Playboy Insaf

Playboy Insaf
Duaratus Empatpuluh Sembilan



Riko, Dini dan Rihana bersiap - siap untuk tidur. Mereka tidur disatu tempat tidur yang sama karena tidak mungkin Rihana dibiarkan tidur sendiri di kamar sebelah. Kasihan dia masih terlalu kecil.


Akhirnya Riko dan Dini sepakat Rihana tidur bersama mereka. Rihana akan tidur di tempat tidur yang sama dimana Rihana tidur ditengah - tengah antara Riko dan Dini.


"Ante.. Ante.. aku mau cucu?" pinta Rihana sebelum tidur. Matanya tampak sudah sangat mengantuk.


"Kamu mau minum susu sayang?" tanya Dini penuh kasih sayang.


Rihana menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja tubuh kamu segendut ini. Selain kuat makan kamu juga kuat minum susu" komentar Riko.


Kini Rihana tidak lagi ketakutan berada di dekat Riko. Karena Riko sudah mulai berdamai dengan keadaan saat ini.


"Aku ngantuk tapi halus num cucu" ujar Rihana tampak sedih.


"Baiklah akan Tante buatkan susu untuk kamu ya sayang. Kamu tunggu di sini ya sama Om Riko" ujar Dini.


"Iya Ante" jawab Rihana.


Dini beranjak ke dapur untuk membuat susu Rihana. Kini hanya tinggal Riko dan Rihana berdua di kamar.


"Om toyong gayuk - gayuk beyakangku. Mama seyayu buat begitu kayau aku mau bobok" pinta Rihana lembut.


Riko merasa iba melihat sikap Rihana sepet ini. Naluri kebapakannya mulai muncul. Dengan pelan - pelan dia membelai punggung Rihana.


Dini yang baru datang dari dapur begitu senang melihat sikap Riko yang sudah mulai lunak kepada Rihana.


"Ini susu kamu sayang, ayo diminum" ucap Dini sambil memberikan botol susu milik Rihana.


Rihana langsung meraihnya dan meminum susu itu sampai habis. Sementara Riko tetap mengelus lembut punggung Rihana. Hingga akhirnya susu Rihana habis dan dia pun tertidur.


"Gampang banget tidurnya?" ucap Dini.


"Itu karena dia sudah sangat mengantuk sayang" jawab Riko.


"Tidak sulit untuk mengurus dan mengasuhnya Mas. Dia juga anak yang pintar, tidaj cengeng dan mandiri. Mungkin dia sudah dipersiapkan sejak awal oleh Mbak Hana. Mungkin juga dia dewasa karena keadaan. Maklum Mamaknya kan singel Mom" ucap Dini.


Dini membelai rambut Rihana dengan lembut.


"Kasihan dia Mas, dia tidak punya dosa apapun" ucap Dini.


Dada Riko terasa semakin sakit. Kalau seandainya Rihana ini memang putrinya Riko melihat dengan kepala sendiri besarnya dosa yang telah dia perbuat dulu.


"Kalau dia memang anakku, alangkah besarnya dosaku yank. Aku sudah melakukan zina, mengabaikan keadaannya, tidak bertanggungjawab pada Ibunya hingga membiarkan mereka hidup berdua seperti ini" ucap Riko tampak sedih.


"Masih ada waktu dan kesempatan untuk menebusnya Mas" sambut Dini.


"Caranya?" tanya Riko bingung.


"Sayangi dia, besarkan dia dengan baik. Didik dia jadi anak solehah. Dan semoga kelak doanya bisa menyelamatkan Mas dari api neraka" jawab Dini.


Tanpa Riko rencanakan air matanya mengalir dari sudut matanya.


"Aku merasa sangat berdosa sekali yank. Aku pria brengsek yang tidak pernah memikirkan dampak dari apa yang aku lakukan dulu" Riko mengumpat dirinya sendiri.


"Kamu pria hebat Mas, Allah sayang pada kamu sehingga Allah masih beri kamu waktu untuk bertaubat dan memberi kamu kesempatan untuk memperbaiki diri" ujar Dini.


"Bolehkan aku menyayanginya yank?" tanya Riko.


Dini tersenyum mendengar pertanyaan Riko.


"Boleh.. boleh banget. Walau belum pasti dan jelas dia ini akan kandung kamu atau tidak setidaknya kamu menyayanginya sebagai anak kecil yang tak berdosa Mas" jawab Dini bijak.


Riko menarik tangan Dini dan menciumnya.


"Kan sudah aku katakan Mas, aku sudah siap menerima masa lalu kamu. Aku siap menerima anak ini tapi hanya anak ini Mas. Kalau kamu ingin kembali pada Ibunya aku tidak siap. Silahkan lepaskan aku dulu ba... " Riko menutup bibir Dini dengan jarinya.


"Tidak sayang.. Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya butuh kamu, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan kamu" potong Riko.


Dini tersenyum kemudian menatap Riko dan Rihana bergantian.


"Sebenarnya anak ini tidak mirip dengan kamu. Dia lebih mirip dengan Mbak Hana. Lihatlah warna kulit kalian sedikit berbeda. Rambut kalian juga. Rambut kamu sedikit ikal sedangkan rambut Rihana lurus. Mata Rihana juga cipit sedangkan mata kamu besar. Hidung Rihana juga tak semancung hidung kamu. Bibir kalian juga berbeda, bibirnya tipis sedangkan kamu sedikit tebal" ucap Dini.


"Apakah itu artinya dia bukan anakku?" tanya Riko.


"Aku tidak bisa mengatakan seperti itu Mas. Memang tidak semua anak bisa mirip Papanya. Bisa saja mirip Mamanya atau keluarga Mamanya. Biarlah kita tetap menunggu hasil DNA kamu saja" jawab Dini bijak.


"Baiklah kalau itu yang kamu katakan. Mari kita tidur sudah malam. Aku sudah lelah dengan semua ini dan ingin istirahat sejenak. Besok waktu libur kita juga akan terganggu oleh anak ini" ucap Riko.


"Bukan terganggt Mas malah besok waktu libur kita akan diisi oleh keberadaan Rihana di rumah kita. Pasti akan lebih ramai ketimbang kita berdua saja" bantah Dini.


"Yaaah terserah kamu saja sayang" balas Riko.


Riko dan Dini bersiap untuk tidur. Tak lama kemudian mereka berdua juga sudah tidur lelap disamping Rihana. Hingga waktu pagi tiba.


Seperti biasa Dini selalu terbangun sebelum adzan subuh. Dia melaksanakan shalat tahajjud terlebt dahulu baru membangunkan Riko.


"Mas.. Maaaas... bangun.. " ucap Dini.


"Mmm.. sebentar lagi sayang" sahut Riko masih dengan mata terpejam.


"Sudah adzan Mas, yuk kita shalat" ajak Dini.


Riko segera membuka matanya dan melihat Dini sudah memakai mukena.


"Apakah kamu bidadari yang Allah utus untuk membangunkanku?" tanya Riko sambil menatap Dini.


"Masih pagi udah gombalin aja" sambut Dini tersenyum.


"Habisnya kamu cantik banget sayang" jawab Riko.


"Udah bangun sana, terus bersih - bersih dan wudhu. Aku akan siapkan semua pakaian kamu" perintah Dini.


"Baik istriku yang cantik, bidadari surga" jawab Riko.


Dini hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Riko bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Dini menyiapkan pakaian Riko untuk shalat.


Setelah itu mereka kemudian shalat subuh berjamaah. Usai shalat Dini segera bergegas hendak ke dapur.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Riko bingung.


"Aku mau buatkan susu untuk Rihana Mas" jawab Dini.


"Rihana masih tidur" ucap Riko sambil melirik Rihana yang masih nyenyak tidur di atas ranjang mereka.


"Dulu Yoga anaknya Mbak Anita kalau nginap di rumah Papa seusia Rihana. Pagi - pagi dia pasti akan merengek minta susu. Jadi sebelum Rihana bangun aku akan siapkan botol susunya" ujar Dini.


Dini segera keluar dari kamarnya kemudian bergegas menuju dapur. Riko menatap kepergian istrinya.


Kelihatannya kamu memang sudah siap menjadi seorang Ibu sayang. Kamu bisa begitu sigap melakukan aktivitas seorang wanita yang sudah mempunyai anak. Apakah memang apa yang kita lakukan ini baik untuk rumah tangga kita? Mungkin dengan adanya Rihana kesedihan dan keinginan kamu memiliki anak teralihkan. Kamu terlihat sangat menikmati sekali mengurus Rihana dari tadi malam. Batin Riko.


.


.


BERSAMBUNG