Playboy Insaf

Playboy Insaf
Bertemu Tuan Dimas



Pukul 20.45 Rendy sedang bersantai di atas sofa empuk nya di ruang tamu. Pemuda itu sedang menunggu kedua asisten nya. Ditemani sebatang roko dan segelas cappucino hangat,Rendy terlihat tak sabaran.


"Kemana dua Idiot itu?,Aku sudah menunggu mereka selama satu jam." Gerutu Rendy sambil melihat jam tangan.


Rendy akhir nya tertidur di ruang tamu,karena sampai jam 10 malam Kedua Asisten nya tidak kunjung datang.


-


-


-


-


-


"Hoam...." Pukul 06.30 Rendy terbangun dari tidur nya. Pemuda itu melihat sekekiling dan tidak menemukan kedua Asisten nya. Namun dia menemukan satu lembar kertas.


"Apaan ini?," Rendy mengambil kertas itu,dan langsung membaca nya dengan teliti.


Hati nya geram,dan tangan nya mengepal. Setelah membaca kertas yang berisi informasi tentang Aldi,pemuda yang kemarin bercengkrama dengan gadis mungil nya.


"Ternyata dia (Aldi) adalah Cinta pertama Sindi sewaktu SMA,"


"Aku harus ekstra ketat menjaga Gadis Mungil ku dari penjahat kelamin seperti nya (Aldi)."


Rendy berencana mengawasi Gadis Mungil nya dengan ekstra ketat,bahkan Pemuda itu menyuruh kedua Asisten nya untuk mengganggu Aldi jika terlihat mendekati Sindi.


*


*


*


*


*


"Dia benar benar cari masalah." gumam Bimo saat melihat Gadis Mungil nya di dekati oleh Aldi. Bimo bergegas menghampiri mereka berdua yang baru saja duduk di Kafe.


Bimo terus melototi Aldi dengan tatapan membunuh,sampai Aldi merasa tidak nyaman ngobrol bersama Gadis incaran nya.


"Sin,gw duluan ya."


Aldi bangun dari duduk nya,Sindi heran melihat Ekspresi Aldi,karna Aldi terlihat ketakutan,lalu Sindi menoleh kebelakang,dia melihat Bimo sudah tersenyum ramah kepada nya. Sindi hanya menggeleng kan kepala,melihat tingkah aneh dua Pemuda yang berada di dekat nya.


"Sin,Gw boleh minta nomer Ponsel Elo yang bisa di hubungi?," Aldi sudah mengeluar kan ponsel nya.


"emm.. gimana ya?,"


Sindi bertingkah menggemas kan. Melihat tingkah laku Sindi,Aldi nyengir Kuda,dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal,karena dia juga sangat gemas melihat Ekspresi Sindi.


"Yaudah sini hp Elo." jawab Sindi,Aldi memberi kan ponsel nya kepada Sindi.


"Thanks," kata Aldi,setelah Sindi mengembali kan ponsel nya,Aldi langsung mengetik sesuatu.


"Itu nomer Gw Sin," Aldi memberi tahu.


"Ini udah Gw Save." Sindi memperlihat kan ponsel nya.


"Yaudah,Gw cabut dulu." Aldi meninggal kan Sindi sambil melambai kan tangan,lambaian tangan Aldi di balas oleh Sindi.


"Bodoh ! kenapa kau memberi kesempatan kepada penjahat kelamin itu ?!" batin Bimo kesal.


-


-


-


-


-


"Bim,kita ke Restoran Ayah." titah Sindi,


Gadis itu masih sibuk dengan ponsel nya. Bimo tidak menjawab,Pemuda itu terlihat sangat geram melihat Gadis Mungil nya chatingan bersama Aldi. Bimo yang sudah tidak kuat menahan api cemburu,dia langsung menasehati gadis nya.


"Nona,saran Saya Nona jangan terlalu dekat dengan nya. Teman Nona yang barusan bukan Lelaki baik baik." Bimo bekata tenang,meskipun hati nya panas. Mendengar perkataan Bimo yang menjelek-jelek kan Aldi,Sindi naik pitam,wajah nya sudah sangat marah.


"Kamu jangan so tau ! Aldi itu pemuda baik baik ! Aku jauh lebih tau dari pada Kamu!" Sindi berkata setengah berteriak.


"Saya hanya memberi saran kepada Nona,karena saya tidak mau terjadi apa apa terhadap Nona" Bimo masih dengan Ekspresi tenang.


"Ck,,sudah Bim,aku gk mau berdebat sama Kamu ! Aku harap Kamu sadar posisi Kamu!" jawab Sindi penuh penekanan. Mendengar jawaban Sindi,Bimo memilih diam,dan tidak


"Kau sungguh keras kepala."


*


*


*


*


*


Ceklek...


"Kenapa Tuan Dimas berada di sini?." Sindi melongo.


"Sindi,kenapa Kamu Nak?,kemari lah" Alfi melambai kan tangan nya agar Sindi mendekati Alfi.


"Jadi,ini Putri kamu Alfi?." Dimas pura-pura tidak tau.


"Iya Tuan,,,Sindi Perkenal kan ini Tuan Dimas Prastya,Ayah dari Tuan Rendy Prastya." Alfi menyuruh putri nya untuk memperkenal kan diri.


"Tanapa harus Ayah beri tahu,Aku sudah tau semua Keluarga Rendy Prastya." dalam hati Sindi


"Saya Sindi Tuan,,senang bisa bertemu dengan Anda," Sindi dengan senyum kikuk. Dimas melihat Alfi.


"Ternyata Putri mu sangat Cantik." pujian Dimas membuat Sindi semakin kikuk.


"Terima Kasih Tuan." jawab Alfi,Dimas beralih kepada Sindi.


"Nak Sindi kuliah,atau Bekerja?," tanya Dimas,


"Saya masih Kuliah Tuan," Sindi mencoba tenang.


"Kapan Nak Sindi Wisuda?," tanya Dimas,


"Kenapa malah nanya kesitu?,dan kenapa Tuan Dimas memanggil Aku Nak Sindi?." dalam hati Sindi,


"Kira-kira 2 atau 3 Bulan lagi Tuan." jawab Sindi tenang


"Semoga Nak Sindi jadi Lulusan Terbaik." Dimas memuji sambil memberikan senyuman.


"Terima Kasih Tuan." jawab Sindi,


"Kalau begitu,Saya undur diri." Dimas bangun dari duduk nya.


"Kenapa terburu buru Tuan?," Alfi mencegah.


"Saya masih ada urusan lain," Dimas mengambil Surat Undangan di dalam saku nya,


"Aku harap,Kalian bisa datang ke acara Pernikahan Putra ku Refan." Dimas memberi kan Undangan.


"Terima Kasih Tuan,akan Saya Usaha kan." Alfi mengambil Undangan,Dimas dan Alfi berjabat tangan,lalu Dimas pergi meninggal kan ruangan Alfi.


"Rendy tidak salah memilih calon istri" dalam hati Dimas


"Sejak kapan Ayah mengenal Tuan Dimas?," Sindi memasang wajah kepo.


"Panjang cerita nya," jawaban Alfi semakin membuat Sindi penasaran.


"Ayah main petak umpet sama Aku?," Sindi mencemberut kan bibir nya.


"Bukan gitu Sayang," Alfi duduk di kursi kebanggaan nya,Pria paruh baya itu melihat Sindi sedang bersidekap,seakan meminta kejelasan.


"Nanti juga kamu akan tahu. Sudah kamu makan dulu sana." kata Alfi sambil tersenyum,dan mengalih kan pandangan nya menuju Laptop.


Mendengar jawaban Ayah nya,Sindi semakin kesal. Gadis itu terus bergerutu kepada Ayah nya karna tidak di beri tahu.


"Apa Ayah akan menjodoh kan ku dengan salah satu Putra Tuan Dimas ?," Sindi sambil mengingat ketiga Putra Tuan Dimas,beserta karakter nya masing masing.


"Aaa.... No.. No.. No.. aku tidak mau dengan semua Putra Tuan Dimas.!" Sindi bergidig ngeri.


"Ya Tuhan,amit amit... amit amit... Mudah mudahan Jodoh ku bukan mereka." Sindi berekspresi Berdoa.


*


*


*


"Daddy,sedang apa Daddy di sini ?," tanya Bimo kepada Ayah nya dengan suara pelan. Dimas menghampiri Bimo.


"Semoga Kamu berhasil." Dimas menepuk pundak Bimo,lalu masuk ke dalam mobil meninggal kan Putra nya yang sedang bengong.


"Apa Daddy sering menemui Paman Alfi ?." Bimo menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Semoga gadis mungil itu tidak curiga kepada Daddy." Bimo menggeleng kan kepala,dan kembali menunggu Sindi di dalam mobil.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


BERSAMBUNG