Playboy Insaf

Playboy Insaf
Delapanpuluh Empat



"Maaf Pak lama menunggu" ucap pria itu kepada Romi.


"Tak apa Pak, kami juga baru sampai kok" jawab Romi dengan ramah.


"Ba... pak?" panggil Ela.


"Ela.. kamu pulang? Kok gak ngabari Bapak?" tanya pria yang ada di hadapan Romi.


Romi terkejut melihat pria yang menjemputnya mengenal Ela.


"Bapak dan kamu saling kenal?" tanya Romi bingung.


"Ini anak bungsu saya Pak, sudah beberapa bulan ini dia kerja di Jakarta dan baru kali ini pulang. Mana gak kasih kabar lagi" jawab Pak Budi yang tak lain adalah supir yang menemani Romi mencari Ela beberapa tahun lalu dan ternyata Pak Budi adalah Bapaknya Ela.


"Bapak.. Bapaknya Cishelaaa?" tanya Romi gak percaya.


"Iya Pak.. Bapak kenal sama anak saya? Dan mengapa kamu dan Pak Romi bisa bersama - sama? kalian saling kenal?" tanya Pak Budi.


"Pak Romi adalah Bos Ela di Jakarta Pak. Ela bekerja di perusahaan Pak Romi dan saat ini kami sedang ada tugas di Surabaya" jawab Ela.


Ya Tuhan... orang yang membawaku kemana - mana untuk mencari Cishela dua tahun yang lalu ternyata adalah Bapaknya Ela. Mengapa hidup ini penuh lika - liku ya? Coba kalau aku tau dari dulu pasti sudah lama aku ketemu Cishela. Aku gak perlu galau selama dua tahun karena rasa penasaran. Batin Romi.


"Pak Romi Bosnya kamu? Benar Nduk?" tanya Pak Budi tak percaya.


Ela menganggukkan kepalanya ke arah Pak Budi.


"Iya Pak, Pak Romi adalah Bosnya Ela di Jakarta" jawab Ela meyakinkan Bapaknya.


"Ya sudah Pak Romi mari saya antar ke Hotel" ajak Pak Budi.


Pak Budi segera ingin meraih kopernya Romi untuk dimasukkan ke bagasi.


"Jangan Pak, biar sendiri saja" cegah Romi.


"Gak apa - apa Pak Romi sudah tugas saya" jawab Pak Budi.


"Gak.. gak usah biar saya sendiri tolong Bapak bukakan aja bagasinya" pinta Romi.


Pak Budi kemudian membuka bagasi mobil, Romi dan Ela kemudian memasukkan koper mereka ke dalam bagasi.


Sial.. mana mungkin aku memperlakukan calon mertua seperti itu. Senakal - nakalnya aku, aku juga tau sopan santun. Batin Romi.


Pak Budi membukakan pintu belakang untuk Romi duduk dan mempersilahkan Romi masuk. Tapi Romi malah duduk di depan tepat disamping Pak Budi.


"Santai aja Pak, anggap saja saya keluarga bukan tamu" ujar Romi.


"Ah Pak Romi bisa saja" balas Pak Budi.


Ela masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang.


"Kita langsung ke Hotel?" tanya Pak Budi.


"Jangan.. kita antar Ela aja Pak ke rumah Bapak sekalian saya juga mau kenal dengan keluarga Bapak" jawab Romi.


Ela dan Bapaknya saling lirik.


"Gak salah Pak?" tanya Ela.


"Ya gak salah donk, lagian hari ini masih santai, besok baru kita mulai kerja" jawab Romi.


"Gimana El?" tanya Pak Budi.


"Ya sudah Pak kita ke rumah aja dulu" jawab Ela.


"Baiklah" sambut Pak Budi.


Mobil melaju menuju rumah Ela. Sekitar satu jam mereka sudah sampai di rumah Ela. Rumah sederhana namun terlihat sangat asri.


Ela mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi mobil dan berjalan menuju ke rumahnya. Pak Budi mengetuk pintu rumahnya dan tak lama kemudian pintu terbuka muncullah istrinya.


"Lho Bapak sudah pulang, kok cepat?" tanya istrinya terkejut melihat kehadiran suaminya.


"Bapak bawa tamu bu" jawab Pak Budi.


"Tamu, siapa?" tanya Bu Budi.


Pak Budi bergeser dari tempatnya agar istrinya bisa melihat putri bungsu mereka.


"Ela... kamu pulang nduuuk?" ucap wanita itu terkejut.


Bu Budi langsung memeluk putrinya dan menangis haru.


"Kamu kok gak kasih kabar kalau mau pulang?" tanya Bu Budi.


"Ela mau buat kejutan Bu" jawab Ela lembut.


"Ayo Pak Romi silahkan masuk ke rumah kami yang kecil ini" ujar Pak Budi.


Bu Budi langsung melirik ke arah pria asing yang datang ke rumahnya bersama suami dan putrinya.


"Siapa Pak?" tanya Bu Budi.


"Ini Pak Romi Bu, Bosnya Ela dari Jakarta" jawab Ela.


"Eh maaf Pak saya tidak perhatikan dari tadi, silahkan masuk" ucap Bu Budi dengan hormat.


Romi langsung menjabat tangan Bu Budi dengan hormat sehingga membuat Bu Budi merasa sungkan karena tingkah laku Bosnya Ela yang begitu baik.


"Silahkan duduk.. maaf kalau rumah kami tidak nyaman" ucap Bu Budi.


"Nyaman kok Bu, sejuk ya di sini" jawab Romi.


Memang pekarangan rumah Ela penuh dengan tanaman sehingga rumah Ela jadi terasa lebih sejuk. Romi duduk di kursi ruang tamu rumah Ela.


Ela masuk ke kamarnya untuk menyimpan kopernya. Setelah itu keluar lagi dan berjalan menuju dapur.


"Kamu mau ngapain nduk?" tanya Bu Budi.


"Mau buat minum Bu untuk Pak Romi" jawab Ela.


"Biar Ibu saja, kamu kan masih capek dari perjalanan jauh. Kamu istirahat saja" sambut Bu Budi.


"Sana temani saja Bosmu itu di depan" perintah Ibunya Ela.


Ela berjalan kembali menuju ruang tamu.


"Sudah lama Pak tinggal di sini?" tanya Romi.


"Sejak menikah Pak Romi. Ini adalah rumah peninggalan almarhum mertua saya. Kebetulan istri saya anak tunggal jadi kami yang tinggal disini. Semua anak - anak saya lahir di rumah ini" jawab Pak Budi.


"Berarti Ela juga lahir di sini ya?" tanya Romi memastikan.


"Iya, Ela lahir dan besar di rumah ini" jawab Pak Budi.


Romi tampak sedang memperhatikan sekeliling rumah orang tua Ela.


"Pak Romi setelah dua tahun yang lalu gak pernah datang ke sini lagi ya?" tanya Pak Budi.


"Nggak Pak, saya sibuk di Jakarta. Untung kemarin waktu saya mau kesini teringat Bapak dan masih menyimpan nomor Bapak jadi langsung saja saya hubungi" jawab Romi.


"Sudah ketemu gadis yang Pak Romi cari?" tanya Pak Budi.


"Sudah.. baru saja.. Ternyata dunia itu sempit. Saya mencari - cari dia sampai ke Surabaya eh gak taunya dianya datang sendiri ke Jakarta" balas Romi.


"Waah itu artinya jodoh Pak Romi" sambut Pak Budi.


"Aamiin.. mudah - mudahan ucapan Bapak jadi kenyataan" jawab Romi.


"Pasti senang ya akhirnya ketemu juga orang yang Bapak cari. Kalau ingat dulu gimana kerja kerasnya Bapak mencarinya selama seminggu keliling kota Surabaya, saya berpikiran pasti gadis itu orang yang sangat berarti dalam hati Bapak sehingga sampai segitunya Bapak mencari dia" ujar Pak Budi.


"Gadis itu banyak membawa perubahan dalam hidup saya. Yang jelas perubahan itu membawa kebaikan" ungkap Romi.


"Berarti dia gadis yang baik Pak Romi" sambut Pak Budi.


"Benar Pak... Bapak benar, gadis itu gadis yang baik dan sangat menyayangi keluarganya" jawab Romi.


"Kalau gadis itu sayang pada keluarganya pasti dia akan menjadi istri yang baik Pak Romi. Susah lho dapat gadis seperti itu?" ucap Pak Budi.


"Ya makanya Pak saya harus jauh - jauh mencarinya" sambut Romi.


"Jadi sudah kelar semuanya?" tanya Pak Budi.


"Kelar apanya Pak?" Romi balik bertanya.


"Perasaan Bapak dan gadis itu" jawab Pak Budi.


"Belum Pak, saya masih berusaha pendekatan dengan dia dan keluarganya. Yah mudah - mudahan dalam waktu dekat saya bisa meluluhkan hatinya" ungkap Romi.


"Saya do'ain semoga Bapak berhasil" sambut Pak Budi.


"Aamin.. makasih ya Pak" jawab Romi.


Kalau Bapak tau gadis itu adalah putri kesayangan Bapak, apakah Bapak akan merestuinya? tanya Romi dalam hati.


.


.


BERSAMBUNG