Playboy Insaf

Playboy Insaf
Seratus Empatpuluh Enam



Ela dan Bu Budi kembali dari dapur dengan membawa minuman untuk Romi dan Pak Budi. Ela menghidangkan nya untuk dua pria yang sangat dia sayangi.


"Pak, Mas Romi mau minta izin menginap di sini" ucap Ela setelah dia dan Bu Budi ikut duduk bergabung dengan Bapaknya dan juga Romi.


Ucapan Ela barusan membuat Bapak dan Ibu Ela terkejut.


"Tapi Pak Romi rumah kami yah seperti ini" ucap Pak Budi sungkan.


"Saya kan sudah pernah sebelumnya menginap di sini Pak. Ada yang ingin saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu" sambut Romi.


"Tentang apa?" tanya Pak Budi penasaran.


"Nanti malam aja ya Pak, kami kan baru sampai masak langsung disampaikan. Biar Mas Romi istirahat dulu. Nanti malam setelah santai baru ceritanya" potong Ela.


"Baiklah kalau begitu, berarti Pak Romi tidak menginap di hotel?" tanya Pak Budi.


"Saya rasa gak usah Pak, saya merasa lebih nyaman menginap di sini. Saya suka di sini" jawab Romi.


"Kalau begitu Ibu akan menyiapkan makan malam dulu ya" ujar Bu Budi.


"Gak usah repot - repot Bu, apa adanya saja. Saya gak mau Ibu jadi repot" ungkap Romi.


"Ah gak repot kok, hanya hidangan makan malam sederhana saja" jawab Bu Budi.


"Ela bawa koper Nak Romi ke kamar" perintah Pak Budi.


"Iya Pak" jawab Ela.


"Nak Romii silahkan istirahat di kamar dulu. Saya mau balik ke Hotel lagi, nanti sebelum maghrib saya akan kembali" ujar Pak Budi.


"Iya Pak" jawab Romi.


Romi dan Ela berjalan menuju kamar dan membawa koper mereka. Romi tidur di kamar Ela sedangkan Ela tidur di kamar Kakaknya.


"Pak, gak sopan ah panggil Pak Romi dengan panggilan Nak" tegur Bu Budi.


"Itu permintaan Nak Romi sendiri Bu. Bapak tidak bisa menolaknya" jawab Pak Budi.


"Ibu juga terkejut tadi saat mendengar Ela juga sudah merubah panggilannya kepada Pak Romi. Dulu kan seingat Ibu Ela panggil Bapak juga, sekarang mengapa berubah jadi Mas?" tanya Bu Budi.


"Bapak juga sudah penasaran dari tadi Bu. Mungkin karena Nak Romi bukan Bosnya Ela lagi. Tapi herannya kalau mereka sudah tidak bekerja di Perusahaan yang sama, mengapa mereka pergi bareng ke Surabaya?" Pak Budi semakin bingung.


"Apa juga ya Pak yang akan dibicarakan Pak Romi nanti malam kepada kita?" sambut Bu Budi.


"Sudahlah Bu, ngapain dipikirkan. Mending Ibu siapkan makan malam kita, Bapak mau balik ke Hotel untuk mengembalikan mobil. Setelah itu baru Bapak pulang lagi" ucap Pak Budi.


"Ya sudah hati - hati ya Pak" balas Bu Budi.


Pak Budi segera keluar dari rumah dan kembali ke Hotel sedangkan Bu Budi kembali ke dapur untuk mempersiapkan hidangan malam malam mereka bersama Romi nanti malam.


Sesuai perkataan Pak Budi, sebelum maghrib dia sudah sampai di rumah. Romi dan Ela sudah mandi dan duduk - duduk santai di teras depan rumah sambil menatap bangunan ruko yang masih dalam proses.


"Assalamu'alaikum.. " Pak Budi mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam" jawab Ela dan Romi.


Ela langsung mencium tangan Pak Budi seperti biasanya setiap kali Bapaknya pulang kerja.


"Bapak sudah pulang kerja?" tanya Romi.


"Sudah, Bapak mandi dulu ya Nak Romi keburu adzan takutnya gak sempat shalat ke mesjid" pamit Pak Budi


Pak Budi masuk ke dalam rumah untuk membersihkan tubuhnya.


"Mas apa nanti malam kita akan langsung menyampaikan niat kita ke Surabaya ini kepada Bapak dan Ibu?" tanya Ela.


"Lebih cepat lebih baik El, besok kita sudah bisa santai. Jalan - jalan keliling kota. Lusa kita kembali ke Jakarta" jawab Romi.


"Ya sudah terserah Mas saja" balas Ela.


Romi dan Pak Budi shalat maghrib ke mesjid sedangkan Ela dan Ibunya setelah shalat magrib di rumah langsung mempersiapkan hidangan makan malam untuk mereka berempat.


Setelah pulang dari mesjid Pak Budi dan Romi langsung menuju meja makan dimana Bu Budi dan Ela sudah menunggu.


"Wah wangi sekali Bu. Ibu masak apa?" tanya Romi.


"Ibu masak cah kangkung dan ikan gurami goreng Mas" jawab Ela.


"Enak tuh, mmm... aku jadi laper" ucap Romi.


Ela tersenyum melihat ekspresi Romi. Pak Budi dan Bu Budi menatap mereka berdua dengan tatapan penuh curiga. Tapi mereka tidak bisa berkata apa - apa lagi.


Mereka mengambil posisi duduk masing - masing. Dan mulai menikmati hidangan makan malam bersama. Setelah selesai makan Pak Budi dan Romi kembali ke ruang tamu sedangkan Ela masih sibuk membantu Ibunya di dapur.


"El" panggil Bu Budi.


"Ya Bu" jawab Ela sambil sibuk mencuci piring mereka makan tadi.


"Kamu kok sekarang panggil Mas sama Pak Romi? Gak sopan rasanya" tanya Bu Budi.


"Mas Romi itu temannya Mas Bimo, Mas Refan dan Mas Aril, Bu. Semua aku panggil Mas, masak sama Mas Romi aku panggil Bapak. Dia protes makanya sekarang aku panggolt dia Mas juga" ungkap Ela.


"Iya tapi kan gak enak kalau dengar teman - teman kamu di kantor" protes Bu Budi.


Ela tersenyum melihat kekhawatiran Ibunya.


"Ibu lupa ya? Aku kan tidak bekerja di Perusahaannya Mas Romi lagi" jawab Ela.


"Lantas ngapain kalian datang bareng ke Surabaya?" tanya Bu Budi penasaran.


Ela akhirnya selesai mencuci piring dan mengajak Bu Budi untuk menyusul Bapaknya dan Romi di depan.


"Kita ke depan aja yuk Bu, dengerin Bapak dan Mas Romi cerita nanti pasti Ibu tau tujuan kami datang ke Surabaya" ajak Ela.


Ela dan Bu Budi kemudian berjalan kedepan tampak Romi dan Pak Budi sedang asik ngobrol. Bu Budi duduk dekat suaminya sedangkan Ela duduk di dekat Romi.


"Nah karena semua sudah berkumpul, sebaiknya aku mulai cerita ya apa maksud dan tujuan aku dan Shela ke Surabaya" ucap Romi memulai pembicaraan mereka.


Tampak Pak Budi dan istrinya sedang menunggu penjelasan dari Romi dan Ela. Romi menarik nafas panjang dan mulai bercerita.


"Bapak ingat kan kisah awal pertemuan kita? Aku sedang mencari seoranh gadis dan aku sudah menemukannya. Ternyata dia adalah Shela. Dulu saat pertama kami bertemu Shela belum memakai jilbab tanpa sengaja dia bekerja di perusahaan aku atas rekomendasi Refan. Sejak saat itu aku berusaha mendekatinya termasuk mendekati Bapak sekeluarga. Hingga akhirnya Ela menerima perasaan saya. Kami berniat serius dan langsung meminta restu keluarga tapi kemarin sempat mendapat kendala dari Mama saya. Alhamdulillah sekarang semuanya sudah clear. Baru kami berangkat ke Surabaya untuk memint restu Bapak dan Ibu. Saya ingin melamar Shela dan serius ingin menikahinya. Saya harap Bapak dan Ibu bisa mengizinkannya dan memberikan restu kalian kepada kami" ungkap Romi.


Bapak dan Ibu Romi terlihat sangat terkejut ketika mendengarkan penjelasan Romi. Mereka saling pandang sambil menelan saliva dengan berat.


Apakah mereka akan mendapatkan restu dari Bapak dan Ibu Budi?


.


.


BERSAMBUNG