Playboy Insaf

Playboy Insaf
Tujuhpuluh



"Bela nanti siang temani saya bertemu dengan client di luar ya" perintah Aril saat dia masuk ke ruangan kerjanya pagi hari.


"Baik Pak" jawab Bela hormat.


Bela mengikuti Aril berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Ada yang harus saya siapkan Pak?" tanya Bela.


"Nggak ada. Kamu cukup bawa agenda saja. Siapa tau ada yang perlu di catat. Ini hanya makan siang bareng dengan relasi lama saya" Jawab Aril.


Aril duduk di belakang meja kerjany dan langsung menikmati kopi panas yang sudah disediakan Bela setiap hari di ruang kerjanya.


Kini Bela sudah semakin cekatan menjadi sekretaris Aril. Aril puas dengan cara kerja Bela yang selalu sigap dan cepat belajar. Hanya saja yang masih menjadi ganjalan di hati Aril sudah lebih dua bulan Bela bekerja di kantornya tapi Bela selalu bersikap profesional.


Bela jarang sekali bersikap santai dan biasa saja di hadapan Aril, walau hanya mereka berdua saja di ruangan kerjanya. Alasan Bela dia tidak mau karyawan lain melihat merek dekat, apalagi kalau sampai mereka tau Bela masuk ke perusahaan Aril karena adik sahabatnya Aril.


Bela menyerahkan berkas yang dari tadi dia pegang.


"Ini Pak hasil rapat kemarin" ujar Bela sambil menyerahkan lembaran hasil rapat bulanan Aril dan para bawahannya kemarin.


"Terimakasih Bel. Silahkan duduk" Aril mempersilahkan Bela duduk berharap Bela bisa lebih lama berada di ruangannya dan menemaninya bekerja. Bisa menatap wajah Bela yang cantik pasti akan memberikan semangat padanya untuk bekerja lebih giat lagi hari ini.


"Apa ada lagi yang ingin dibahas Pak? Saya belum selesai menyiapkan bahan rapat besok" jawab Bela.


"Tidak ada lagi sih tapi setidaknya kamu santai dulu. Pagi - pagi udah sibuk dan ketat banget wajahnya. Kalau begitu terus menerus nanti wajah kamu cepat tua lho" goda Aril.


"Saya tidak bisa main - main Pak kalau sedang bekerja" ujar Bela.


"Berarti kalau lagi istirahat bisa donk main - main?" tanya Aril.


"Tergantung" jawab Bela.


"Tergantung pada apa yang digantung?" goda Aril.


"Bapak sepertinya sudah keluar dari pembicaraan" balas Bela serius.


Bela langsung berdiri di hadapan Aril.


"Sepertinya tidak ada yang penting, saya pamit kembali ke meja saya ya Pak" ucap Bela.


Sambil menarik nafas panjang Aril pasrah menghadapi Bela kali ini.


Benar - benar sulit sekali menarik perhatian kamu Bel. Aku jadi mati gaya, rasanya sangat malu sekali pernah menyandang sebutan seorang playboy tapi gagal mendapatkan kamu. Batin Aril.


"Ya sudah kembalilah ke meja kamu" perintah Aril.


Bela berdiri dari tempat duduknya kemudian keluar dari ruangan Aril. Aril menghembuskan nafas dengan kesal.


Shiiit.. gagal lagi. Umpat Aril dalam hati.


Dengan kesal Aril mulai memeriksa laporan yang tadi diberikan Bela padanya.


*****


Sekitar jam sebelas siang Aril memanggil Bela melalui interkom.


"Bel, kamu sudah siap?" tanya Aril.


"Sudah Pak" jawab Bela.


"Yuk kita berangkat" ajak Aril.


"Baik Pak" balas Bela.


Bela segera mematikan layar monitornya, memasukkan agendanya ke dalam tas kemudian bersiap menunggu Aril keluar dari ruangannya. Tak lama Aril keluar dengan memakai jas lengkap.


Sebenarnya dimata Bela, Aril adalah pria yang tampan. Hanya saja karena sejak awal Bela tau kalau Aril adalah pria playboy Bela sengaja membentengi hatinya agar tidak tergoda dengan Aril.


Bukan tidak sering Aril menggoda Bela dengan kata - katanya. Memberikan perhatian kepada Bela tetapi Bela takut baper sehingga nantinya dia sendiri yang akan terluka.


Oleh sebab itu Bela sengaja membangun benteng antara dirinya dengan Aril. Walau sebenarnya Bela tau dari Kakaknya kalau Aril sudah berubah. Bahkan Aril dan teman - temannya termasuk kakaknya membuat satu kelompok untuk mengadakan pengajian rutin setiap minggu. Bela juga melihat tidak ada teman wanita Aril yang datang ke kantor seperti yang pernah Reni ceritakan atau teman - teman kantornya katakan.


Saat ini Aril dan Bela berjalan menuju mobil Aril.


"Gak ajak Pak Tarjo, Pak?" tanya Bela.


"Gak usah biar aku aja yang bawa" jawab Bela.


Aril dan Bela masuk ke dalam mobil. Aril segera menyalakan mobilnya dan mulai menjalankan mobil itu menuju lokasi yang telah di tentukan. Ditengah perjalanan tiba - tiba ponsel Aril berbunyi.


"Hallo ya saya sendiri. Apa meetingnya di batalkan? Saya sudah di jalan nih mau menuju ke sana? Oh.. ya udah gak apa - apa. Iya.. iya.. saya mengerti. Baiklah kalau begitu" ucap Aril.


Tak lama Aril menutup teleponnya. Bela yang ada disampingnya segera melirik dengan tatapan bertanya.


"Tiba - tiba pertemuannya di batalkan. Istri client saya tiba - tiba sakit. Sementara tempat sudah di pesan dan kita juga sedikit lagi sampai ke tempat tujuan. Kita lanjutkan aja ya, kita makan siang aja disana" ujar Aril.


"Kamu kok diam aja, keberatan?" tanya Aril.


"Nggak Pak, terserah Bapak saja" jawab Bela segera.


"Bel dimobil ini cuma kita berdua, gak ada orang lain lagi. Bisa gak kamu memanggil aku Mas seperti saat kita sedang bersama keluarga kamu" punya Aril dengan suara permohonan.


"Nanti kebiasaan Pak. Kita kan sedang dalam waktu kerja dan keluar juga untuk urusan pekerjaan. Jadi saya harus bersikap profesional" jawab Bela.


Aril menarik nafas panjang.


Sudah diingatkan berulang kali tapi Bela tetap bertahan. Gimana lagi ya caranya agar Bela mau memanggilnya Mas saat berduaan? Pikir Aril.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di Restoran mewah yang telah dipesan untuk Aril meeting bersama clientnya.


"Yuk Bel kita masuk" ajak Aril.


Bela berjalan disamping Aril menuju pintu masuk Restoran. Tiba - tiba dari kejauhan Aril melihat wanita sexy sedang berjalan menuju arah mereka.


A.. haaaa aku dapat ide nih. Sorak Aril sama hati.


"Bel, bisa minta tolong gak?" tanya Aril.


"Apa tuh Pak?" tanya Bela.


"Wanita yang ada di depan sana, yang sedang berjalan menuju arah kita adalah mantan penggemar saya. Saya gak suka sama dia tapi dari dulu dia seringkali mencoba mendekati saya. Nanti saat bersamanya tolong kamu ikuti permainan saya ya" pinta Aril.


"Permainan gimana Pak?" tanya Bela curiga.


"Waktunya tak cukup lagi untuk menjelaskan, saya tau kamu pintar. Kamu pasti mengerti apa maksud saya nanti" jawab Aril.


Tak lama mereka sudah berpapasan dengan wanita sexy itu.


"Hai tampaaaan" sapa wanita itu kepada Aril.


"Eh hai Via" balas Aril dingin.


"Sombong banget sekarang, udah gak pernah lagi main bareng kita. Kemana aja ganteng?" tanya wanita itu sambil berusaha menyentuh dagu Aril tapi Aril mengelak dan mendekat kepada Bela.


"Aku sedang sibuk" jawab Aril singkat.


"Ngapain ke sini?" tanya wanita itu tanpa memperhatikan keberadaan Bela.


"Seperti yang kamu tau, ngapain orang datang ke Restoran kalau bukan untuk makan?" Aril balik bertanya.


"Makan sama siapa?" tanya wanita itu tanpa sedikitpun melirik Bela.


"Ya lihat sendiri aku datang ke sini bareng siapa?" balas Aril.


"Wanita ini? Siapa wanita ini?" tanya wanita itu dengan nada mengejek.


"Dia calon istriku" jawab Aril.


Sontak Bela melirik ke arah Aril saat Aril menjawab seperti itu.


Jadi ini yang dimaksud Mas Aril untuk mengikuti semua permainannya. Batin Bela.


"Calon istri kamu? Wa.. wanita ini calon istri kamu? gak mungkin" tolak wanita itu.


"Iya kenapa gak mungkin?" Aril balik bertanya.


"Aku tau selera kamu seperti apa Ril... " jawab wanita itu.


"Kamu tau apa tentang aku, Via?" tanya Aril.


"Kamu suka wanita seperti aku Ril. Gak mungkin kamu melirik wanita seperti ini?" Wanita itu melirik Bela dengan tatapan mengejek.


"Kenapa gak mungkin? Yang punya mata aku, yang punya hati juga aku. Yang punya rasa juga aku. Suka - suka aku donk. Saat ini aku suka sama siapa itu urusanku, bukan hak kamu" jawab Aril.


"Yuk Yank" Aril menarik lengan Bela menjauh dari wanita itu.


"Hei Ril" cegah wanita itu dengan memegang tangan Aril.


Bela yang merasa tidak enak pada Aril tidak berbuat apa - apa mencoba untuk membantu Aril karena diawal tadi Aril sudah menyuruhnya untuk mengikuti permainan Aril.


"Hei Mbak, tau diri donk jadi wanita. Punya harga diri jangan murahan gitu. Kalau calon suami saya sudah nolak kamu terima donk, jangan gangguin urusan orang lain. Mbak mau jadi pelakor?" Bela mencoba membantu Aril.


Aril tersenyum tipis tapi dalam hatinya sudah bersorak senang karena ucapan Bela.


.


.


BERSAMBUNG