
Dua hari berlalu, setelah melakukan meeting selama tiga hari akhirnya Romi dan clientnya berhasil mengambil kesepakatan. Perusahaan Romi akan melakukan proyek kerja sama di Surabaya.
Ela sudah berhasil menghitung rancangan dana yang akan mereka investasikan di perusahaan itu dan hasilnya sangat menguntungkan perusahaan Romi.
Romi sangat senang sekali karena selain urusan kantornya berhasil, urusan masa depannya pun maju pesat. Akhirnya selama di Surabaya dia hanya satu malam menginap di Surabaya. Selebihnya dia menginap di rumah Ela.
Hubungan Romi dengan kedua orang tua Ela juga sudah sangat dekat. Bapak dan Ibu Budi sudah sangat akrab dengan Romi.
Tibalah hari terakhir Romi dan Ela tinggal di Surabaya. Besok pagi mereka akan berangkat kembali pulang ke Jakarta. Jam dua belas siang tadi meeting terakhir selesai dan diakhiri dengan makan siang bersama.
Jadi hari ini mereka cepat balik ke rumah. sekitar jam dua mereka sudah berada di mobil dan sedang menuju ke arah rumah Ela.
"Pak Budi nanti tolong bilang sama Ibu gak usah masak makan malam. Saya mau mengajak keluarga Pak Budi untuk makan di luar" ungkap Romi.
"Serius Pak?" tanya Pak Budi terkejut dan tak percaya.
"Iya serius, masak saya mau main - main sama Pak Budi dan Ibu" jawab Romi.
"Oh iya nanti singgah sebentar ke Mall terdekat ya, ada yang ingin saya beli" perintah Pak Romi.
"Baik Pak" jawab Pak Budi.
Pak Budi menjalankan mobil menuju Mall yang searah dengan jalan pulang menuju rumahnya. Dan kini sampailah mereka di parkiran Mall tersebut.
"Kalian tunggu di sini saja sebentar. Saya mau beli sesuatu, gak lama kok" pesan Romi.
"Bapak yakin mau pergi sendiri?" tanya Ela.
"Yakinlah, saya kan bukan anak kecil yang takut kesasar Cishela. Lagian ada handphone kok, kalau ada apa - apa saya langsung hubungi kamu atau Pak Budi" jawab Romi.
"Baik Pak" jawab Ela dan Pak Budi bersamaan.
Romi keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu masuk kemudian dia berkeliling Mall. Romi melihat - lihat dan masuk ke beberapa toko yang ada di Mall tersebut.
Ini adalah malam terakhir dia di Surabaya Dia ingin memberikan bingkisan untuk Bapak dan Ibu Budi karena mereka sudah sangat baik beberapa hari ini menerima dia dengan baik di rumah mereka.
Tapi Romi bingung benda apa yang akan dia belikan untuk pasutri itu. Tiba - tiba Romi mendapat ide. Romi segera berjalan ke counter handphone dan membeli handphone untuk Pak Budi.
Romi ingat handphone Pak Budi handphone jadul dan tipe lama. Belum android lagi. Romi akan membelikan beliau handphone Android agar bisa nanti kalau kangen dengan Ela melakukan panggilan video call.
Romi bukan tidak ingin memberikan handphone mahal dan canggih untuk Pak Budi tapi dia takut Pak Budi tidak bisa menggunakannya. Dengan bantuan pelayan toko yang memilihkan handphone yang cocok untuk orang tua.
Hadiah untuk Pak Budi sudah dapat kini tinggal hadiah untuk Bu Budi. Romi bingung kalau membeli hadiah untuk Ibu - Ibu. Setelah berkeliling Mall akhirnya Romi memutuskan untuk membelikan Bu Budi tas.
Romi menyesuaikan dengan keadaan keluarga Ela. Bukan karena dia pelit dan tak ingin membelikan benda mahal tapi takutnya kalau Romi membeli tas yang terlalu mahal akan terlihat sangat mencolok dipakai di kampung.
Romi membelikan Bu Budi tas yang harganya tidak lebih dari dua juta. Tentu saja juga dengan bantuan pelayan toko yang memilihkannya. Romi sengaja memilih tas dengan desain yang sederhana dan warna yang umum agar Bu Budi bisa memakainya kemana saja.
Dari pada hadiahnya cuma disimpan dan dijadikan hiasan lebih baik Romi membeli barang yang kira - kira pasti akan dipakai oleh Bu Budi.
Setelah dua hadiah itu dia beli Romi kembali ke parkiran mobil tempat Pak Budi dan Ela menunggu.
"Maaf Pak lama menunggu ya" ujar Romi.
"Nggak kok Pak" jawab Pak Budi.
"Oke Pak kita bisa lanjut pulang" balas Romi.
Pak Budi menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Ela. Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Pak Budi.
Ela langsung berjalan menuju kamarnya sedangkan Pak Budi dan Pak Romi masih duduk - duduk di teras depan rumah.
"Besok pagi kami akan pulang Pak" ucap Romi.
"Iya Pak, tadi Ela sudah bilang juga sama saya. Katanya hari ini urusan kerjaan sudah selesai dan besok pagi jam sepuluh pagi akan kembali ke Jakarta" sambut Pak Budi.
Tak lama Bu Budi sudah menyediakan kopi untuk Romi dan Pak Budi. Hari ini Bu Budi membuat cemilan getuk.
"Makanan apa ini Bu namanya?" tanya Romi.
"Getuk Pak Romi" jawab Bu Budi.
"Iya" balas Bu Budi.
"Enak Bu.. enak banget. Cishela bisa juga buat ini?" tanya Romi.
"Bisa, dulu dia suka bantuin Ibu buatin ini waktu Ibu jualan" jawab Bu Budi.
"Wah bisa ini kalau nanti di Jakarta saya pengen makan ini saya tinggal minta buatin dia" ungkap Romi.
"Hahaha.. bisa.. bisa" balas Bu Budi.
"Bu nanti malam Pak Romi mau ajak kita makan diluar" ujar Pak Budi.
"Yang bener Pak Romi?" tanya Bu Budi tak percaya.
"Iya Bu" sambut Romi.
"Berarti Ibu gak usah masak malam ini ya Pak?" tanya Bu Budi.
"Iya Bu. Udah mau maghrib, yuk kita siap - siap, Pak Romi silahkan mandi biar kita shalat ke masjid" ujar Pak Budi.
Romi lebih dulu mandi setelah itu bergantian dengan yang lainnya. Malam harinya setelah pulang dari Mesjid Romi dan keluarga Pak Budi bersiap untuk makan malam di luar.
Pak Budi dan Romi duduk di depan sedangkan Ela dan Mamanya duduk dibelakang. Mobil berjalan menuju kota Surabaya.
"Kita makan dimana Pak?" tanya Pak Budi.
"Kita ke Restoran XXX" jawab Romi.
"Tapi Pak" ucap Pak Romi sungkan.
"Kenapa Pak, Bapak dan Ibu gak punya alergi makanan kan?" tanya Romi.
"Nggak Pak Romi tapi itu Restoran itu mewah sekali, keluar kami tidak pernah ma.. makan di sana" jawab Pak Budi sungkan.
"Gak apa - apa Pak, sekali - sekali Pak. Kata orang biar pernah aja" balas Romi.
Pak Budi melirik Ela yang ada dibelakang melalui kaca spion. Ela menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Pak Budi.
Pak Budi mengikuti perintah Romi, mobil meluncur menuju Restoran XXX. Mereka masuk ke dalam dan memesan makanan yang mereka inginkan.
"Cishela kamu aja yang pesan makanannya ya" ucap Romi.
"Baik Pak. Bapak mau makan apa?" tanya Ela.
"Kami aja yang pilih untuk kita semua. Apapun pilihan kamu aku pasti suka. Tapi ingat jangan pilih berdasarkan harga tapi pilin aja yang memang kamu dan Bapak, Ibu suka" perintah Romi.
"I.. Iya Pak" jawab Ela.
Ela kemudian memesan beberapa makanan untuk mereka santap malam ini. Sesuai intruksi Romi, Ela memesan makanan yang memang disukai Bapak dan Ibunya juga disukai Romi.
Beberapa hari tinggal dan dekat dengan Romi membuat Ela tau kalau Romi tidak pilah - pilih makan. Dia termasuk pria yang tidak rewel mau makan apapun pasti disantapnya.
Tak lama kemudian makan malam mereka selesai disajikan dan mereka segera menyantapnya. Sambil ngobrol seluruh makanan sudah selesai dinikmati.
Setelah selesai makan baru Romi mengeluarkan hadiah yang tadi sore dia beli.
"Pak, Bu besok saya dan Cishela akan kembali ke Jakarta. Beberapa hari ini saya sudah banyak merepotkan Bapak dan Ibu dan tinggal di rumah kalian. Oleh sebab itu saya ingin memberikan suatu kenang - kenangan kepada kalian karena kalian sudah sangat baik menyambut saya di rumah kalian. Saya harap kalian tidak melihat dari harganya tapi nilailah dari manfaatnya" ujar Romi.
Bapak dan Ibu Budi saling pandang kemudian Pak Budi lebih dulu yang menerima pemberian Romi baru setelah itu istrinya.
Mereka sama - sama membuka bungkusan itu dan sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.
"Pa.. Paaak Romi... i.. ini semua.. kami tidak pantas untuk menerima ini... " ucap Pak Budi.
.
.
BERSAMBUNG