. sudah.. kamu jangan putus asa begitu. Kalaupun cinta kamu tidak kesampaian itu kan sudah biasa. Aku juga dulu pernah mengalaminya dan perasaan itu bisa hilang setelah bertahun - tahun. Anggaplah hal itu sudah biasa dialami manusia. Cinta tak bisa dipaksakan dan juga tidak bisa dibeli" pesan Riko.
"Tapi cinta bisa dirayu. Bukan merayu si gadis tapi rayulah Allah agar dia mau membalikkan hati Bela untuk menyukai kamu. Allah adalah Sang Maha pembolak balik hati Ril" nasehat Romi.
"Bijak sekali anda. Sejak kapan anda bisa berpikir seperti itu?" tanya Riko.
"Sejak aku berteman dengan calon mertuaku dulu, dua tahun yang lalu" jawab Romi.
"Hebat kamu Rom, bisa dekat sama calon mertua dulu baru anaknya. Tidak seperti aku" sambut Riko.
"Jalan hidup kita beda - beda Ko, aku seperti ini dan kamu seperti itu. Aril beda lagi, semua sudah ditempatkan Allah sesuai dengan porsi masing - masing. Dan yakinlah pasti itu terjadi karena kita bisa melewatinya" ungkap Romi.
"Anda semakin bijak saudara... aku salut padamu" sindir Riko.
"Hahaha.... " Romi tertawa karena malu.
Aril tampak diam dan mencoba memikirkan apa yang dikatakan para sahabatnya.
Mulai besok dia akan mulai menjalankan siasatnya. Pelan - pelan akan mulai menjauh dari Bela. Mudah - mudahan dengan begitu dia akan merasa kehilangan diriku dan menyadari bahwa aku berarti di dalam hatinya.
"Sudahlah... aku mau istirahat. Kepalaku pusing... " Ujar Aril sambil rebahan di tempat tidur.
"Waaaah... sepertinya ada yang tak bisa lagi menikmati indahnya malam di Labuhan Bajo ini" sindir Romi.
"Kamu gak mau makan malam bareng Ril?" tanya Riko.
"Aku tidak selera makan. Lebih baik aku tidur saja" jawab Aril.
"Ayolah Ril... Nanti kalau kamu makan sambil menatap wajah Bela pasti jadi lapar" goda Romi.
Aril menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya
"Sudahlah Rom.. yuk kita keluar. Semua sudah menunggu kita untuk makan bersama. Biar Aril nanti kita pesan kan saja room service" ujar Riko.
Romi dan Riko keluar dari kamarnya dan berjalan menuju restoran dimana seluruh keluarga berkumpul kecuali Refan, Kinan dan Salman. Mereka pergi menemui Mantan Mertuanya untuk melepas rindu dengan Naila.
"Lho kok cuma datang berdua. Aril mana?" tanya Bimo.
"Aril lagi gak enak badan katanya" jawab Romi.
"Bel, kamu urus dulu sana Bos kamu. Kasih dia makan dulu baru setelah itu kamu ikut makan bersama kami" perintah Bimo.
"Ba.. baik Mas" jawab Bela.
.
.
BERSAMBUNG