
Pluuuk.... Dini jatuh ke lantai. Rihana dan Mama Riko terkejut melihatnya.
"Anteeeeee" teriak Rihana.
"Dini.... Papa toloooong Dini pingsan Paaa.. " teriak Mama Riko.
Papa Riko dan supir berlari menghampiri mereka.
"Ayo Mang kita bawa ke dalam" ajak Papa Riko.
Dini dibawa langsung ke kamar Riko dulu. Papa Riko langsung sigap menghubungi Dokter.
"Tolong Dok datang ke rumah saya segera, menantu saya pingsan" pinta Papa Riko.
Mama Riko sibuk mengambil minyak angin untuk membuat Dini segera sadar.
"Anteeee... Aku atuuuut.. ante janan bobok sepeyti Mama... " Rihana mulai menangis.
Sepertinya Rihana masih ingat saat Mamanya terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur rumah sakit.
"Kamu jangan nangis ya sayang... Ante Dini gak apa - apa kok. Ante cuma pingsan eh bobok sebentar aja" jawab Mama Riko berusaha menenangkan Rihana.
"Pa telepon Riko" ucap Mama Riko kepada suaminya.
"Oh iya Papa sampai lupa" sambut Papa Riko.
Pak Wardhana langsung melakukan panggilan kepada Riko.
"Assalamu'alaikum Pa, Dini dan Rihana sudah sampai rumah kan?" tanya Riko memulai pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam. Sudah, kamu sudah sampai mana?" tanya Papa Riko.
"Aku sudah mau sampai kantor, kenapa Pa?" tanya Riko penasaran.
"Kamu pulang aja ke rumah Papa. Dini barusan pingsan" ungkap Papa Riko.
"Apa, Dini pingsan? Ba.. baik Pa.. aku akan segera ke rumah Papa" jawab Riko.
Riko langsung putar balik ke arah rumah Papa nya. Saat Riko sampai di rumah orang tuanya ternyata dokter sedang memeriksa Dini.
Dini sudah sadar tapi masih lemah terbaring di atas tempat tidur.
"Bagaimana Dini Pa?" tanya Riko panik.
"Sudah sadar, sedang diperiksa dokter di kamar" jawab Papa Riko.
Riko berlari menuju kamarnya.
"Oooom Ante jatuh" sambut Rihana saat melihat Riko muncul.
"Iya sayang, makasih kamu udah jagain Tante ya.. " jawab Riko.
Riko segera mendekati Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Riko ingin tau.
Dokter tersenyum menatap Riko.
"Selamat ya Pak, Bu.. istri Bapak sedang hamil" ucap Dokter tersebut.
"A.. Apaaaa? istri saya hamil?" tanya Riko.
Riko dan Dini saling tatap dan saling mengunci pandangan mereka. Air mata Dini langsung mengalir, sedangkan mata Riko berkaca - kaca.
"Alhamdulillah ya Allah.." ucap Mama Riko.
"Ada apa?" tanya Papa Riko yang baru masuk ke dalam kamar.
"Dini hamil Pa" jawab Mama Riko.
"Alhamdulillah" sambut Papa Riko.
"Yank... kamu hamil... kamu hamil yank" ucap Riko langsung memeluk Dini.
Mereka menangis sambil saling berpelukan.
"Alhamdulillah ya Allah.. KAU mengabulkan doa kami" ucap Dini.
"Alhamdulillah ya Allah... istriku akhirnya hamil" ucap Riko dengan penuh suka cita.
Setelah itu Dini bertanya kepada Dokter yang menjaga.
"Tapi Dok sejak pagi saya merasa kram di perut bagian bawah, saya juga pusing dan mual hingga akhirnya tadi saya pingsan. Gejalanya hampir sama seperti saya kalau mau datang bulan?" tanya Dini ragu.
Dia memang sangat senang mendengar berita yang disampaikan dokter tapi dia juga takut kecewa.
"Pusing dan mual itu biasa memang di trimester pertama ibu hamil. Kalau kram perut bagian bawah itu artinya ada kontraksi. Saat hamil muda sebenarnya dilarang atau harus berhati - hati kalau berhubungan intim. Bisa membuat kontraksi pada bayi yang ada di dalam. Makanya trimester pertama kebanyakan ibu hamil dilarang berhubungan intim. Untuk lebih jelasnya lebih baik Bapak dan Ibu kunjungi praktek dokter kandungan. Nanti akan diperiksa dengan jelas dan akan diberi resep penguat kandungan" jawab Dokter menjelaskan.
"Baik Dok, akan saya ingat. Bila perlu selama istri saya hamil saya akan berpuasa" sambut Riko.
"Yakin kamu sanggup?" tanya Papa Riko menyindir.
Riko menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya gak tau juga Pa, sanggup atau tidak. Belum pernah di coba" jawab Riko.
Papa dan Mama Riko tersenyum melihat tingkah putra mereka. Mereka sangat bahagia karena akan mendapatkan cucu lagi.
"Iya Dok, siap.. saya akan menjaga istri saya dua puluh empat jam" jawab Riko tanggap.
"Ante kenapa Oma?" tanya Rihana.
"Sebentar lagi kamu akan punya adek sayang" jawab Mama Riko bahagia.
"Adek?" tanya Rihana bingung.
"Iya" sambut Bu Wardhana.
"Mana adeknya?" tanya Rihana ingin tau.
"Sini sayang" panggil Riko.
Rihana mendekat pada Riko dan Dini.
"Adeknya masih di dalam perut Tante, nanti tunggu perut Tante besar baru adeknya keluar" jawab Riko menjelaskan.
"Ooo" sahut Rihana bingung.
"Kalau begitu terimakasih banyak dok, atas kedatangannya" ucap Papa Riko.
Dokter, Papa dan Mama Riko keluar dari kamar Riko.
"Bagaimana perasaan kamu sayang?" tanya Riko.
"Masih pusing Mas" jawab Dini.
"Kalau mual dan mau muntah panggil aku ya. Aku akan temani kamu, aku gak mau kamu kenapa - kenapa" sambut Riko.
"Iya Mas" jawab Dini.
"Rihana kamu mau gak Om kasih tugas?" tanya Riko.
"Apaan Om?" tanya Rihana penasaran.
"Kamu mau jadi dokter gak? seperti dokter tadi?" tanya Riko.
"Mau.. mau.. Om" sahut Rihana cepat.
"Nah mulai hari ini kamu Om angkat jadi dokternya Tante Dini ya.. Kamu jagain Tante Dini, gimana?" tanya Riko lagi.
"Oce oye.. " balas Rihana
Dini membelai lembut kepala Rihana. Riko tersenyum bahagia menatap wajah suaminya.
"Makasih sayang.. makasih. Aku janji akan menjaga kamu dan akan sabar berpuasa berapa lama dokter perintahkan. Aku tidak akan seperti Aril dan Romi" janji Riko.
Dini tersenyum mendengar janji suaminya.
"Aku yang harusnya berterimakasih pada kamu Mas. Kamu begitu sabar jadi suami, tidak pernah sekalipun menuntut dan membahas kelemahanku" sambut Dini.
"Eh iya aku dapat kabar gembira dari pengacara" ucap Riko yang baru teringat.
Tadi saat berangkat ke kantor Pengacaranya menelepon, memberi kabar kalau mereka sudah berhasil dan sah secara negara mengadopsi Rihana.
"Kabar gembira apa Mas?" tanya Dini penasaran.
"Kita sudah sah menjadi Papa dan Mamanya Rihana" jawab Riko senang.
"Oh ya?" tanya Dini tak kalah senang.
"Iya, hari ini kita dapat dua kebahagiaan dan dua - duanya kabar tentang anak. Ini anak pertama kita, dan ini anak kedua kita" jawab Riko sambil bergantian mengelus lembut kepala Rihana kemudian perut Dini.
Dini menatap wajah Rihana.
"Sayang kamu mau punya adek kan?" tanya Dini lagi pada Rihana.
"Mau donk Ante" jawab Rihana.
"Kalau begitu mulai saat ini panggil Tante dengan panggilan Mama dan Om Riko dengan sebutan Papa" pinta Dini.
Rihana menatap mereka bergantian.
"Papa Mama" ucap Rihana.
"Iya, mulai hari ini Om adalah Papa kamu dan Tante adalah Mama kamu sayang dan sebentar lagi kamu akan jadi Kakak" sambut Riko.
"Jadi ini Papa, ini Mama dan aku Kakak?" tanya Rihana meyakinkan.
"Iya, pintar sekali kamu" puji Dini sambil mencubit gemas hidung Rihana
"Oye... aku punya Mama agi cekayang. Aku uga punya Papa. Cebentay agi aku uga punya dedeek" teriak Rihana senang.
"Anak pintar" puji Riko.
Riko dan Dini tertawa bahagia.
.
.
BERSAMBUNG