
"Oeeeek.... oeeeek.... " terdengar suara tangisan anak bayi.
Dokter langsung menyambutnya dan mengangkat bayi itu.
"Alhamdulillah anak Bapak dan Ibu perempuan.
" Alhamdulillah ya Allah" ucap Aril haru.
"Dooook aku mules lagi" teriak Bela.
"Baik Bu ikutin intruksi saya seperti tadi ya... " sambut Dokter.
Bela mulai menarik nafas panjang dan kembali mengeden.
"Oeeeeek... oeeeek... " terdengar kembali suara tangisan bayi lagi.
"Waaaaah selamat Pak Bu... anak kedua kalian laki - laki" sambut Dokter.
"Oh Ya Allah... Alhamdulillah.... " ucap Bela.
"Alhamdulillah ya Allah .. apakah kedua anakku sehat Dok?" tanya Aril.
"Keduanya sehat Pak" jawab Dokter.
"Kamu dengar sayang anak kita dua - duanya sehat" ucap Aril memberikan semangat kepada Bela.
"Terimakasih sayang terimakasih.. kamu sangat hebat. Kamu wanita kuat" sambung Aril.
Dokter segera menyelesaikan proses lahiran Bela. Sedangkan anak - anak Bela dan Aril di alihkan ke dokter anak. Setelah mereka dibersihkan Aril dipersilahkan untuk mengadzankan anak - anaknya.
Setelah selesai mengadzankan anak - anaknya Aril keluar dari ruang bersalin.
"Riiiil gimana? Bela sudah melahirkan?" tanya Mama Aril tak sabar.
"Alhamdulillah sudah Ma. Mereka bertiga sehat - sehat" jawab Aril senang.
"Alhamdulillah" sambut Papa dan Mama Aril.
"Cucu kami laki-laki atau perempuan Ril?" tanya Papa Aril.
"Keduanya Pa" jawab Aril.
"Sepasang?" tanya Papa Aril terkejut
"Iya" angguk Aril sambil tersenyum.
"Ya Allah sudah sempurna semua.. terimakasih ya Allah.. Alhamdulillah" ucap Papa Aril.
"Mana mereka? Mama mau lihat cucu Mama" pinta Mama Aril.
"Di ruangan bayi Ma" jawab Aril.
"Bela dimana?" tanya Papa Aril.
"Bela masih di ruang bersalin. Papa Mama ke ruangan bayi aja biar aku temani Bela sampai nanti Bela sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inap. Oh iya Bimo dan Bapak Ibu sudah dikabari Pa?" tanya Aril.
"Sudah - sudah.. ternyata mertua kamu sudah ada di Jakarta pagi ini. Mereka mau buat kejutan untuk Bela datang lebih awal. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit" jawab Papa Aril.
"Kalau begitu biar jadi kejutan untuk Bela Pa. Nanti kalian semua tunggu di ruangan rawat inap saja ya bersama kedua anak - anakku" ujar Aril.
"Baik, kami ke ruangan bayi dulu ya" sambut Papa Aril.
Aril kembali ke ruangan bersalin. Bela sudah selesaikan dibersihkan dan sedang pemulihan pasca lahiran. Satu jam kemudian baru bisa pindah ke ruangan rawat inap.
Aril mengiringi tempat tidur Bela yang sedang di dorong oleh beberapa perawat menuju kamar rawat inap mereka. Saat mereka masuk ternyata kedua orang tua Bela sudah ada bersama Bimo dan Reni. Mereka sedang rebutan menggendong kedua bayi kembar Aril dan Bela.
"Bapak Ibu... kalian kok bisa sudah sampai?" tanya Bela terkejut.
"Kemarin perasaan Ibu gak enak, kami langsung terbang ke Jakarta. Rencananya pagi ini mau ke rumah kalian eh rupanya udah dapat berita gembira duluan" jawab Bu Akarsana.
"Mas, Bel.. siapa nama anak cantik dan ganteng ini?" tanya Reni.
Bela melirik Aril suaminya.
"Kamu aja deh Mas yang bilang" ucap Bela.
"Putri kami sebagai anak pertama dimulai dari abjad A bernama Aribela Ekaputra sedangkan putra kami, anak kedua dengan abjad B bernama Beril Ekaputra" jawab Aril.
"Wah perpaduan nama kalian ya.. Aribela dipanggil apa donk? Bela itu namanya, Ela nama Tantenya. Kalau yang cowok pasti Beril donk?" tanya Reni.
"Ara aja deh, lebih enak manggilnya" jawab Aril.
"Ara... cantik, secantik wajahnya. Ara sayaaaang kenalin ini Tante sayaaang" ucap Reni sambil menggendong anak perempuan Aril dan Bela.
"Kalau ini Si Beril... tapi kok Mama merasa dia akan seusil kamu ya Ril?" tanya Mama Aril.
"Kenapa gitu Ma?" tanya Aril penasaran.
"Dari tadi kok dia suka cari - cari perhatian seperti kami" jawab Mama Aril.
Yang lain semua tertawa mendengar ocehan Papa dan Mama Aril.
"Para kaum lelaki di mohon perhatiannya ya.. Baby A dan Baby B mau belajar Asi. Silahkan keluar dulu" perintah perawat.
"Tarmasuk aku juga Sus?" tanya Aril polos.
"Bapak Papanya Baby A dan Baby B kan?" tanya perawat.
"Iya" angguk Aril.
"Bapak ya nggak donk Paaaak.. kan yang nyusui istrinya" ujar Perawat.
"Dia mendadak sopan tu Sus. Padahal aslinya pengen rebutan sama anaknya" potong Papa Aril.
"Tau aja Papa" sambut Aril sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Para lelaki keluar dari ruangan Bela karena Baby A dan Baby B ingin belajar Asi. Mereka menunggu di teras depan kamar Bela.
Tak lama para sahabat mereka sudah datang. Ela dan Dini juga datang walau perut mereka sudah mulai membesar.
"Kok pada di luar semua?" tanya Romi.
"Anak - anakku lagi nyusu" jawab Aril.
"Kalau begitu kami boleh masuk kan Mas?" tanya Kinan.
"Silahkan Nan" jawab Aril.
Kinan, Ayu, Dini dan Ela masuk ke ruangan rawat inap.
"Kamu harus siap - siap Ril" ucap Refan.
"Siap - siap apa?" tanya Aril bingung.
"Siap - siapa puasa" jawab Bimo.
"Puasa lagi?" tanya Aril terkejut.
"Ya iyalah wong istri kamu masih nifas" jawab Bagus.
"Oooh itu, gampang lah seminggu juga kelar" jawab Aril.
"Seminggu enda*mu... " bagus spontan mukul lengan Aril.
"Lah sama kan seperti datang bulan?" tanya Aril.
"Makanya bro kalau dengar pengajian itu harus lengkap dari awal sampai akhir. Jangan setengah - setengah. Gini nih kalau kebanyakan makan gorengan pas pengajian. Nifas itu empat puluh hari" ucap Refan.
Sontak Aril terdiam dan menelan salivanya.
"Jangan becanda Fan, lama amat" protes Aril.
"Ya iya laaah.. emang empat puluh hari" sambung Bagus.
"Aku harus puasa selama itu?" tanya Aril.
"Iya dan dua tahun harus puasa nyusu.. jangan saingan kamu sama anak - anak kamu" Jawab Refan.
"Iya bisa - bisa baby A dan baby B bukan manggil Papa tapi bro" potong Bagus.
"Hahaha... " tawa yang lainnya pecah mendengar ucapan Bagus.
Makin pahit rasanya. Batin Aril.
"Kan udah Papa pesanin sama kamu. Jadi orang tua itu harus belajar sabar. Nah sekarang kamu sudah jadi orang tua. Praktekkan donk apa yang selama sembilan bulan ini kamu pelajari" ucap Papa Aril yang tiba - tiba ikut nimbrung.
"Tapi selama sembilan bulan aku bebas hambatan Pa, gak ada puasa - puasa. paling awal - awal hamil doank puasanya. Setelah itu berjalan muluuuus" jawab Aril.
"Itulah hidup tak selamanya mulus. Saat kamu dapat jalanan yang bagus kamu harus bersyukur nah kalau giliran jalanan rusak harus kudu bersabar. Nanti juga akan terlewati dan jalanan akan kembali mulus" pesan Papa Aril.
"Iya Pa" jawab Aril dengan manut.
"Kaciaaaan deh lo Ril" potong Romi.
"Kamu juga sama, sebentar lagi Ela juga akan lahiran. Nikmatilah kalau saat ini sedang berjalan di jalan yang mulus karena sebentar lagi akan datang jalan bebatuan bro" pesan Bagus.
Giliran Romi yang menelan salivanya.
Pahit amat yak... Batin Romi.
.
.
BERSAMBUNG